Tampilkan postingan dengan label LAIN LAIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAIN LAIN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2016

RANGKUMAN KEBIJAKAN KEMDIKBUD BARU

0
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi nahkoda dalam menyusun segala kebijakan terkait pendidikan di Tanah Air. Kebijakan-kebijakan tersebut tentu bertujuan untuk memajukan pendidikan serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sayangnya, pergantian menteri dari masa ke masa cenderung identik dengan pergantian kebijakan. Hal ini tak jarang mengorbankan peserta didik. Berikut ini  beberapa kebijakan Mendikbud yang mendulang kontroversi di tengah masyarakat.

1. Full day school
Full day school saat ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat Indonesia. Konsep full day school merupakan gagasan dari Mendikbud Muhadjir Effendy yang belum genap sebulan menduduki jabatan tersebut. Meski masih berupa gagasan dan akan dikaji lebih mendalam, konsep full day school sudah banyak ditentang oleh berbagai pihak.
Beberapa alasan menolak alasan ini, yakni karena mengurangi waktu siswa berinteraksi dengan lingkungan luar sekolah, termasuk keluarga. Padahal, Mendikbud Muhadjir sendiri menegaskan, full day school bukan berarti belajar seharian, tetapi disertai dengan kegiatan-kegiatan positif yang sifatnya nonakademis.

2. Kurikulum 2013

Kurikulum merupakan pegangan bagi sekolah maupun siswa untuk menjalakan proses belajar mengajar. Pada era Mendikbud Mohammad Nuh, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 diganti dengan kurikulum 2013. Pergantian kurikulum ini pun menuai beragam pro dan kontra. Apalagi setelah diberlakukan secara masif pada 2014, tepat di akhir kepemimpinan M Nuh sebagai Mendikbud. Banyak pihak menilai, penerapan kurikulum 2013 terburu-buru meski Kemdikbud menggelar pelatihan massal bagi jutaan guru.
Polemik kurikulum 2013 tidak berhenti setelah pergantian menteri. Ketika Anies Baswedan didapuk menjadi Mendikbud baru, dalam kurun satu bulan menjabat, Mantan Rektor Universitas Paramadina ini memberi pembatasan terhadap penerapan kurikulum 2013. Saat itu, sekolah-sekolah diminta kembali menerapkan KTSP 2006 dengan alasan masih banyak sekolah belum siap terhadap kurikulum 2013. Padahal, saat itu buku-buku kurikulum 2013 sudah didistribusikan dan sudah diterapkan setengah tahun akademis oleh sekolah-sekolah se-Nusantara.

3. Hari pertama sekolah (HPS)

Meski tidak terlalu kontroversial, gerakan mengatar anak di hari pertama sekolah yang dicetuskan oleh Mantan Mendikbud, Anies Baswedan ini cukup mencuri banyak perhatian. Para orangtua yang bekerja pun sempat dibuat bingung terkait izin terlambat ke kantor karena harus antar anak terlebih dahulu.
Saat itu, Anies mengatakan, orangtua perlu terlibat dalam mengantar anak ke sekolah. Mereka juga harus berinteraksi dengan para guru sehingga tidak hanya di hari pertama sekolah. Gerakan tersebut kemudian turut didukung oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) dan perusahaan swasta lainnya sehingga orangtua tak perlu khawatir terlambat datang ke kantor masing-masing.

4. Uji kompetensi guru (UKG)

Kebijakan Mendikbud yang tak kalah menuai kontroversi di kalangan guru, yakni uji kompetensi guru (UKG). Tahun 2015, UKG diikuti oleh sekira tiga juta guru di seluruh Indonesia. Meski tes wajib ini dijamin tidak akan dijadikan sebagai tolok ukur kualitas guru, tak sedikit guru yang resah karena takut tak mampu meraih hasil maksimal. Pada masa Mendikbud dijabat Anies Baswedan, UKG digunakan untuk pemetaan kompetensi guru.


Read More »

Sabtu, 13 Agustus 2016

MAKNA PERINGATAN KEMERDEKAAN RI BAGI PELAJAR

0
Pelajar sekarang bisa bebas menggunakan dan mengisi waktu dengan belajar yang giat, sungguh-sungguh, orang tua kita atau kita tidak lagi manggul-manggul senjata, jenis dan bentuk perjuangan kitalah yang berbeda pada era sekarang.

Dulu kita berjuang dengan senjata sekarang kita sebgai pelajar berjuang dengan akal, pena kita untuk bisa mengisi kemerdekaan ini sebaik baiknya, mengemban amanah pengorbanan dan cita cita luhur para pejuang kita dahulu, yang ingin menegakan NKRI ini setegak tegaknya, kita sebagai pelajar berjuang untuk mengangkat harkat dan derajat, diri kita, orang tua kita, agama dan bangsa kita.

Peran generasi muda selalu mewarnai dalam setiap usaha – usaha untuk memerdekakan Bangsa Indonesia, seperti pada waktu ditinbas oleh Pemerintahan Kolonial Belanda yang memaksa Bangsa Indonesia unutuk nemyerahkan rempah – rempah kepada Belanda, peran serta generasi muda yang sudah muak terhadap penjajahan belanda melawan dengan mengadakan pemberontakan di beberapa wilayah seperti Maluku, Jawa, Bali, Blitar dan lain sebagainya.Hingga akhirnya Belanda terusir dari Indonesia.

Tetapi setelah itu, bangsa Indonesia kembali mengalami penindasan oleh pemerintah kolonial Jepang. Jepang menjajah sangat kejam waktu itu, harta kekayaan penduduk Indonesia dirampas habis-habisan. Untuk mengusir Jepang dari Indonesia, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Soepomo dsb berjuang secara sembunyi – sembunyi dan secara terang – terangan ( perang ). Hingga akhirnya Jepang mengalami musibah yaitu jatuhnya bom di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan kota nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.

Secara otomatis, kekuasaan di Indonesia kosong. Para generasi muda tidak menyia-nyiakan peristiwa itu, dan mendesak Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk segera merumuskan Proklamasi kemerdekaan, tetapi mereka menolak karena Jepang sudah berjanji untuk memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia, tetapi para pemuda tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dan menculik mereka ke Rengasdengklok untuk merumuskan naskah proklamasi di rumah Tentara jepang bernama jendral Terauchi dan akhirnya proklamasi kemerdekaan disuarakan pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 yaitu di rumah Soekarno.


Generasi muda zaman sekarang hidup dengan aman dan bebas tidak ada peperangan. Peran generasi muda, terutama pelajar, zaman sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang bersifat positif, misalnya patriot bangsa yang jarang diperhatikan publik seperti aktif di organisasi sekolah, seperti PMR, OSIS, Pramuka, Paskibra dsb. Mereka Patut dianggap sebagai patriot bangsa yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang positif.

Jadi kamu bisa menjadi patriot bangsa jika kamu bisa mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal yang positif dan berguna bagi Nusa dan Bangsa! MERDEKA..ALLAHU AKBAR..!!!
Read More »

Sabtu, 21 Mei 2016

ANAK ANIS BASWEDAN TIDAK MASUK DALAM (SNMPTN) 2016

0
Jakarta - Mendikbud Anies Baswedan bercerita tentang anaknya yang tidak lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016. Anies menyebut anaknya tidak lulus karena perbedaan kurikulum yang anaknya alami karena sempat melakukan pertukaran pelajar.

"Iya anak saya daftar SNMPTN enggak masuk. Bapakmya enggak ikut-ikut, saya (hanya) ikut nemenin daftar. Anak saya itu karena ganti kurikulum. Jadi dia kelas 1 dan 2 pakai kurikulum lama KTSP, lalu dia pergi pertukaran pelajar 1 tahun di Denmark. Ketika pulang, sekolahnya pakai kurikulum 2013, konversinya lain," ujar Anies di Hotel Grand Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2016).

Anies mengaku tidak mengupayakan sesuatu ketika anaknya tidak lulus SNMPTN. Ia memberi pesan pada anaknya untuk tetap menjadikan pelajaran hidup akibat kejadian ini.

"Tapi saya enggak usahain satu sama lain, biarkan saja dan biarkan itu jadi bagian dari pelajaran hidup. Hidup itu penuh naik dan turun. Saya katakan kepada dia belajar lagi sekarang, belajar all out ikuti ujian. Masih ada dua kesempatan," kata Anies.

Dia lalu menambahkan cerita tentang dirinya yang juga tidak lolos tes serupa, ketika itu namanya adalah PMDK. Tetapi Anies tak patah arang begitu saja dan mengikuti tes UMPTN (sekarang SBMPTN, -red), sehingga ia diterima di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM tahun 1989.

"Insya Allah, jika kerja keras bisa lulus ujian seleksi nanti," tutur Anies.

Ia juga mengimbau kepada anak-anak dan orang tua untuk tidak putus asa akibat tidak mendapatkan kampus yang diidamkan. Ia menyebut masih ada kesempatan lainnya seperti SBMPTN dan ujian mandiri.

"Masih banyak kesempatan dan katanya kalau mereka berprestasi insya Allah daftar seleksi SBMPTN itu lulus," ujar Anies.

Sementara itu, tak satupun dari 380 siswa IPA reguler SMAN 3 Semarang lolos SNMPTN. Sebaliknya siswa IPS dan IPA Akselerasi lolos. Mendikbud Anies Baswedan menyebut masalahnya bukan di SKS, tetapi ada faktor lain.

"Di SMA yang sama sekolah yang jurusan IPS enggak masalah. Berarti masalahnya enggak di SKS. Berarti ada faktor lain. Saya ingin membantu meluruskan saja cara kita mencari kesimpulan. Kalau karena sistem itu buktinya ada sekolah lain yang bisa," ujar Anies.

Anies menyebut ada 50 sekolah yang pakai sistem SKS, dari 50 ada 7 sekolah yang pakai sistem SKS di Jateng. Dalam pelaksanaan SNMPTN ini sekolah diharuskan memiliki database siswa hingga riwayat nilai rapornya dan mengunggahnya ke sistem yang dinamakan Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) online.

Tidak lulusnya siswa SMA 3 Semarang jurusan IPA disebut akibat ada nilai yang tidak terisi di sistem PDSS. Anies sangat menyayangkan hal tersebut. Anies berharap sistem itu bisa mengatur data yang belum lengkap.

"Menurut saya sistemnya itu kasihan anak-anak kalau memang harus diisi lengkap. Harusnya kalau belum lengkap ya enggak bisa submit dong. Kan kasihan mereka belum lengkap enggak bisa disubmit. Yang terjadi sekarang kan panitia mengatakan data enggak bisa disubmit. Anak-anak kasihan," ungkap Anies.

Sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah SMAN 3 Semarang bidang Kurikulum, Emmy Irianingsih menjelaskan Sistem Kredit Semester (SKS) dengan pola discontinue yang artinya mata pelajaran disetting on atau off pada semester tertentu. Sistem ini dilaksanakan sejak 2012.

Pola SKS tersebut yaitu dibuat empat seri yang dikembangkan untuk 5 atau 6 semester, sehingga mata pelajarannya dibagi. Jika dalam satu semester tidak ada mata pelajaran misalnya Kimia, maka statusnya off.

"Bukan nilainya yang kurang, memang mata pelajarannya tidak muncul karena off, jadi munculnya misal di semester 1, 3, 4, dan 6," terang Emmy.

Menurut Emmy, nilai yang kosong di PPDS online adalah mata pelajaran yang statusnya off. "Yang off itu (yang kosong), karena memang tidak ditempuh misal Kimia di semester 3. Karena off mata pelajaran tidak muncul di setiap semester," pungkas Emmy.


(jor/jor)
Read More »

Sabtu, 07 Mei 2016

PESAN MENDIKBUD PADA HARDIKNAS 02 MEI 2016

0

Setiap Tahun pada tanggal 02 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, Sejarahnya sendiri, makna dan pemikiran pemikiran lainnya banyak sekali ditulis oleh mereka yang memang mau berbagi, baik itu di media offline, maupun online.
 Dan memang jika kita kaji bersama makna dari hari pendidikan tersebut sangatlah luas, pada peringatan HARDIKNAS 02 Mei 2016 tahun ini Mendikbud Anis Bawesdan menyampaikan pidatonya berikut kutipannya;

Menjelang Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kantor Kemendikbud, Senayan Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bapak Anies Baswedan menyampaikan pesan kepada para pelajar. Beliau menuturkan : "Pendidikan di Indonesia mari kita syukuri perkembangannya, kita perbaiki kekurangannya. Saya mengajak sapalah pendidikmu, sapalah gurumu, ucapkan terima kasih,". "Sering kali kita lupa mensyukuri maka mari bersama kita syukuri. Dengan kita berkumpul di sini, ini satu bukti keberhasilan pendidikan kita," demikian lanjut Beliau. Mendikbud mengajak semua pihak untuk tidak memandang sebelah mata kemajuan pendidikan Indonesia, bahwa banyak pelajar hingga pendidik yang terkadang lupa bahwa sistem pendidikan Indonesia terus berkembang.

Walaupun harus diakui bahwasannya masih ada kekurangan dan masih banyak hal yang harus di benahi, mulai dari mutu pendidikan hingga system pengajaran. Dikatakan, "Kita harus akui kita juga ada kekurangan. Pertama akses, kita butuh lebih banyak lagi sekolah menengah atas karena banyak putus sekolah di situ,". Mutu sekolah dan tenaga pendidik di Indonesia juga dinilai perlu untuk ditingkatkan. "Kalau gurunya baik, anaknya juga pasti akan jadi baik” demikian pungkas beliau. (Andik Purwanto/Herman Setiawan/Jaka Sutrisno)
Read More »

Rabu, 17 Februari 2016

TITIK KOORDINAT PONTREN HIDAYATUS SAALIKIN DESA PEMBUANGHULU-KECAMATAN HANAU - SERUYAN

0
Pontren Hidayatus Saalikin yang berada di Desa Pembuang Hulu Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, berada pada Latitude -2.508250, Longtitude 112.178972, atau berada pada 2°30'29.7"S ( Lintang Selatan )112°10'44.3"E ( Lintang Timur ) ketentuannya adalah :

1 derajat bujur/lintang = 111,322 km (diambil garis terpanjang yaitu equator)
1 derajat bujur/lintang = 60' (menit) = 3600" (detik)
1 menit bujur/lintang = 60" (detik)
1 menit bujut/lintang = 1.8885,37 meter
1 detik bujut/lintang = 30, 9227 meter

Darimana angka koordinat tersebut muncul..??? Data sekolah sekarang diminta untuk menampilkan titik titik tersebut. Kejelian dari team TIK ( Guru TIK/Operator ) sekolah untuk mensucribe data sekolah tersebut sangat diperlukan, melalui Google maps, sehingga data sekolah bisa diketahui publik yang kedepannya dapat digunakan sebagai data yang diperlukan sekolah dan instansi.

Memang butuh waktu untuk mendapatkan data tersebut karena akan di crawling dulu oleh search engine..baik itu content web ( operator/TIK Sekolah) harus mampu bermain dan ramah dengan SEO ( Search Engine Optimising )...feed content tidak mengenal gratisan atau domain berbayar..:) karena yang di crawl adalah content jadi rajin rajinlah untuk nge-ping web biar afdhol di search engine, ( Google, Yahoo, MSN, dll ).

Dan Informasi data bukan dinilai dari domain gratis atau berbayar, tapi bagaimana mengemas satu domain..kelebihan yang berbayar hanya keleluasaan saja untuk ber-PHP, misanya dan membuat fiture fiture yang tidak mungkin di domain yang gratisan, kalau urusan content mah sama tergantung dari yang mengelola..

semoga berguna





Read More »

Kamis, 11 Februari 2016

HATI HATI MODUS PENIPUAN DALAM KEPENDIDIKAN

0
Siapa yang tidak akan gembira dan bangga jika mendapat undangan yang salah satu pengisinya adalah Mentri Pendidikan, dengan iming iming peserta terbatas karena hanya yang terpilih saja dari  seluruh Indonesia yang mengikuti program tersebut.
Kali ini yang datang berlogo BAN ( Badan Akreditas Nasional ), Dengan dalih akan mengadakan BIMTEK Akreditas online.

Ketika mendapatkan email masuk seperti ini ke sekolah, alangkah lebih baiknya jika mengadakan "Cross Check", karena setidaknya jika ada acara acara berskala besar pasti akan ada tembusan kepada instansi Daerah terkait, baik itu Dinas Pendidikan Daerah atau setingkat UPTD.

Pesatnya perkembangan IPTEK, dipakai juga oleh mereka yang memang berniat tidak baik, dengan cara yang tidak baik, penipuan misalnya, bisa semacam begini ataupun yang lainnya iming iming beasiswa misalnya..
dan umumnya mereka akan menyatakan "Meminta Kesiapan No Rekening".


Langkah yang sebaiknya diambil, jika mendapatkan email email atau SMS seperti ini adalah;

1. Lakukan Cross Check dengan Dinas/Instansi Daerah Terkait ( via telpon misalnya ), tentang kegiatan yang tertera di sms mereka atau di email yang kita dapat.
2. periksa alamat pengirim email tersebut, karena untuk sekelas instansi instansi besar "tidak akan mungkin memakai email-email gretongan ( gmail, yahoo, msn, dsb ) mereka pasti memakai Domain resmi instansi mereka sendiri. Misal nama@kemdikbud.go.id , nama@bansm.or.id, masa iya sekelas kemdikbud atau ban pake gmail atau yahoo..he he he
3. Didalam isi surat mereka ( Jika penipu ) hampir selalu bisa dipastikan ada embel embel No Rek, yang ujung ujungnya anda akan dituntun untuk mentrasfer sejumlah uang pada mereka.
4. Coba googling akan kegiatan yang diselenggarakan instansi karena jika ada program pastinya akan mereka tulis schedulenya dalam acara mereka di situs resmi mereka. Dan  banyak user yang sudah berbagi informasi pula di internet tentang hal hal yang bersangkutan sehingga kita bisa mendapatkan kejelasan informasi.

Semoga Berguna..amin..



Read More »

Minggu, 03 Januari 2016

METODE PEMBELAJARAN DENGAN SISWA YANG LEBIH AKTIF

0

Metode belajar yang dapat mendukung perkembangan kecerdasan majemuk yaitu metode belajar aktif.Dengan pendekatan kecerdasan majemuk, setiap anak diakui memiliki kecerdasan yann teridiri dari sembilan aspek dengan pola yang berbeda-beda.

Menurut Trianto (2010: 53) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran yang dilakukan di Indonesia bahkan dunia ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan oleh para pengajar sehingga dalam proses pembelajaran diharapkan mampu mencapai hasil yang diharapkan.

Menurut teori Howard Garder, sembilan aspek kecerdasan tersebut terdiri dari kecerdasan verbal-linguistic, logika-matematika, visual-spasial, kinestetik tubuh, musical ritmis, interpersonal, intrapersonal, alam dan moral.metode belajar aktif ialah metode belajar dengan proses penguasaan materi yang memungkinkan para siswa melakukan kegiatan.

Jadi belajar aktif, anak-anak juga melakukan segala sesuatu. Ketika guru berhadapan dengan anak, maka anak yang diharapkan meningkatkan diri,Kemudian, proses belajar dilakukan dua arah, tidak hanya guru yang memberikan materi. Lalu para siswa diharapkan dapat mempraktekkan materi yang sedang dipelajari.

Komunikasi dua arah antara anak dengan guru atau orangtua penting dilakukan dalam metode belajar aktif. Beri kesempatan anak untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan atau inginkan.Dalam penerapan metode belajar aktif yang benar, siswa dan guru sama-sama aktifnya.Metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM (pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya dikalangan praktisi pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik.

Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan,Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan.

Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll. Dua metode diatas mempertimbangkan aspek a. Gaya belajar siswa b. Taksonomi pembelajaran c. Kecerdasan majemuk Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat anak mau menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.

Guru sebagai…….
* merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.
* membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama)
* membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
* Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang
* Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)
* Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek
* Membuat portfolio pekerjaan siswa.
* merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.
* membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama)
* membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
* Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang
* Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)
* Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek
* Membuat portfolio pekerjaan siswa.

Siswa menjadi …….
* menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
* melakukan riset sederhana
* mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang.
* memecahkan masalah (problem solving),
* belajar mengatur waktu dengan baik,
* melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)
* mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action.
* Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan, mendengarkan guest speaker)
* Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok
Read More »

Senin, 28 Desember 2015

GURU ADALAH PANGGILAN HATI

0
Bagi yang di era 80-90 an bait syair lagunya Iwan Fals ini sangatlah populer, hingga kinipun lagu tersebut masih enak untuk didengarkan, bahkan judul lagunya bahkan judul lagunya yaitu "Umar Bakri" menjadi julukan bagi para guru waktu itu atau juga masih sampai sekarang.

"..Tas hitam dari kulit buaya, Selamat pagi berkata bapak Umar Bakri, Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali
Tas hitam dari kulit buaya, Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti, Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu, Laju sepeda kumbang dijalan berlubang, Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang,Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang ....."

Sebelum era sekarang kehidupan guru bisa dibilang sangat sangat sederhana ya PNS nya juga swastanya, sangat jauh sekali apresiasi yang diberikan pemerintah belakangan ini terutama kepada guru guru PNS, wajar sekali mengingat pengabdian mereka yang tulus untuk mencetak kader kader bangsa ini.

Tidak dipungkiri pula masih banyak guru guru yang notabene mengajar dipelosok pelosok dan bukan PNS belum terlirik oleh Pemerintah, sehingga kesejahteraa mereka bisa dibilang minim.

Namun bukan berarti keterbatasan berakibat pula pada keterbatasan pemberian pelayanan yang baik, semuanya kembali kepada niat, banyak sekali contoh contoh yang dikemukakan kepada kita mengenai mereka yang telah tulus ikhlas untuk berbagi, walau ada dalam keterbatasan sarana.

Dalam bahasa Sansekerta guru yang juga berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam agama Hindu, Gu artinya gelap, Ru artinya mengusir. Menurut ajaran ini guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Jadi secara etimologis dapat dikatakan jika guru artinya mengusir gelap dengan pengetahuan atau wawasan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

McLeod, (1989). Salah satu tokoh pendidikan, berasumsi bahwa guru adalah seseorang yang pekerjaanya mengajar orang lain. Kata mengajar dapat kita tafsirkan misalnya :Menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif). Melatih ketrampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik). Dan menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif). Dalam proses pendidikan, guru menempati posisi penting dan sentral. Berhasil tidaknya proses transfer ilmu (kepada anak didik) dalam kegiatan belajar mengajar ditentukan salah satunya oleh guru. Oleh karenanya peran besar guru harus ditopang dengan kinerja dan pengetahuan serta kreativitas yang dimiliki guru itu sendiri.

Dalam realitasnya, profesi guru banyak menjadi alternatif terakhir ketika pekerjaan lain tidak bisa didapatkan. Sehingga profesi yang dipilih dengan tujuan agar tidak menganggur dan mengisi waktu tersebut berimbas besar pada kualitas dan kinerja guru. Menjadi guru, bukan hanya perihal mengajar dalam kelas, kemudian lepas tanggung jawab di luar kelas. Guru bukan hanya bisa mengajar, tapi juga harus mampu mendidik siswanya. Guru yang baik adalah guru yang mampu mendidik murid-muridnya bersikap dewasa, memiliki nilai individualitas, moralitas, dan sosialitas dalam kehidupan.

Dan jika seorang guru yang berlandaskan pada dasar UNTUNG DAN RUGI" tidak akan pernah berbuat berdasarkan nurani dan tanggung jawab moril sebagai pengemban Amanah, apalagi jika perhitungannya sudah pada kebendaan ( profit oriented ). Banyak hal hal yang tidak akan pernah bisa share secara lebih maximal disamping contoh tersebut.


Menjadi guru dengan panggilan hati, pasti akan menjadikan seorang guru tersebut mencintai pekerjaannya. Sehingga, tidak mengajar dengan setengah hati. Bagi guru yang bermental sepenuh hati, mengajar adalah panggilan jiwa untuk memberikan pengetahuan dan semangat kepada anak didiknya. Sedangkan, bagi yang bermental separuh,  menjadi guru hanya perihal menerima gaji di awal bulan dan tidak berkeinginan untuk mengembangkan dirinya untuk memberikan perubahan dan pencerahan kepada anak didik dan masyarakatnya
Sesungguhnya, menjadi guru adalah sebuah misi yang penuh dengan moralitas dan idealitas. Menjadi guru harus punya  panggilan hati  untuk mendidik,  panggilan untuk merubah dan mencerahkan. Menjadi guru haruslah  lahir dari idealisme, dari dasar batin untuk mendidik anak-anak bangsa. Tanpa adanya panggilan hati,  perbuatan mendidik anak bangsa,  hanya ibarat tugas pokok rutinitas . Guru yang mengajar tidak berlandaskan  panggilan hati, hanya bekerja setengah-setengah dan asal-asalan. Ilmu yang diajarkan dan tingkah laku yang ditunjukkan  guru pada anak didik, sebenarnya, muncul dari hati nurani yang dalam.
Seorang guru ataupun calon guru, haruslah wajib menyadari posisi dan pekerjaannya sebagai amanah, tugas suci, dan misinya sangat sakral. Jadilah guru dengan panggilan hati, yang  lebih mengutamakan pengabdian tulus, tanpa syarat,  tidak dengan embel-embel materi. Sebab, jika pengabdian seorang guru dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, akan memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan transfer ilmu kepada anak didiknya. Dengan ketulusan hati, seorang guru akan dapat menjadi penuntun jalan bagi anak didiknya, sebagai pengarah kepada proses pencerahan umat manusia. Karena sejatinya,  guru merupakan penggerak dan penuntun jalan  agar anak didik dapat menjadi manusia seutuhnya, lahir dan batin, rohani dan jasmani, dunia dan akhirat dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusian .Walaupun gelar yang terpatri padanya adalah “pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. dengan julukan "Umar bakri"

Bagi seorang muslim apalagi ditambah dengan keyakinan bahwasannya ada tiga perkara yang akan dibawa sebagai bekal nanti :

Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariah,atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuknya." (Hadith Sahih - Riwayat Muslim dan lain-lainnya)
Read More »

Pembelajaran Scientific Learning

0



Pembelajaran dengan metode saintifik dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), mengajukan pertanyaan atau merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Penerapan metode saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya peserta didik atau semakin tingginya kelas peserta didik.

Kesesuaian dengan Teori Belajar Metode saintifik sangat relevan dengan tiga teori belajar yaitu teori Bruner, teori Piaget, dan teori Vygotsky.
a. Teori Belajar Bruner
Teori belajar Bruner disebut juga teori belajar penemuan. Ada empat hal pokok berkaitan dengan teori belajar Bruner (dalam Carin & Sund, 1975). Per¬tama, individu hanya belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya. Kedua, dengan melakukan proses-proses kognitif dalam proses penemuan, peserta didik akan memperoleh sensasi dan kepuasan intelektual yang merupakan suatau penghargaan intrinsik. Ketiga, satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memiliki kesempatan untuk melakukan penemuan. Keempat, dengan melakukan penemuan maka akan memperkuat retensi ingatan. Empat hal di atas adalah bersesuaian dengan proses kognitif yang diperlukan dalam pembelajaran menggunakan metode saintifik.
b. Teori belajar Piaget
Berdasarkan teori Piaget, belajar berkaitan dengan pembentukan dan perkembangan skema (jamak skemata). Skema adalah suatu struktur mental atau struktur kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah berhenti berubah, skemata seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang dewasa. Proses yang menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan adaptasi. Proses terbentuknya adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan stimulus yang dapat berupa persepsi, konsep, hukum, prinsip ataupun pengalaman baru ke dalam skema yang sudah ada didalam pikirannya. Asimilasi terjadi jika ciri-ciri stimulus tersebut cocok dengan ciri-ciri skema yang telah ada. Apabila ciri-ciri stimulus tidak cocok dengan ciri-ciri skema yang telah ada maka seseorang akan melakukan akomodasi.

Akomodasi dapat berupa pembentukan skema baru yang dapat cocok dengan ciri-ciri rangsangan yang ada atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan ciri-ciri stimulus yang ada. Dalam pembelajaran diperlukan adanya penyeimbangan atau ekuilibrasi antara asimilasi dan akomodasi. Bila pada seseorang akomodasi lebih dominan dibandingkan asimilasi, maka ia akan memiliki skemata yang banyak tetapi kualitasnya cenderung rendah. Sebaliknya, bila asimilasi lebih dominan dibandingkan akomodasi maka seseorang akan memiliki skemata yang tidak banyak tapi cenderung memiliki kualitas yang tinggi. Keseimbangan atau ekuilibrasi antara asimilasi dan akomodasi diperlukan untuk perkembangan intelek seseorang menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Piaget (dalam Carin & Sund, 1975) mengemukakan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi kecuali peserta didik dapat beraksi secara mental dalam bentuk asimilasi dan akomodasi terhadap informasi atau stimulus yang ada di sekitarnya. Bila hal ini tidak terjadi maka guru dan peserta didik hanya akan terlibat dalam belajar semu (pseudo-learning) dan informasi yang dipelajari cenderung mudah terlupakan. Proses-proses kognitif yang dibutuhkan dalam rangka mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip dalam skema sesorang melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan yang terdapat dalam pembelajaran dengan metode saintifik selalu melibatkan proses asimilasi dan akomodasi. Oleh karena itu, teori belajar Piaget sangat relevan dengan metode saintifik.

c. Teori belajar Vygotsky Vygotsky mengemukakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada dalam zone of proximal development daerah terletak antara tingkat perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. (Nur dan Wikandari, 2000:4).

Teori Vygotsky dalam kegiatan pembelajaran juga dikenal apa yang dikatakan scaffolding (perancahan), dimana perancahan mengacu kepada bantuan yang diberikan teman sebaya atau orang dewasa yang lebih kompeten, yang berarti bahwa memberikan sejumlah besar dukungan kepada anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesem¬patan kepada anak itu untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu melakukannya sendiri. (Nur, 1998:32).
Karakteristik Pembelajaran dengan Metode Saintifik
Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. berpusat pada peserta didik.
2. melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip. 3. melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
4. dapat mengembangkan karakter peserta didik.

Tujuan Pembelajaran dengan Metode Saintifik
Tujuan pembelajaran dengan metode saintifik didasarkan pada keunggulannya. Beberapa tujuan pembelajaran dengan metode saintifik adalah untuk:
1. meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
2. membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
3. menciptakan kondisi pembelajaran dimana peserta didik merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebu¬tuhan.
4. diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
5. melatih peserta didik dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
6. mengembangkan karakter peserta didik.

Prinsip Pembelajaran dengan Metode Saintifik Beberapa prinsip pembelajaran dengan metode saintifik, yaitu:
1. pembelajaran berpusat pada peserta didik
 2. pembelajaran membentuk students’ self concept
3. pembelajaran terhindar dari verbalisme
4. pembelajaran memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip
 5. pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir peserta didik
 6. pembelajaran meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan motivasi mengajar guru
7. memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melatih kemampuan dalam komunikasi 8. adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi peserta didik dalam struktur kognitifnya.
Read More »

Sabtu, 26 Desember 2015

HUKUMLAH PESERTA DIDIK DENGAN CARA YANG MENDIDIK

0
JawaPos.com SAMPIT – Abdul Rahmad (26), ustaz di Pondok Pesantren Darul Amin, Jalan HM Arsyad, Sampit dijatuhi hukuman satu tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri sampit, Rabu (30/9).

Hakim yang dipimpin Alfon menyebutkan perbuatan terdakwa melanggar pasal 80 ayat (1) sebagaimana dimaksud dalam pasal 76C UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak...Selengkapnya..


Pondok Pesantren, Sekolah, Lembaga Pendidikan bukanlah Camp Militer, pendidikan Militer jelas sangat jauh berbeda untuk sebuah pembentukan karakter, juga bukan Terali Besi atau kehidupan jalanan dimana "yang kuat atau punya wewenang dia yang berkuasa".

Setiap orang terlahir dengan keadaan yang berbeda, dan itu sunatulloh ada yang nakal ada yang baik, ada siang ada malam, ada guru ada murid dan sebaginya. Justru nilai si Pendidik akan kelihatan kualitasnya ketika dia bisa mengarahkan, dan dengan sabar bisa merubah karakter ke arah yang diharapkan oleh hukum Allah Ta'ala, juga hukum Negara.

Puluhan siswa atau mungkin ratusan yang ada di lembaga terdiri dari berbagai karakter, sikap dan sifat, yang akan jadi ujian buat seorang Pendidik untuk membinanya.

"Takut berbeda dengan segan dan hormat", Ketika seseorang merasa segan atau hormat, misalnya ketika dipandang dengan tatapanpun dia akan menunduk dan malu, jauh sekali dengan takut, ada istilah "baik di depan saya kalah tapi tunggu nanti di belakang", " tunggu nanti pembalasan saya, kalau ketemu di luar"..dan sebagainya.

Yang muncul bukannya hasil dari sebuah pendidikan melainkan kebencian dan dendam.Bukankah Rasululloh saw sendiri berda'wah dengan Ahlaknya..? Beliau saw contohkan dengan kepribadiannya yang luhur, sehingga orang orang merasa segan, hormat dan mencintai Baginda Rasululloh saw. 


ud'u ila sabili robbika bil hikmah wal mau'idhotil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan inna robbaka huwa a'lamu bi man dholla 'an sabilih wa huwa a'lamu bil muhtadin

Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
(QS 16 An Nahl ayat 125)

Bunyi pasal 19 UU Perlindungan Anak : Setiap anak berkewajiban untuk : 1. menghormati orang tua, wali, dan guru; 2. mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; 3. mencintai tanah air, bangsa, dan negara; 4. menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan 5. melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.
Disitu tertera kewajiban kewajiban anak, lalu pertanyaannya jika si anak ( peserta didik) melanggar pasal tersebut hukuman apa yang harus diberikan..? apa sanksinya buat anak..? dan sebaginya.

Yang jadi permasalahn adalah "hukuman yang diberikan pada peserta didik" tentunya bukan dengan kekerasan, namun ada metode - metode lain yang jauh bisa lebih mendidik dan membuat siswa segan, respect, hormat, bukan ayunan tangan, bukan pukulan rotan atau benda keras, bukan tendangan, bukan tinju yang melayang ke perut atau muka, dan sebagainya.

Kenapa tidak ketika satu siswa melanggar setelah diberikan teguran, dia kembali mengulang, lalu berikan hukuman misalnya, seorang siswa telat sholat berjama'ah, tanykan dulu alasannnya kenapa, bukannya langsung menghukumnya, lalu dia mengulangnya dan memang dia termasuk siswa/santri yang agak bandel kenapa gak di coba dihukum "kamu hafalin surah arrahman dalam seminggu harus bisa" misalnya..akan jauh lebih bermanfaat dari pada pukulan rotan.

Dan sekali lagi Wibawa dan kharisma seorang guru dimata peserta didik juga menentukan, siswa A,B,C dan seterusnya akan sangat berbeda memandang personality setiap guru, mereka akan punya asumsi masing masing.

Artinya ada feedback atau timbal balik juga, ketika guru bisa menampakan citranya, maka otomatis rasa segan akan ada pada peserta didik, tidakj perlu kok dengan ayaunan tangan, pukulan dengan benda keras atau bentuk bentuk hukuman fisik lainnya ketika seorang pendidik punya wibawa di mata peserta didiknya.

Tidak dipungkiri bahwa ada beberapa kasus yang memang lebih dari pada di pendidikan umum, misalnya orang tua sudah kewalahan akan anak tersebut, di sekolahan umumpun dia sulit diterima, sering bolos, berantem melulu atau mungkin kena narkoba, yang akhirnya Pesantrenlah sebagai alternatifnya, penangan khusus dan pendekatan lebih mendalam sangat diperlukan untuk menangani masalah ini.


Zaman sudah berubah, para guru juga harus mengikuti perkembangan dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya, salah satunya dalam memberikan hukuman. Sudah tepatkah sebagai guru hanya sekedar memberi hukuman dengan acuan agar anak jera dan kapok saja? Itu sudah model kedaluwarsa. Model mengkapokkan anak tidak lagi manjur. Anak-anak zaman sekarang sudah tidak takut, tidak menjadi jera, tidak menjadi tobat karena hukuman yang tidak tepat sasaran. Efek tidak baik yang timbul dengan hukuman yang tidak mendidik lainnya adalah mental siswa yang akan merasa dipojokan oleh guru.

Kalau zaman gurunya dulu, 30 – 40 tahun yang lalu, memang rata-rata anak zaman itu menjadi takut dan segera rajin serta berubah perilakunya dengan hukuman tulisan berulang. Kalau anak sekarang, hukuman macam itu hanya akan membuat anak memberi cap buruk pada si guru, benci pada guru tersebut dan menjadikannya makin malas belajar. Meskipun itu diberlakukan pada anak usia SD.

Mereka sudah paham dengan hukuman yang tidak jelas tujuannya apa. Mereka bisa berpikir juga, apa iya dengan disuruh menulis berkali-kali menjadikan ingat dan ulangannya langsung bagus, apalagi dengan hukuman fisik yang kelewatan? Apa iya karena takut mendadak ia rajin belajar dan ulangannya menjadi bagus? Anak-anak tidak lagi berpikir demikian, anak-anak sekarang lebih suka “diorangkan”, diperlakukan secara manusiawi dan humanis.

Sistem pengulangan, tanpa disertai pengertian dan pendekatan personal takkan mencapai sasaran perubahan perilaku belajarnya. Justru memicu perilaku berontak, menyalahkan dan kebencian pada si guru. Meskipun di depan guru dia sok penurut. Hukuman yang kreatif dan memberdayakan Menjadi guru itu tidak gampang, meskipun mengajarkan materi yang gampang.

Penerimaan setiap murid bisa berbeda-beda, daya serap dan gaya belajar setiap murid juga berbeda-beda. Mengenali murid satu-persatu tidak memungkinkan bagi kebanyakan guru.

Mereka yang sedikit kurang inilah yang membutuhkan perhatian tidak biasa. Mereka membutuhkan pengajaran yang lebih jelas, waktu lebih lama untuk dapat memahami suatu materi pelajaran. Beberapa anak seperti ini apabila diperlakukan sama rata dengan anak-anak yang mampu akan kedodoran dalam menyerap pelajaran. Murid-murid seperti ini tak cukup diajar saja, mereka butuh penjelasan lebih, butuh dimotivasi, butuh pendampingan dalam mengerjakan soal, butuh hukuman dan hadiah.

Sebagai guru harus pandai-pandai mengatasi anak-anak seperti ini, bukan sekedar menghukum kalau mereka salah, dan mengabaikan di saat mereka bertanya, lalu acuh tak acuh di saat mencapai nilai yang sedikit bagus. Sebagai guru, tentunya juga pernah menjadi murid.

Pada saat menjadi murid tentunya juga pernah mengalami kesulitan belajar. Bagaimana kita berupaya mengatasinya? Bagaimana rasanya bila di saat itu kita tidak “diorangkan”? Itulah dasar dalam menyikapi murid-murid dalam belajar. Sehingga sebelum memberi hukuman pada anak didik, perlu bagi guru untuk memikirkan apakah hukuman ini akan memberi dampak positif bagi anak yang bersangkutan? Ada banyak hukuman kreatif yang dapat memberdayakan, antara lain : Memberi anak waktu tambahan pelajaran untuk memberi penjelasan lebih dan mengenali kesulitan anak.

Memberi tugas mengerjakan soal-soal yang hasilnya akan mendapat nilai, sebagai tambahan nilai yang kurang. Memberi tantangan berupa kuis yang ada hadiahnya. Memberi tugas membuat rangkuman. Memberi hadiah pada anak-anak yang nilainya mengalami lompatan nilai tertentu. Memberi konseling atau dialog untuk mencari tahu, kesulitan yang dialaminya dengan disertai pemberian tugas yang dipantau. Ada banyak guru yang menjadi favorit para muridnya karena mereka adalah guru-guru yang mau memperlakukan para murid secara manusiawi.

Oleh sebab itu guru-guru dengan sikap otoriter tak lagi mendapat tempat di hati murid. Murid-murid yang diperlakukan secara humanis dan ada pendekatan personal atas masalah belajarnya biasanya justru makin respek dan timbul semangat belajarnya.

Dengan cara ini justru lebih mudah bagi guru untuk membantunya mengatasi masalah belajarnya. Memberi pengertian dan pengajaran yang tepat lebih bermanfaat daripada pengulangan yang melelahkan, membosankan dan membuat anak menjadi jengkel serta tak jelas juntrungannya. Sebisa mungkin tidak memberi hukuman, bila memang diperlukan berilah pembinaan. Mengenali murid dengan kelebihan dan kekurangannya secara baik akan memudahkan guru dalam menangani masalah anak yang bersangkutan. Hukuman yang memberi efek positif adalah ketika murid justru bersyukur gurunya memberikan hukuman tersebut padanya, sebab tanpa adanya hukuman itu, ia tak akan berubah menjadi lebih baik.

Bukan tidak mungkin pula tindakan otoriter Pendidik akan terus membekas hingga siswa tersebut keluar dari sekolah, pun sebaliknya Guru yang memperlakukan siswanya secara manusiawi akan terus dikenang baik dan menjadi panutan buat siswa..
Read More »

Jumat, 25 Desember 2015

Guru Jangan Copy Paste

0
Menyambung tulisan sebelumnya kemudian menemukan kutipan yang di nyatakan oleh Mendikbud Bapak Anis Baswedan tentang "Para Guru Tukang Dan Ahli Copy Paste", beliau memberikan peringatan keras akan hal ini, berikut kutipannya :

Satu lagi yang terbaru dan tegas dilontarkan oleh Menteri Pendididikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Anies Baswedan yang ditujukan untuk guru-guru Indonesia terkait naskah soal ujian, guru dilarang keras copy paste naskah soal, jika ditemukan makan akan dikenakan sanksi.

Sebagaimana berita yang kami kutip dari http://www.hidayatullah.com bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meminta guru kreatif dan menjauhi plagiarism (tradisi menjiplap), dalam menyiapkan naskah soal ujian untuk para siswa.

Pasalnya, jika penyusunan naskah soal ujian tersebut dilakukan secara asal-asalan, apalagi meng-copy paste dari sumber-sumber tertentu, dikhawatirkan akan menimbulkan banyak persoalan.

“Kalau mau menyiapkan materi soal itu, dipikir apa isinya, jangan hanya copy paste. Kalau guru hanya copy paste, gak dilihat lagi konteksnya, jadilah banyak masalah,” demikian kata Anies, di Jakarta belum lama ini.
Anies memperingatkan, jika masih ditemukan guru yang melakukan copy paste dalam menyusun soal ujian, peringatan atau sanksi akan diberikan kepada guru tersebut.

“Dan jika guru masih melakukan itu, akan saya tegur, dan jika tidak bisa ditegur akan diberi sanksi, kalo guru itu pegawai mendikbud sudah kemarin-kemarin saya beri sanksi,” jelas Anies.

Selain memberikan teguran keras dan sanksi, Mendikbud juga meminta kepala sekolah untuk melakukan pengecekan soal-soal yang sudah disiapkan oleh guru.

“Minta itu kepada kepala sekolah, kepala dinas, periksa soal-soal yang dibuat guru-gurunya, jangan dibiarkan begitu saja,” tutup Anies.

Sebagaimana diketahui, Ujian Nasional (UN) 2016 akan segera tiba dalam beberapa bulan kedepan. Sejumlah persiapan terus dikebut, agar pelaksanaan UN 2016 berjalan lebih baik.

Diantaranya memperecepat proses lelang pengadaan dan penggandaan soal UN 2016.
Demikian berita seputar pendidikan dan guru yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.
Read More »

Kamis, 24 Desember 2015

Mendikbud Minta Sekolah Harus Ajarkan Kejujuran & Integritas

0

JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengungkapkan, masih banyak sekolah di tingkat dasar sampai menengah atas se-derajat yang memiliki indeks kejujuran dan integritas rendah.

Indeks kejujuran dan integritas di dapat dari hasil laporan yang diperoleh Kemendikbud sepanjang tahun 2015. "Hasilnya banyak sekolah yang tidak jujur. Yang jujur kecil," ujar Anies di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Menurut menteri yang juga kerabat Penyidik KPK Novel Baswedan ini melanjutkan, jika indeks kejujuran dan integritas sekolah-sekolah tak ditingkatkan dikhawatirkan banyak pejabat-pejabat yang dihasilkan melalui dunia pendidikan di Indonesia akan bermasalah dengan KPK.

"Karena ketidakjujuran dari sekolah. Kita mulai sekarang, ini semua dibuka. Tiap sekolah ada praktik ketidakjujrannya," tandasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meminta seluruh sekolah mengajarkan kejujuran dan integritas kepada anak didiknya. Pasalnya selama ini masyarakat seakan lupa memberi perhatian pada nilai-nilai etika, budi pekerti, kejujuran dan integritas.

Anies menyatakan pemerintah akan mendorong para kepala sekolah, guru yang menjaga integritas karena sekolah-sekolah dengan angka integritasnya tinggi justru akan mendapat apresiasi dari pemerintah. “Pemerintah akan menonjolkan indeks integritas. Kurangnya integritas ini berakibat banyak sekali korupsi. Sekolah dan rumah yang harus mengajarkan soal integritas itu,” kata Anies dalam sambutannya pada peresmian gedung baru SD SIS-SMPIT/SMAIT Insan Mandiri Cibubur, Bekasi, Senin (21/12/2015).

Integritas sendiri, menurut Anies, merupakan dasar dari karakter moral. Sehingga ketika integritas tersebut goyah maka runtuhlah segala karakter moral lainnya."Menumbuhkan integritas sebagai prinsip yang kokoh dalam diri siswa sama halnya dengan memastikan masa depan Indonesia bersih di tangan calon pemimpin bangsa," papar Anies.

Anies menuturkan, selama ini kita lupa memberi perhatian pada nilai-nilai etika, budi pekerti, kejujuran dan integritas. “Saya minta kepada semua pihak, termasuk kepala sekolah dan guru untuk tidak mengotori  siswa kita dengan aktivitas yang curang,” tuturnya. 


Read More »

Ketika Pendidik Tidak Lagi Mendidik

0
Ulangan Semester hampir tiba, semua guru sibuk menyiapkan soal-soal ulangan..Seorang Ustadz yang notabene tidak mengerti per internetan buka-buka kitab dia ambil soal-soal dari bab per bab, kemudian beliau tulis tangan manual, kemudian dirangkumnya menjadi soal soal, terus meminta tolong pada santrinya "Tolong ya saya ketikan soal-soal untuk Ulangan Tengah Semester ini..".,si santri mengangguk kemudian diketikanlah bahan-bahan soal ulangan tersebut.

Bertolak belakang sekali dengan Mr X, bagi beliau ini internet adalah breakfast, lunch dan dinnernya, alias internet adalah makanan pokoknya, tidak seperti pak Ustadz tadi, MR X pun buka laptop, browsing sana sini, jurus copas ( copy paste) pun mulai keluar, sietttt dalam sekejap 20-50 soal-soal dari internet ( lengkap dengan kunci-kunci jawabannya ) pindah ke laptopnya, bahan-bahan "Soal Instant untuk ulangan semester pun jadilah"..tanpa usaha, gak perlu buka-buka buku pegangan guru, gak perlu repot-repot buka-buka materi yang telah diberikan pada siswa dan sebaginya,."kecil,..sing penting soal jadi..toh siswa gak akan tahu ini" atau mungkin juga beliau-beliau ini punya pendapat "woalah gaji cilik, ngapain mikir gede gede bikin mumet bae..Argh..Males Ane ngetik, ngapaiin, emangnya senam jari..wualah nulis status di Facebook lancar lancar bae.." Wallahu'alam

Bagaimana jika seandainya siswa mengetahui..?? trus lapor ke ortu mereka.."Pak..atau Bu..kok soal-soal Ulangan saya ada semua di internet..dengan kunci jawabannya juga" si orang tua siswa itupun menjawab "Astagfirullah,..yo wes kamu gak perlu sekolah,..bapak sekolahin kamu di warnet saja, kalau emang soal-soalnya serta jawabannya ada di internet, ngapaiin kamu pergi sekolah, ngabis ngabisin duit dan waktu saja." Mungkin pula jawaban orang tua siswa tersebut "Besok kita cari sekolah lain saja yang kualitasnya tidak begitu"

Padahal Sekolah tersebut tidak demikian bahkan telah memperingatkan sebelumnya, untuk berusaha memberikan yang terbaik buat siswa mereka, kan kasihan image sekolahpun ikut tercoreng
Bagaimana jika seandainya ada siswa yang memang kreatif, inovatif,..di carinya soal-soal yang dia dapat ketika ujian di internet trus ketemu dan sama persis soal soal tersebut lengkap pula dengan kunci jawabannya, lalu siswa bertanya "Kok Bapak/Ibu ngasih soal-soal Ujian ke kami barang second, reject dan apkiran"

Mau dibawa kemana tanggung jawab moral sebagai pendidik.. dimana anak didik hakekatnya diamanahkan oleh Alloh Ta'ala dengan perantara orang tua mereka,..mau jadi apa mutu pendidikan jika apa yang diberikan pada siswa seperti demikian..?? Bagaimana dengan cost yang sudah dikeluarkan oleh sekolah untuk penggandaaan soal...Bagaimana ketika para Copaster ini melihat raut polos anak didik mereka adakah rasa terenyuh dengan tidak memberikan yang terbaik, dan sudah membodohi mereka....atau tidak tersentuh sedikitpun nuraninya karena hitungannya sudah "UNTUNG DAN RUGI"..dan bagaimana bagaimana lainnya..

Menjadikannya sebagai bahan referensi sah-sah saja, bahkan seorang guru harus memiliki bank soal, namun kalau hanya copy paste saja ya kebangetan, ketika kita mendapatkan kesulitan kemudian mencari tahu di media internet dan mendapatkan bahan-bahan atau jawaban jawaban dari kesuitan tersebut dari mereka yang telah ikhlas berbagi ilmunya tidak haram kok. Malahan kita patut berterima kasih bagi mereka-mereka yang memang telah ridho berbagi ilmunya.
Mungkin kalau di Jawa sana, para MR X ini akan agak ngeri karena peserta didik cenderung lebih kreatif, serta keleluasaan media informasi yang masuk , namun di kota kota kecil seperti di sini bukan tidak mungkin hal tersebut masih marak, denga asumsi dari para MR X dan Mrs, Miss X  ini "Siswa gak akan tahu ini kok,..toh mereka gaptek akan technology...wallahu'alam"

Technology memang membawa kemudahan, namun di sisi lainnyapun berdampak kurang baik juga, namun hakikatnya ibarat pisau " Jika pisau tajam ada di tangan seorang koki ya bermanfa'at dipake motong sayur daging, masak, dsb, namun jika pisau tersebut dipegang maaf "orang yang sakit jiwa..jadinya ya berbahaya..bisa sabet sana sabet sini...dan orangpun kucar kacir ketakutan..

"Ketika Pendidik Tidak Lagi Mendidik atau masih harus di didik..??"
Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA