Tampilkan postingan dengan label SMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMP. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2016

HARI PERTAMA TAHUN AJARAN 2016-2017

0
Senin 25-07-2016 merupakan hari pertama siswa/siswi, santriwan/ti SMP dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin, memasuki kelas dalam tahun ajaran baru 2016 - 2016, kegiatan diawali dengan Upacara di depan Pendop o yang diikuti seluruh siswa/wi, santriwan/ti Yayasan Pendidikan Dan Sosial Hidayatus Saalikin.

Setelah beberapa sambutan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Ibu Khurotin,S.Pd.I, acara dilanjutkan dengan pembagian certificate Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Dan Pondok Pesantren kepada Siswa Dan Siswi peserta kegiatan.

Pada Tahun ajaran baru ini, SMP.S Hidayatus Saalikin alhamdulilah masih diberikan kepercayaan oleh masyarakat guna menitipkan anak mereka, sehingga siswa siswi SMP juga Aliyah ada peningkatan jumlah peserta didik, dengan berbagai upaya dari Pengasuh dan Pengurus, jumlah Rombel kami bagi menjadi 5 Rombel untuk SMP dari asal 3 Rombel, dan masih 3 Rombel untuk Madrasah Aliyah.
Untuk Kelas VII Menjadi VII/A dan VII B dengan masing masing rombel lebih dari 20 orang, dan kelas VIII menjadi VIII/A VIII B dengan jumlah masing masing Rombel lebih dari 20 orang juga.
Sementara untuk kelas 9 masih 1 Rombel.

Semoga Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin Bisa mengemban amanah ini sebaik mungkin dan terus berkontribusi yang terbaik untuk Pembuang Hulu khususnya, Hanau dan dunia pendidikan umumnya serta Ummat..amiinnn Yaa Rabbal 'Alamin...

Keterbatasan sarana ( Meubelair ) yang asalnya "lesehan" diupayakan pengasuh dengan sarana seadanya  guna memenuhi Standard Sarana Dan Prasarana Pembelajaran.

Tentunya bantuan dari fihak yang terkait sangatlah kami butuhkan.
Read More »

Selasa, 21 Juni 2016

PROGRAM KERJA SMP DAN MA HIDAYATUS SAALIKIN TA 2016-2017

0


SANTRI JUGA BISA

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Hidayatus Saalikin melaksanakan penyusunan Program Kerja Tahunan pada tahun ajaran 2016-2017,  guna mewujudkaa tatanan Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMP.S) Hidayatus Saalikin  Dan Madrasah Aliyah Swasta (MA.S) Hidayatus Saalikin yang baru yang jauh lebih baik, yang lebih tertata dan profesional.

Penyusunan pembagian Rombel yang mengikuti standar Pendidikan, Untuk Kelas VII dengan siswa yang diatas 40 orang, pada kenaikan kelas ini dibagi menjadi 2 Rombel, Pengajuan Proposal untuk bantuan pengadaan Meubeleirpun diajukan kepada DISDIKPORA Kabupaten Seruyan guna memenuhi standard proses belajar mengajar di SMP Hidayatus Saalikin dimana guru dan siswa masih “lesehen” dalam proses belajar mengajar. Pengajuan Permohonan Bantuan Ruang Kelas Baru (RKB) pun sudah dilakukan untuk mengantisipasi Peserta Dididk Barutahun ajaran baru 2016 -2017 ini, tentunya besar harapan SMP Dan MA Hidayatus Saalikin atas terkabulnya permohonan proposal tersebut.

Pembenahan Asrama ( Kobong ) Santriwan/ti dilakukan Pengasuh Pondok Pesantren sedikt demi sedikit guna kenyamanan belajar dan kesehatan santriwan/ti, sementara pengajuan “rehab berat asrama” pun sudah kami lakukan pada Dinas dan Instansi Instansi terkait.

RUANG KELAS VII YANG OVERLOAD DAN LESEHAN
Pembuatan dan Penyusunan RPP, Silabus, Prota, Promes, KKM, Kaldik dan sebagainya sebagai perangkat administrasi Proses Belajar Mengajar mengajar, dan tatanan keadministrasian lainnya pelan pelan dibenahi dan dilengkapi, walau dengan keterbatasan tenaga keadministrasian.

Dalam penyusunan program pun harus selektif untuk menunjang target lembaga yakni selalu mengedepankan kualitas akademik maupun non akademik ( Diniyah Dan Umum ) demi peningkatan kualitas pelayanan. Dengan motto “BERIMAN, BERADAB DAN CERDAS”  dengan susunan Program kerja yang terarah baik dari segi sarana dan prasarana ataupun dari segi mutu pelayanan pendidikan lainnya, maka kualitas siswa SMP dan MA Hidayatus Saalikin akan jauh lebih baik lagi.

Dari mulai tahaun ajaran  ini Insya Allah kami akan sedikit demi sedikit membedah SKL untuk mempersiapkan Ujian Nasional, Pertemuan  Pembina Pramuka, Aktifasi Layana Konseling sebagai media sarana prasana dan jembatan siswa, orang tua dan sekolah serta program program Ektrakurikuler lainya, dari awal tahun ajaran akan ada persiapan dini bagi mereka mereka yang mempunyai nilai lebih untuk mengikuti lomba-lomba FL2SN,OSN, Dan Lomba lomba lainnya.

Athmosphere sekolah akan kami warnai pula dengan banner-banner berslogan yang mendidik , taman taman sekolah ( area hijau ), dan berbagai program rancangan lainnya.

Semoga semua program program tersebut dapat berjalan sesuai dengan perencanaan, dan tentunya yang terpenting adalah program program tersebut bukan mengejar keterlaksanaannya semata tapi lebih dari itu adalah kualitas pencapaian yang menjadi tolak ukur program.  kritik dan saran yang membangun dari fihak fihak terkait tentunya sangatlah kami harapkan pula, semoga mulai sekarang dan seterusnya dengan niat tulus dan semangat yang ada  Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin, Sekolah Menengah Swasta (SMP.S) Hidayatus Saalikin Dan Madrasah Aliyah Swasta (MA.S) Hidayatus Saalikin bisa menjadi salah satu pilar Pendidikan berkualitas Secara Ahlak dan karakter serta wawasan ke ilmuan di ranah Desa Pembuang Hulu Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan khususnya, dan bisa berkiprah jauh lebih baik lagi untuk kemashlatan Pendidikan Ummat aminnn amin Yaa Rabbal “alamin..

Read More »

Kamis, 02 Juni 2016

WORKSHOP SBP ANGKATAN KE 2 tahun 2016 DI YOGYAKARTA

0
Alhamdulilah pada Tahun 2016 ini tepatnya tanggal 30 Mei s/d 2 Juni 2016, SMP.S. Hidayatus Saalikin masih bisa mengikuti program Pembinaan SBP ( Sekolah Berbasis Pesantren ) yang diselenggaran di Hotel Grand Quality Jl Adisucipto 48 Yogyakarta. Ada beberapa perubahan dalam program SBP tahun 2016 ini, dimana dulunya program yang merupakan bantuan sosial berubah menjadi program bantuan Pemerintah yang langsung di bawah Kemdikbud dan Kemenag,  program inipun menjadi program unggulannya KEMDIKBUD.

Pada angkatan I workshop yang diiukti lebih dari 100 sekolah SMP Berbasis Pesantren dan pada angkatan yang ke 2 di ikuti oleh lebih 50 an sekolah SMP berbasis Pesantren se Indonesia. Ada beberapa perubahan dengan berbagai konsekwensi dari program SBP sekarang, baik itu secara keadministrasian dan lain sebagainya, yang mana tentunya output akhir dari program ini adalah kwalitas siswa/siswi di Sekolah Sekolah Berbasis Pesantren itu sendiri.

Semoga dengan program SBP ( Sekolah Berbasis Pesantren ) yang diawasi langsung oleh Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan juga instasi lainnya yang terkait ( BPK ), Program ini akan jauh lebih baik lagi dan tepat sasaran sehingga mutu pendidikan di Pondok Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan Umum akan bisa lebih kompeten dan jauh lebih berprestasi.
Maju terus SBP..Terima kasih Pak Chamdun, Pak Nasir dan semuanya...semangat terus berjuang untuk kemashlahatan Ummat.."lebih baik SBP..SBP lebih Baik"..

Read More »

Rabu, 13 April 2016

PENERIMAAN SISWA BARU TAHUN AJARAN 2016-2017

0

Assalamu'alaikum wr wb,
Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren.

Ketentuan Persyaratan Selengkapnya silahkan hubungi No contact yang tertera pada brosur.

Wassalamu'alaikum wr wb.
Read More »

Selasa, 15 Maret 2016

POS UJIAN NASIONAL ( UN ) TAHUN AJARAN 2015-2016

0
Pertengahan April dan awal mei 2016 para siswa di SMA maupun SMP akan mengadakan Ujian Nasional. Namun ternyata sampai bulan Maret ini POS UN yang digunakan sebagai acuan untuk kegiatan Ujian Nasional belum juga keluar.
Namun, sudah ada draft POS UN dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
yang bisa digunakan sebagai referensi. Namun karena belum selesai dan belum disahkan, sehingga masih belum bisa dijadikan acuan secara resmi tentang pelaksanaan UN (Ujian Nasional) baik di tingkat SMP maupun SMA.
Bagi yang ingin melihat draft POS UN  dan Paparan dari Mendikbud tentang POS UN ini sebagai bahan acuan persiapan UN 2016

Read More »

MATERI SOAL SOAL UJIAN NASIONAL SMP

0



Berikut adalah materi Soal-Soal UN SMP yang dikemas dalam bentuk 20 Paket soal dan 1 Paket soal cadangan di tiap-tiap ruang UN. Bisa digunakan sebagai bahan latihan UN bagi siswa SMP, dan Bagi yang memerlukan Soal UN Mata Pelajaran Matematika, IPA, B Indonesia Dan Bahasa Inggris silahkan download Soal UN SMP  semoga berguna:

Bahasa Indonesia

Soal UN Bahasa Indonesia 01
Soal UN Bahasa Indonesia 02
Soal UN Bahasa Indonesia 03
Soal UN Bahasa Indonesia 04
Soal UN Bahasa Indonesia 05

Soal UN Bahasa Indonesia 06
Soal UN Bahasa Indonesia 07
Soal UN Bahasa Indonesia 08
Soal UN Bahasa Indonesia 09
Soal UN Bahasa Indonesia 10

Soal UN Bahasa Indonesia 11
Soal UN Bahasa Indonesia 12
Soal UN Bahasa Indonesia 13
Soal UN Bahasa Indonesia 14
Soal UN Bahasa Indonesia 15

Soal UN Bahasa Indonesia 16
Soal UN Bahasa Indonesia 17
Soal UN Bahasa Indonesia 18
Soal UN Bahasa Indonesia 19
Soal UN Bahasa Indonesia 20
Soal UN Bahasa Indonesia 21

Matematika



Soal UN Matematika SMP 01 
Soal UN Matematika SMP 02 
Soal UN Matematika SMP 03
Soal UN Matematika SMP 04 
Soal UN Matematika SMP 05

Soal UN Matematika SMP 06 
Soal UN Matematika SMP 07
Soal UN Matematika SMP 08 
Soal UN Matematika SMP 09
Soal UN Matematika SMP 10 

Soal UN Matematika SMP 11 
Soal UN Matematika SMP 12 
Soal UN Matematika SMP 13
Soal UN Matematika SMP 14
Soal UN Matematika SMP 15

Soal UN Matematika SMP 16 
Soal UN Matematika SMP 17
Soal UN Matematika SMP 18 
Soal UN Matematika SMP 19
Soal UN Matematika SMP 20 
Soal UN Matematika SMP 21

Bahasa Inggris

Soal UN Bahasa Inggris SMP 01
Soal UN Bahasa Inggris SMP 02
Soal UN Bahasa Inggris SMP 03
Soal UN Bahasa Inggris SMP 04
Soal UN Bahasa Inggris SMP 05

Soal UN Bahasa Inggris SMP 06
Soal UN Bahasa Inggris SMP 07
Soal UN Bahasa Inggris SMP 08
Soal UN Bahasa Inggris SMP 09
Soal UN Bahasa Inggris SMP 10

Soal UN Bahasa Inggris SMP 11
Soal UN Bahasa Inggris SMP 12
Soal UN Bahasa Inggris SMP 13
Soal UN Bahasa Inggris SMP 14
Soal UN Bahasa Inggris SMP 15

Soal UN Bahasa Inggris SMP 16
Soal UN Bahasa Inggris SMP 17
Soal UN Bahasa Inggris SMP 18
Soal UN Bahasa Inggris SMP 19
Soal UN Bahasa Inggris SMP 20
Soal UN Bahasa Inggris SMP 21



IPA

Soal UN IPA SMP 01
Soal UN IPA SMP 02
Soal UN IPA SMP 03
Soal UN IPA SMP 04
Soal UN IPA SMP 05

Soal UN IPA SMP 06
Soal UN IPA SMP 07
Soal UN IPA SMP 08
Soal UN IPA SMP 09
Soal UN IPA SMP 10

Soal UN IPA SMP 11
Soal UN IPA SMP 12
Soal UN IPA SMP 13
Soal UN IPA SMP 14
Soal UN IPA SMP 15

Soal UN IPA SMP 16
Soal UN IPA SMP 17
Soal UN IPA SMP 18
Soal UN IPA SMP 19
Soal UN IPA SMP 20
Soal UN IPA SMP 21
Read More »

PREDIKSI SOAL SOAL UJIAN NASIONAL SMP TP 2015-2016

0
Banyak yang memprediksi kemungkinan besar kisi-kisi dan muatan soal dari DKI Jakarta akan keluar dalam Ujian Nasional 2016 ini, di sini saya akan share MAPEL yang di UN kan berdasarkan Uji Coba Ujian Nasional 2016 (TP 2015 - 2016 ) dari DKI Jakarta, yang bisa dijadikan barometer atau prediksi soal soal yang akan keluar nantinya pada UN 2016.

Soal Dan kunci jawaban, terdiri dari 2 Tahap Uji Coba Ujian Nasional Provinsi DKI Jakarta yaitu Tahap I dan II.
Materi - materi ini tentunya bisa dijadikan bahan referensi untuk berlatih, wlaupun pada tahun tahun sebelumnya banyak sekali materi yang keluar dalam UN seperti kisi kisi dan muatan soal soal UCUN Provinsi DKI Jakarta.
Semoga Berguna bagi siswa siswa dan Ibu/Bapak guru sekalian




Bahasa Indonesia




B. Inggris



IPA


Kunci Jawaban Paket A dan B

UCUN DKI JAKARTA PAKET 2

 Pelaksanaan Uji Coba Ujian Nasional (UCUN)Tahap 2, akan di gelar  mulai hari Senin, 22 februari 2016 hingga Kamis, 25 februari 2016.Untuk mengantisipasi adanya kebocoran soal, maka kepada Panitia Kecamatan, bahwa soal diambil setiap hari ke masing-masing Pos Wilayah.


UCUN TAHAP II


1.  BAHASA INDONESIA
.....a.  Paket A  ( Download )
.....b.  Paket B  ( Download )
.....c.  Kunci Jawaban  ( Download )

2. Matematika
    .a.  Paket A  ( Download )
.....b.  Paket B  ( Download )
.....c.  Kunci Jawaban  ( Download )

3.  BAHASA INGGRIS
.....a.  Paket A  ( Download )
.....b.  Paket B  ( Download )
.....c.  Kunci Jawaban  ( Download )

4.  IPA
.....a.  Paket A  ( Download )
.....b.  Paket B  ( Download )
.....c.  Kunci Jawaban  ( Download ) 
Semoga Berkah dan bisa dijadikan pedoman serta bahan berlatih peserta didik khsususnya untuk terus berlatih dan mempersiapkan diri mereka disertai bimbingan guru dalam menghadapi UN 2016 ini..amiinnn
Read More »

Minggu, 06 Maret 2016

OSN 2016 di Kuala Pembuang kalimantan tengah

0
Olimpiade Sains Nasional adalah ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Siswa yang mengikuti Olimpiade Sains Nasional adalah siswa yang telah lolos seleksi tingkat kabupaten dan provinsi dan karenanya adalah siswa-siswa terbaik dari provinsinya masing-masing.

Olimpiade Sains Nasional diadakan setiap tahun di kota yang berbeda-beda. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian seleksi untuk mendapatkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia yang akan dibimbing lebih lanjut oleh tim bidang kompetisi masing-masing dan akan diikutsertakan pada olimpiade-olimpiade tingkat internasional.

Alhamdulilah pada tahun ini tepatnya awal maret 2016, 3 orang siswa SMP.S Hidayatus Saalikin bisa ikut serta dalam kegiatan OSN 2016 yang diselenggarakan di Kuala pembuang Seruyan, memang kami belum bisa menorehkan prestasi dalam ajang besar ini, namun insya alloh kami akan terus berusaha untuk berbuat yang terbaik.

Disamping sebagai bahan evaluasi, serta menjaring siswa siswa yang memang memiliki potensi lebih, kegiatan OSN ini bisa menjadi tolak ukur pula akan kreasi dan inovasi peserta didik dalam menyerap pengetahuan selama pembelajaran.

Mengutip pesan dari DIKNAS ketika penutupan " Mereka yang juara bukan berarti mereka tidak pernah kalah, namun mereka mempunyai tekad dan kemauan yang keras dan tidak pernah menyerah untuk mau berprestasi".

Lantas apa yang didapat anak dalam mengikuti OSN ini:

1. Belajar berkompetisi, bukan hanya dengan teman-temannya disekolah tetapi dengan sekolah lain.

2. Memotivasi anak supaya rajin belajar dan menggali rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan yang disukainya misalnya sains. Dia bisa belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.

3. Belajar memahami arti menang dan kalah. Bila menang harus tetap membumi, sejatinya diatas langit masih ada langit, percuma juga sombong.Kalahpun nggak boleh patah arang.

4. Mempertebal rasa percaya diri.

5. Belajar mengatur waktu dan skala prioritas.

6. Belajar tentang kerja keras,kegigihan dan kesabaran. Karena untuk mencapai sesuatu semua perlu proses yang terkadang melelahkan. Nggak ada yang gabruk dari langit.

7. Meningkatkan spiritual. Setelah semua usaha dilakukan, sekarang saatnya berdoa dan pasrah PADANYA.

Lantas apa yang didapat anak dalam mengikuti OSN ini: 1. Belajar berkompetisi, bukan hanya dengan teman-temannya disekolah tetapi dengan sekolah lain. 2. Memotivasi anak supaya rajin belajar dan menggali rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan yang disukainya misalnya sains. Dia bisa belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. 3. Belajar memahami arti menang dan kalah. Bila menang harus tetap membumi, sejatinya diatas langit masih ada langit, percuma juga sombong.Kalahpun nggak boleh patah arang. 4. Mempertebal rasa percaya diri. 5. Belajar mengatur waktu dan skala prioritas. 6. Belajar tentang kerja keras,kegigihan dan kesabaran. Karena untuk mencapai sesuatu semua perlu proses yang terkadang melelahkan. Nggak ada yang gabruk dari langit. 7. Meningkatkan spiritual. Setelah semua usaha dilakukan, sekarang saatnya berdoa dan pasrah PADANYA. Nggak usah deh pake cara cara curang supaya menang. Jujur itu lebih hebat bro. Sekarang, tugas saya dan suami jadi motivator. Ayo nak…semangat! Mama sama papa bersamamu sayang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fidiawati/manfaat-mengikuti-osn-bagi-seorang-anak_54f358d8745513902b6c71dc


Read More »

Rabu, 17 Februari 2016

TITIK KOORDINAT PONTREN HIDAYATUS SAALIKIN DESA PEMBUANGHULU-KECAMATAN HANAU - SERUYAN

0
Pontren Hidayatus Saalikin yang berada di Desa Pembuang Hulu Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, berada pada Latitude -2.508250, Longtitude 112.178972, atau berada pada 2°30'29.7"S ( Lintang Selatan )112°10'44.3"E ( Lintang Timur ) ketentuannya adalah :

1 derajat bujur/lintang = 111,322 km (diambil garis terpanjang yaitu equator)
1 derajat bujur/lintang = 60' (menit) = 3600" (detik)
1 menit bujur/lintang = 60" (detik)
1 menit bujut/lintang = 1.8885,37 meter
1 detik bujut/lintang = 30, 9227 meter

Darimana angka koordinat tersebut muncul..??? Data sekolah sekarang diminta untuk menampilkan titik titik tersebut. Kejelian dari team TIK ( Guru TIK/Operator ) sekolah untuk mensucribe data sekolah tersebut sangat diperlukan, melalui Google maps, sehingga data sekolah bisa diketahui publik yang kedepannya dapat digunakan sebagai data yang diperlukan sekolah dan instansi.

Memang butuh waktu untuk mendapatkan data tersebut karena akan di crawling dulu oleh search engine..baik itu content web ( operator/TIK Sekolah) harus mampu bermain dan ramah dengan SEO ( Search Engine Optimising )...feed content tidak mengenal gratisan atau domain berbayar..:) karena yang di crawl adalah content jadi rajin rajinlah untuk nge-ping web biar afdhol di search engine, ( Google, Yahoo, MSN, dll ).

Dan Informasi data bukan dinilai dari domain gratis atau berbayar, tapi bagaimana mengemas satu domain..kelebihan yang berbayar hanya keleluasaan saja untuk ber-PHP, misanya dan membuat fiture fiture yang tidak mungkin di domain yang gratisan, kalau urusan content mah sama tergantung dari yang mengelola..

semoga berguna





Read More »

Rabu, 03 Februari 2016

MENUMBUHKAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA

0
Nabila Ellyanti kelas 7 SMP.S. Hidayatus Saalikin salah seorang Peserta Lomba “English Public Speaking Contest” meraih peringkat ke 3 setelah peringkat pertama diraih SMK Miftahus Salam, ke duanya oleh kakak kelasnya Nopi dari Madrasah Aliyah MA.S Hidayatus Saalikin, Nabila Ellyanti sendiri merupakan satu satunya peserta SMP/MTs yang mendapatkan peringkat dalam Lomba Pidato Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh HMPH ( Himpunan Mahasiswa Pelajar Hanau ).

“Kepercayaan Diri” bukanlah hal yang mudah untuk ditumbuh kembangkan pada siswa/peserta didik, disamping latar belakang siswa dalam kehidupan sosial sebelumnya ( Keluarga dan masyarakat ) berpengaruh sekali , yang kemudian membentuk “karakter dasar” dari siswa itu sendiri. Kehati hatian dalam penyampaian sangat diperlukan karena salah sedikit (salah berkomunikasi, salah perlakuan), bukan kepercayaan diri yang didapat namun kebalikannya.

Dalam Penerapan Kurikulum K13 salah satu implementasinya adalah “Mengkomunikasikan”, dimana siswa harus berani tampil ke muka kemudian mempresentasikan materi pembelajaran yang mereka dapatkan.

Pembelajaran Bahasa Inggris Misalnya, dimana output akhir yang diharapkan dari mata pelajaran ini adalah, mampunya siswa untuk mengkomunikasikan Bahasa Inggris dengan baik dan terstruktur secara hukum ketatabahasaannya. Pengalaman ini bukan hanya anak-anak yang belajar, tapi saya. Disini Sayapun ikut serta  belajar untuk bersabar, menikmati proses belajar anak-anak. Saya juga belajar untuk mempercayai anak-anak ini. Cepat atau lambat anak-anak ini akan berubah lebih baik, lebih percaya diri, lebih optimis.

Anak-anak murid saya adalah anak yang pintar. Sayangnya mereka sering kali mengeluh “Pa tidak bisa !”, “Pa susah !”., Pa Malu..! dan sebaginya. ketidak percayaan diri inilah hambatan terbesar dalam proses pembelajaran. Tidak ada hal yang tidak mungkin dilakukan selama itu kelihatan,coba.. Walaupun kelihatannya pekerjaan ini sangat sulit diselesaikan. Itulah yang ingin saya tanamkan pada siswa-siswa saya. Memupuk rasa percaya diri . Tidak seperti mengajarkan suatu materi. Butuh proses dan konsistensi.

Saya selalu tanamkan tiga hal bagi anak anak didik saya, dalam pembelajaran Bahasa Inggris khususnya, serta mata pelajaran lainnya :

1. Don’t Be afraid of making Mistake.
(Jangan merasa takut untuk berbuat salah..dalam mengkomunikasikan Pembelajaran..dan jika kalian salahpun guru kalian tidak akan menghukum)
2. Use every opportunities To Practise Your English (Gunakan waktu luang kalian untuk berlatih )
3. Be an Optimistic Persons ( Jadilah orang yang Optimis, jangan mudah menyerah, jangan malu jangan minder, percaya diri, coba dan coba )

Anak-anak ini pada awalnya pemalu dan kurang percaya diri. Bukan berarti mereka tidak bisa. Tapi mereka sudah pesimis dari awal. Dalam hal ini, yang saya sendiri lakukan kepada siswa adalah memberikan motivasi misal “Tanamkan dalam diri kalian, kalian harus bisa membuat orang tua kalian menangis..!! menangis karena bahagia dengan prestasi kalian, bangga dengan apa yang kalian raih”

 Motivasi-motivasi lainnyapun selalu diberikan kepada siswa untuk membangun rasa kepercayaan diri mereka. Perlahan Dari anak-anak yang pemalu, minder, kini berubah menjadi anak yang lebih percaya diri, lebih optimis. Yes, Alhamdulilah it works ! mereka berhasil keluar dari zona nyamannya.


Semoga dari Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin ini khususnya, dan dunia kependidikan di Desa Pembuang Hulu Kecamatan Hanau, Seruyan ini umumnya lahir terus generasi generasi berbudi pekerti luhur, berahlak mulia, serta memiliki wawasan akan science and technology yang mumpuni..amin amin Yaa Hayyu Qoyyum...
Read More »

Sabtu, 09 Januari 2016

PONTREN HIDAYATUS SAALIKIN MELAKUKAN STUDY BANDING KE SMP DARUL HIJRAH PUTRA

0
Dalam Liburan Semester ini Yayasan Pendidikan Dan Sosial Hidayatus Saalikin melakukan Study banding Bersama Pengasuh Pondok, Kepala Sekolah, perwakilan guru dan beberapa orang perwakilan siswa ke SMP DARUL HIJRAH PUTRA, yang terletak di Jalan CINDAI ALUS - MARTAPURA - BANJARBARU. KALIMANTAN SELATAN

Kami disambut hangat oleh fihak SMP DARUL HIJRAH PUTRA, ditemani langsung kepala sekolah H. Ahmad Maidi, S.Pd, beserta staff, kami melihat lihat kegiatan sekolah tersebut, paparan - paran dari mulai kurikulum yang diterapkan, extra kurikuler, sejarah pendirian, keorganisasian serta prestasi yang didapat, dan lain lainnya banyak dipaparkan pada kami, Kamipun berkesempatan untuk berbincang bincang dengan salah seorang siswa berprestasi dalam tingkat Nasional, Banyak sekali  pelajaran yang bisa kami petik dari hasil study banding tersebut sebagai bahan evaluasi serta pengaplikasian dan perbaikan kami kedepan, SMP DARUL HIJRAH PUTRA sendiri telah meiliki santri lebih dari 1300 orang diluar SMP DARUL HIJRAH PUTRI , dan telah masuk dalam katagori SBP MAPAN, serta mereka telah lepas dari pembinaan SBP.

Terima kasih kami haturkan kepada SMP DARUL HIJRAH PUTRA, kepala sekolah, jajaran staff dan guru  juga murid muridnya, sukses terus, dan semoga kita bisa terus mencetak insan insan yang madani, berbudi luhur serta berwawasan luas.

PENTINGNYA STUDY BANDING

Studi banding memuat konsep sebagai kegiatan untuk meninjau dan melakukan evaluasi pada sebuah objek atau tempat lain. Terutama mengenai aspek-aspek kelebihan yang memiliki orientasi untuk pengembangan dan development.

Secara definitif study banding memiliki definisi sebagai riset pada bagian dari sebuah struktur secara sistematis. Jika anda mungkin berkesempatan mendapatkan ini dari institusi maupun perusahaan pastilah hal yang cukup menyenangkan sebagai keberuntungan karena bisa refreshing sekaligus menambah cakrawala wawasan.

Meskipun inti tujuannya bukan disana namun sifatnya lebih konsekuensif. Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan studi banding antara lain adalah melakukan tinjauan dan evaluasi internal, mengenai mana saja yang akan dikembangan dan dinaikan progresnya. Setelah itu dibuat draft list secara terstruktur sesuai degan jadwal yang ditentukan. Setelah semua tersusun dengan rapi, baru persiapan untuk landing out dan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan ini.

Tujuan utama melakukan studi banding nantinya adalah menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa didapat secara teknis real dan empiris. Untuk dijadikan barometer dan pembading yang kemudian masuk analisis untuk menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif, baik untuk plan kedepan dalam jangka pendek dan panjang secara futuristik. Hasil setelah melakukan studi banding adalah berupa report dalam bentuk notulen verbal maupun aritmatis untuk menunjang sebuah progress atau development secara terstruktur dan bisa dipahami menyeluruh sebagai acuan perkembangan yang progresif. Report ini berisi referensi teknis istilahnya mungkin identik dengan datasheet yang cukup terperinci dan bisa diimplementasikan secara realistis untuk pengembangan sesuatu kedepannya.

Siapa saja boleh melakukan maupun ikut studi banding baik untuk report dalam skala kecil maupun besar hanya saja jika pada suatu institusi maupun perusahaan biasanya tergantung kebijakan dan juga kesempatan. Lawatan ini bisa dilakukan secara langsung maupun melalui media digital. Karena orientasi dan destination sama-sama untuk development, tinggal mana cara yang lebih menunjang dan bisa lebih efektif dilakukan serta aplikatif untuk implementasinya.

Studi banding pada realitanya cukup penting jika benar-benar dilakukan secara konsekuan sesuai dengan esensinya. Karena dengan kegiatan ini akan ada injeksi baru dalam menunjang kreativitas supaya bekerja maksimal maupun inovasi dalam menghasilkan produk maupun layanan yang kompetitif. Karena jika ditilik dari perkembangan jaman dan teknologi seperti sekarang ini apapun dan siapapun darimanapun bisa muncul dan berkembang dengan sangat cepat. Karena kompetisi adalah era yang fair dan terbuka bagi siapa saja yang mau mengusahakan dan memperjuangkan meski harus mengasah kembali kompetensi bahkan dari titik-titik yang berbeda dan membutuhkan daya jalajah yang cukup matang.


Read More »

Kamis, 31 Desember 2015

Sekolah Berbasis Pesantren (SBP) Lebih Baik, Lebih Baik SBP

0
Sistem pendidikan yang acap kali didengung dengungkan belakangan ini adalah "implementasi pendidikan karakter", dan yang menjadi acuan utama pemerintahan belakangan ini sebagai target orientasi pendidikan adalah lahirnya generasi - generasi yang memiliki karakter yang baik disamping berilmu pengetahuan tentunya.

Kurikulum yang dirancang oleh pemerintahpun menekankan sekali pada pembentukan karakter ini. Produk yang dihasilkan dari sistem pendidikan lama, dimana masih adanya persaingan secara psikologis misalnya dengan system ranking, yang mana hanya akan menimbulkan persaingan saja dalam kepribadian peserta didik, sekarang di implementasikan dengan adanya "kerjasama" dalam pembelajaran, dari mulai mengamati, menanya, mengkomunikasikan, dan sebagainya.

Persaingan inipun terus berlangsung hingga mereka dewasa, yang ujung ujungnya terasa dari produk yang sudah jadi dengan sikap sikap mental mereka, ketika mereka ada di satu posisi masih suka menggunting dalam lipatan menjegal teman seiring, sikut kiri sikut kanan, dan sebagainya.

Pendidikan sebagai salah satu komponen pembangun bangsa memiliki fungsi strategis untuk membentuk manusia yang bermoral dan berakhlak baik, sehingga dapat menghantarkan peserta didik menuju keseimbangan pribadi antara kecerdasan intelektual (ilmu) dengan kecerdasan emosional (perilaku) yang sejalan dengan tuntunan Islam.

Pendidikan Islam Indonesia yang ada sekarang ini ternyata lebih menekankan pada kebutuhan jasmani peserta didik, belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan rohaninya. Hal ini merupakan ‘turunan’ dari sistem pendidikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, yang kemudian di adopsi oleh para pemegang kebijakan setelah kemerdekaan RI tahun 1945. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah lembaga pendidikan Islam yang dapat memenuhi dua kebutuhan tersebut sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat diwujudkan. Pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan tradisional di Indonesia merupakan lembaga yang menekankan pentingnya tradisi keislaman di tengah-tengah kehidupan sebagai sumber utama moral dan akhlak. Secara historis, pesantren telah hidup sejak 300-400 tahun lampau dan menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim Indonesia.

Peran multifungsi pesantren di Indonesia sudah dimulai sejak perang melawan penjajah di era kolonialisme hingga menjadi penyumbang pemikiran konstruktif dalam membangun bangsa di era globalisasi. Keunggulan pesantren terletak pada prinsip ‘memanusiakan manusiadalam proses pembelajarannya. Jika di pendidikan formal sekolah lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan materi semata, maka di pesantren lebih ditekankan pada pembinaan karakter individual dan keteladanan dari seorang ‘guru’ kepada peserta didik yang berlangsung 24 jam penuh.

Seiring dengan perkembangan pendidikan saat ini, seperti munculnya sekolah-sekolah dengan sistem ‘Boarding School’ ( Belakangan marak di Kota-Kota Besar seperti Jakarta, dsb) yang terinspirasi dari pesantren, lembaga pesantren ini mulai ditinggalkan oleh para orang tua yang menginginkan sekolah yang ‘lebih modern’. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah, bahwa pesantren lebih dikesankan ‘kumuh’ dan bukan ‘pilihan’ yang populer dibandingkan dengan sekolah umum lainnya. Selain itu perlu dirumuskan konsep yang tepat untuk mengoptimalkan peran pesantren di era globalisasi, sehingga di masa depan pesantren dapat muncul sebagi salah satu pusat institusi pendidikan Islam tingkat menengah yang mengembangkan sumber daya manusia menuju terwujudnya masyarakat yang sesuai dengan Islam.

MENGHADAPI kehidupan global yang semakin sulit dikendalikan, berbagai kalangan, khususnya para orangtua, mulai resah dengan perkembangan (jiwa) anak-anak mereka. Dari berbagai persoalan, yang paling merisaukan adalah kehidupan susila atau sex bebas para remaja. Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) M Masri Muadz menyatakan, berdasarkan hasil survei perusahaan kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia (Sabang-Merauke), tercatat sekitar 40%-45% remaja antara 14-24 tahun menyatakan secara terbuka mereka telah berhubungan seks pranikah.

Bahkan, data BKKBN menunjukkan 60% remaja sudah ingin mendapatkan pelayanan KB. Padahal, secara aturan, ini melanggar hukum karena alat kontrasepsi hanya boleh diberikan kepada pasangan yang menikah (Sindo, 10-5-2007). Lebih jauh data BKKBN menjelaskan persoalan seks bebas berkaitan erat dengan persoalan narkoba dan HIV/AIDS. Total jumlah pasangan usia subur sebesar 15% dari total populasi. Jumlah remaja sekitar 20% atau 60 juta orang. Sementara itu, penderita HIV/AIDS, tercatat saat ini sejumlah 8.988 kasus AIDS dan 5.640 kasus HIV positif di Tanah Air.

Fatalnya, sekitar 8 ribu atau 57,1% kasus HIV/AIDS terjadi pada remaja antara 15-29 tahun (37,8% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 62,2% terinfeksi melalui penggunaan narkoba jarum suntik). Angka temuan penyakit menular mematikan itu masih jauh dari angka sebenarnya. Diperkirakan, angka riil pengidapnya adalah angka temuan dikalikan 1.000 atau sekitar 14,5 juta orang. Sekitar 8 juta di antaranya adalah remaja. Berdasarkan data Badan Nasional Narkotika (BNN), sebanyak 2,3 juta orang sudah mengonsumsi narkoba dan sebanyak 78%-nya adalah remaja.

Kebebasan seks kian terasa setelah internet hadir di tengah-tengah kita pertengahan 1990-an, kemudian diikuti lagi teknologi telepon seluler lengkap dengan media facebook yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat. Internet bukan cuma menampilkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Sungguh celaka lagi jika para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan pergaulan modern. Ironis sekali kalau kehadiran teknologi yang serba modern saat ini yang seharusnya bisa dijadikan sebagai saluran informasi untuk menambah ilmu pengetahuan, malah dijadikan alat untuk melampiaskan syahwat dan perilaku menyimpang lainnya oleh para remaja, sungguh mengerikan!!!

Sekelumit ilustrasi di atas cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa kehidupan sosial kita sedang sakit. Perilaku remaja sebagai bagian dari pranata sosial tidak bisa dilepaskan dari “sistem pendidikan” yang memproduksinya. Menghadapi moral remaja yang cendrung terus terdegradasi, Kementerian Pendidikan Nasional, khususnya Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP), mulai tahun 2010 ini meluncurkan progam SMP Berbasis Pesantren (SBP) dan di Pulau Jawa sudah mulai diujicobakan pada beberapa sekolah.  Menghadapi kehidupan masa depan yang semakin kompetitif dan kompleks diperlukan sebuah model pendidikan yang mampu mengintegrasikan kecerdasan spritual keagamaan, emosional-moralitas, kecakapan hidup, serta berwatak plural dan multikultural. SBP diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengerem erosi moral para remaja. Pilihan memadukan sistem sekolah dan pesantren ini diambil setelah melihat dan mengamati secara seksama mutu pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem.

Sekolah dan pesantren merupakan dua satuan pendidikan yang memiliki keunggulan berbeda. Bila mereka berjalan sendiri-sendiri, ada potensi dan kekuatan pendidikan yang terbuang sia-sia. Bila keduanya dapat disatukan akan lahir sebuah kekuatan pendidikan yang komprehensif.

Sistem Sekolah

Proses pendidikan di sekolah mencakup dimensi (1) pendidikan (sikap, pengetahuan dan keterampilan, (2) peran seleksi sosial yang mencakup pemberian legalitas (ijazah/sertifikat) dan seleksi terhadap peluang kerja, (3) pembinaan peserta didik, dan (4) aktivitas kemasyarakatan. Sekolah memiliki keunggulan dalam pengembangan peserta didik karena didukung oleh sistem berjenjang, program didesain secara hierarkis dan sistematis, serta adanya standarisasi pencapaian keberhasilan pendidikan. Peserta didik juga mendapatkan materi terstruktur, faktual, dan dibutuhkan dalam dunia kerja, sehingga sekolah memberikan kontribusi bagi pembentukan dan pengembangan SDM berkualitas. Sekolah menjadi barometer untuk menyebutkan seseorang berpendidikan atau tidak.

Keunggulan lain sistem sekolah adalah (1) kurikulum yang dinamis dan fleksibel ditandai dengan bahan ajar yang disusun secara sitematis sesuai dengan komptensi yang ingin dicapai, strategi dan model pembelajaran variatif yang berorientasi pada efetivitas dan efisiensi; (2) pendidik memiliki kualifikasi dan kompetensi yang terukur; (3) sarana dan prasarana lebih memadai; dan (4) manajemen yang lebih profesional.

Sistem Pesantren

Sebagai satuan pendidikan nonformal keagamaan, pesantren (dayah) dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam asli dan tertua di Indonesia. Pesantren dimaknai sebagai “tempat belajar santri”. Fakta sejarah menunjukkan pesantren sudah ada di Indonesia jauh sebelum datang Islam yang digunakan sebagai tempat belajar agama Hindu-Budha dalam membina kader-kader penyebar agama. Pesantren bukan sekedar tradisi Islam karena tidak ditemukan lembaga pesantren di negara-negara Islam selain Indonesia, sementara lembaga serupa banyak ditemukan di dalam masyarakat Hindu dan budha di India, Myanmar, dan Thailand. Dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan pesantren dipercayai sebagai bentuk pendidikan asli Indonesia, yang lahir melalui proses akulturasi berbagai kebudayaan Indonesia.

Pesantren paling tidak memiliki 5 komponen dasar, yakni kiayi , santri, masjid, pondok (asrama) dan kitab kuning (klasik). Kelima komponen itu memiliki fungsi masing-masing yang membedakannya dengan satuan pendidikan lainnya. Keunggulan pesantren antara lain (1) Misi pendidikan lebih banyak ditekankan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian. (2) Kultur kemandirian dalam interaksi sosial. (3) Penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai dan pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika. (4) Kharisma kyai sebagai manajer dan pengasuh lembaga pesantren menjadikan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari. (5) Hubungan kyai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi.  

Memadukan Keunggulan

Keunggulan pada masing-masing satuan pendidikan tersebut akan semakin berarti, jika keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu. Prinsip dasar SBP adalah pengintegrasian berbagai kecerdasan sebagai upaya pembentukan multiple intelegence peserta didik agar memiliki kemampuan akal (pikir), kemampuan spritual (zikir dan qalbu), dan kemampuan untuk melakukan sesuatu atas dasar keterampilan dan profesionalitas. SBP akan memfasilitasi tumbuhnya kesadaran akan pluralitas dan berkembangnya nilai-nilai multikultur yang mengedepankan toleransi (tasamuh) tolong-menolong (ta’awun), dan menghargai perbedaan. SBP mengintegrasikan kebenaran nash (Al-Quran dan hadis) dengan kebenaran sains (IPTEK). Jika prinsip pesantren dapat mewarnai sekolah hal yang menarik adalah dimasukkannya “Penguasaan Kitab Kuning” dalam kurikulum. Kitab kuning berisi naskah-naskah klasik yang sarat dengan nilai, sejarah, tauladan dan ajaran-ajaran agama yang dapat memupuk sikap santun dan beradab.

SBP sangat relevan di Kalimantan Tengah, di mana bukan hanya penduduk asli yang masih minim akan pengetahuan islam, namun juga bagi pendatang yang mayoritas di pelosok adalah mereka pekerja sawitan, yang mana di perkebunan sawit tersebut sangat sulit sekali untuk mendapatkan pendidikan rohani secara konsisten baik itu dari waktu sebagai kendala, juga sarana ( Red. Penulis pernah kerja di perkebunan sawit ), Untuk Pendidikan umum, fasilitas yang disediakan oleh Perkebunan perkebunan sawit bisa dibilang memadai, namun timpang dengan pendidikan rohani yang di dapat oleh anak - anak terutama ketika mereka sudah ada di camp camp mereka. Kehadiran SMP.S. Hidayatus Saalikin yang Berbasis Pesantren berusaha untuk menjembatani itu semua di Desa Pembuanghulu Hanau khususnya, sebagai media Da'wah, serta pembentukan karakter dan juga media pembelajaran ilmu-ilmu umum. Dengan adanya program SBP sebagai produk nasional tentu terbuka bagi Kalimantan Tengah untuk menerapkan SBP pada semua sekolah (SD, SMP, SMA).

Untuk mendukung ini, Kementerian Pendidikan Nasional sudah menerbitkan Buku Panduan Pelaksanaan Sekolah Berbasis Pesantren khususnya untuk jenjang SMP. Pengembangan pendidikan SBP sesungguhnya merupakan ijtihad dalam konteks melahirkan manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt. Pengembangan model SBP tentu saja tidak sebagai “obat mujarab” atau satu-satunya alternatif dalam upaya mengendalikan prilaku negatif remaja. Namun, paling tidak SBP dapat dijadikan sebagai kontribusi monumental dalam rangka pengembangan manusia handal yang memiliki intelektual quetient, spiritual quetient, dan emotional quetient serta berwatak multikultural. Kebersamaan dan dukungan semua pihak (pemerintah, masyarakat, stakeholders, user, praktisi pendidikan, akademisi dan peneliti) akan sangat menentukan program SBP bisa sukses diimplementasikan.


SEkolah Berbasis Pesantren Lebih Baik, Lebih Baik Sekolah Berbasis Pesantren...Amin...
Read More »

Minggu, 27 Desember 2015

17 KULTUR SMP BERBASIS PESANTREN

0
Anggapan bahwa pendidikan di Indonesia belum optimal dalam membangun akhlak dan moral, sudah lama didengung-dengungkan. Dalam GBHN 1999 dinyatakan :“Di bidang pendidikan, masalah yang dihadapi adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak peserta didik, yang berakibat hilangnya kepribadian dan kesadaran akan makna hakiki kehidupan. Mata pelajaran yang ber orientasi akhlak dan moralitas serta pendidikan agama kurang diberikan dalam bentuk latihan-latihan pengamalan untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari. Karenanya masyarakat cenderung tidak memiliki kepekaan yang cukup untuk membangun toleransi, kebersamaan, khususnya dengan menyadari keberadaan masyarakat yang majemuk.”
Sejalan dengan permasalahan di bidang pendidikan, kondisi kehidupan beragama pun GBHN 1999 memberikan konstatasi senada: “Kehidupan beragama belum memberikan jaminan akan peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat. Merebaknya penyakit sosial, korupsi dan sejenisnya, kriminalitas, pemakaian obat terlarang, perilaku menyimpang yang melanggar moralitas, etika dan kepatutan, memberikan gambaran terjadinya kesenjangan antara perilaku formal kehidupan keagamaan dengan perilaku realitas nyata kehidupan keseharian”.

Gambaran tahun 1999 di atas, kelihatannya belum banyak berubah saat ini. Maraknya penyakit sosial, seperti kenakalan remaja, kriminalitas, pemakaian obat terlarang, tawuran, lemahnya budaya antri, kebiasaan membuang sampah sembarangan, korupsi, dan perilaku menyimpang lainnya masih menjadi pemandangan sehari-hari.Kondisi sosial demikian telah mendorong semakin gencarnya tuntutan untuk meningkatkan pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Tujuan pendidikan nasional tersebut, secara eksplisit, menempatkan pendidikan budi pekerti pada posisi yang amat strategis dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan.
Dimasukkannya pendidikan agama sebagai bagian integral dalam pendidikan nasional, selain diharapkan menjadi media utama penanaman keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, juga diharapkan dapat memperkuat pendidikan budi pekerti. Diakui bahwa pendidikan agama di sekolah telah berhasil memberikan kontribusinya dalam meningkatkan ketaatan menjalankan agamanya pada aspek hubungan vertikal dengan Tuhan, meningkatkan syiar, dan meningkatkan kepekaan susila, tetapi perlu diakui pula bahwa dalam pelaksanaan pendidikan agama masih terdapat kelemahankelemahan yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terus menerus. Di antara kelemahan tersebut, yang paling dirasakan adalah belum optimalnya Pendidikan Agama di sekolah dalam memberikan sumbangan terhadap pendidikan budi pekerti yang pada hakekatnya merupakan perwujudan kesalehan sosial dan kesalehan etika dalam hubungan horizontal dengan sesama makhluk.

Sebenarnya, upaya untuk itu sejak lama juga sudah dilakukan, seperti antara lain melalui integrasi aspek keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) ke dalam pembelajaran, Pendidikan Budi Pekerti, P4 (Pedoman Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila), dan program-program lainnya. Upaya-upaya tersebut tentu sudah memberikan andil dalam peningkatan intensitas pendidikan karakter di sekolah, tetapi masih di rasakan belum mencukupi. Hal inilah yang antara lain mendorong Direktorat Pembinaan SMP mengembangan pendidikan karakter, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada penca paian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehing ga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Sejalan dengan pengembangan pendidikan karakter tersebut, sejak tahun 2008 Direktorat Pembinan SMP meluncurkan program Pembinaan SMP Berbasis Psantren (SBP) melalui kerja sama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama dan Center for Center for Research and Development in Education (CERDEV) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. SMP Berbasis Pesantren adalah SMP yang dilaksanakan dan menjadi bagian integral dalam pendidikan di pesantren. Beberapa langkah “intervensi” dalam program pembinaan SBP telah dilakukan untuk mengakselerasi pecapaian tujuan SBP sebagai model pendidikan karakter di SMP.

Mengapa Pesantren

Pendidikan sebagai sistem, sering digambarkan sebagai proses input output yang meletakkan peserta didik sebagai raw input dan tujuan pendidikan sebagai output, sedangkan dalam proses terdapat dua jenis elemen/faktor penting yang beperan “membentuk” atau “membangun”. Jenis pertama berupa elemen-elemen instrumental yang bisa direncanakan dan direkayasa, seperti: kurikulum, sarana pendidikan, sistem ketenagaan, metodologi, evaluasi, dan sebagainya. Jenis kedua berupa elemen non isntrumental, yang relatif konstan, tidak mudah diubah oleh perencana pendidikan, yaitu lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Faktor lingkungan ini, meski tidak mudah direkayasa, pada kenyataannya mampu memberikan pengaruh yang cukup berarti dalam pembentukan kepribadian anak didik. Secara kurikuler, sering dinamakan hidden curriculum, kurikulum tersembunyi yang, walaupun tidak tertulis tetapi, andilnya cukup bermakna. Dalam upaya peningkatan pendidikan karakter, lingkungan pesantren diharapkan mampu memerankan faktor non instrumental tersebut.

Menelusuri tumbuh dan berkembangnya pondok pesantren tidak terlepas hubungannya dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Pendidikan Islam di Indonesia bermula ketika orang-orang yang masuk Islam ingin mengetahui lebih banyak isi ajaran agama yang baru dipeluknya, baik mengenai tata cara beribadah, membaca Al Qur’an, dan pengetahuan Islam yang lebih luas dan mendalam. Mereka ini belajar di rumah, surau, langgar, atau masjid. Di tempat-tempat inilah orang-orang yang baru masuk Islam dan anak-anak mereka belajar membaca Al Qur’an dan ilmu-lmu agama lainnya, secara individual dan langsung. Dalam perkembangannya, keinginan untuk lebih memperdalam ilmu-ilmu agama telah mendorong tumbuhnya pesantren yang merupakan tempat untuk melanjutkan belajar agama setelah tamat belajar di surau, langgar, atau masjid.

Model pendidikan pesantren ini berkembang di seluruh Indonesia, dengan nama dan corak yang sangat bervariasi. Di Jawa disebut pondok atau pesantren, di Aceh dikenal rangkang, di Sumatra Barat dikenal surau. Nama yang sekarang diterima umum adalah pondok pesantren. Sesuai dengan latar belakang pertumbuhan dan perkembangannya, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai tempat mendidik santri untuk menjadi muslim yang taat menjalankan ajaran agama dan sekaligus menguasai ilmu-ilmu agama. Tentu saja dalam peranan utamanya ini, pendidikan di pondok pesantren tidak semata-mata bertujuan mentransformasikan ilmu pengetahuan agama dari kyai kepada santri-santrinya, melainkan juga membentuk akhlak dan kepribadian santri menjadi muslim yang istiqamah, bertanggung jawab, menghargai nilai-nilai agama di atas nilai-nilai yang lain. Oleh sebab itu, pendidikan di pondok pesantren selain mengenal kurikulum atau manhaj berupa target-target penguasaan kitab-kitab tertentu sesuai dengan pembidangan ilmu-ilmu agama, di pondok pesantren juga berlangsung proses interaksi pendidikan yang bermuara pada pembentukan karakter dan akhlaq.

Pondok pesantren tidak hanya mendidik santri menjadi ‘alim/pandai/intelek, tetapi juga membentuknya menjadi muslim yang kaffah/mumpuni/sempurna yang tidak saja pintar dan menguasai ilmu-ilmu agama, tetapi juga santri yang teguh imannya, taat menjalankan syariat, dan siap mengaktualisasikan aqidah dan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dalam tata pergaulan sesama manusia. Pesantren mempunyai ciri tersendiri, antara lain santri tinggal dalam asrama (pondok) dan pengajarannya dilakukan secara penuh 24 jam. Dalam proses pengajaran secara penuh tersebut terjadi proses interaksi antara komponenkomponen dan elemen-elemen dalam satu sistem yang saling terkait, sehingga terbentuk lingkungan khas yang “membangun” karakter santri. Pengasuh pondok pesantren tidak hanya mengajar santri tetapi lebih bersifat mengasuh dan memberikan bimbingan kepada santri. Pengasuh pondok adalah sosok teladan bagi santrinya.

Kondisi tersebut dapat tercipta karena pondok pesantren memiliki program pendidikan yang disusun sendiri (mandiri) baik yang sifat nya pendidikan formal, non formal, maupun informal serta ditunjang dengan sistem pengasramaan yang merupakan salah satu ciri khas pondok pesantren. Sistem dan pendekatan demikian menempatkan pondok pesantren bukan saja berfungsi sebagai tempat belajar ilmu pengetahuan agama melainkan juga merupakan tempat berprosesnya kehidup an itu sendiri, yang menciptakan kondisi untuk pembentukan watak dan pengembangan kepribadian. 

Pembinaan SMP Berbasis Pesantren

Pembinaan SMP Berbasis Pesantren adalah program yang dimaksudkan untuk mengintegrasikan keunggulan ”sistem” pendidikan yang dikembangkan di sekolah dengan keunggulan ”sistem” pendidikan yang dilaksanakan di pesantren. Pilihan memadukan sistem sekolah dan pesantren ini diambil setelah mengamati secara seksama mutu yang pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem. Secara umum, pesantren dan sekolah merupakan dua satuan pendidikan yang masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain. Bila mereka berjalan sendiri-sendiri, ada potensi dan kekuatan pendidikan yang terbuang sia-sia. Namun bila kedua unggulan itu dapat disatukan, maka akan lahir sebuah kekuatan pendidikan yang komprehensif untuk melahirkan anak Indonesia yang unggul. Pendidikan di sekolah memiliki keunggulan dalam pengembang an peserta didik, karena didukung oleh pelaksanaan sistem yang berjenjang, program pendidikan yang didesain secara hierarkis dan sistematis, serta adanya standarisasi pencapaian keberhasil an pendidikan. Selain itu, dalam pelak-sanaan pendidik an di sekolah, peserta didik juga mendapatkan berbagai materi yang terstruktur, faktual dan dibutuhkan terutama dalam dunia kerja, sehingga sekolah kemudian dapat memberikan kontribusi bagi pembentukan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat yang memiliki beberapa keunggulan, seperti:

1.       Misi pendidikan nya lebih banyak ditekankan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian;
2.       Kultur kemandirian dan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar secara langsung dan berlangsung dua puluh empat jam setiap hari;
3.       Penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika;
4.       Kharisma kyai sebagai manajer dan pengasuh lembaga pesantren, menjadikan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari;
5.       Hubungan kyai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi.
Meskipun secara konsep keduanya memiliki keunggulan, namun kenyataan di lapangan, kekuatan yang dimiliki SMP yang ada di pesantren tidak sama. Jika “sistem” sekolah diletakkan dalam satu kordinat sebagai sumbu x dan nilai-nilai atau kultur kepesantren an sebagai sumbu y, maka akan diperoleh empat kuadran yang menggambarkan kondisi SMP yang ada di pesantren:
1.       sekolah kuat pesantren kuat;
2.       sekolah lemah pesantren kuat;
3.       sekolah kuat pesantren lemah; dan
4.       sekolah lemah pesantren lemah.Program Pembinaan SMP

Berbasis Pesantren hakikinya adalah upaya untuk mengarahan semua SMP yang ada di pesantren masuk ke dalam kuadran 1 : sekolah kuat pesantren kuat. Program yang digagas tahun 2007 dan mulai diimplementasikan pada tahun 2008 tersebut saat ini diikuti oleh 182 SMP di pondok pesantren, tersebar di 140 kabupaten/ kota, 31 provinsi. Untuk mewujudkan harapan berfungsinya SMP Berbasis Pesantren seperti yang diharapkan, berbagai langkah telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama. Langkah-langkah tersebut tidak semata-mata pemberian bantuan, tetapi lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan pondok pesantren dalam mewujudkan visi dan misinya, karena program ini meletakkan sekolah/pondok sebagai subyek, bukan obyek.

Penguatan aspek akademis
Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, SMP Berbasis Pesantren pun diarahkan agar mampu melaksanakan pendidikan menuju tercapainya delapan standar nasional pendidikan. Untuk itu, Direktorat Pembinaan SMP telah melakukan pembinaan melalui pemenuhan ketersediaan sumber daya pendidikan, seperti pembangunan RKB, ruang belajar lain, bantuan pembangunan tempat ibadah, penyediaan alat pendidikan, alat IPA, alat TIK untuk pusat sumber belajar. Selain bantuan-bantuan yang juga diberikan kepada SMP lainnya tersebut, secara khusus telah diupayakan pula peningkatan kemampuan tenaga pendidik untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran dalam bentuk workshop pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bimbingan teknis pembelajaran pada SMP Berbasis Pesantren.

Di samping peningkatan tenaga kependidikan, mulai pada tahun 2011 Direktorat Pembinaan SMP telah menyalurkan bantuan pembinaan SBP kepada sekolah-sekolah yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Pemberian bantuan pembinaan SBP bertujuan agar SMP Berbasis Pesantren secara nyata lebih mampu dalam usahanya mewujudkan tercapainya delapan standar nasional pendidikan, yaitu : standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan
tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan; dan standar penilaian pendidikan. Jabaran dari standar nasional pendidikandipilih oleh sekolah, sesuai dengan kebutuhan dan program masing-masing, dengan tetap mengacu pada pencapaian delapan Standar Nasional Pendidikan.
Contoh kegiatan yang dapat dilakukan sekolah untuk masing-masing standar:

1. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan:
·         Membuat atau menyusun RPP berbasis pendidikan karakter dari semua silabus yang akan dipergunakan untuk proses pembelajaran;
·         Penyediaan beasiswa untuk para siswa yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik;
·         Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, palang merah remaja, UKS
·         Menyelenggarakan lomba-lomba, seperti lomba sains, lomba mengarang, lomba pidato dalam bahasa Inggris
·         Menyelenggarakan Porseni, pengembangan minat dan bakat siswa
·         Menyelenggarakan pendidikan karakter dan pembinaan pencegahan penyalahgunaan narkoba
·         Menyelenggarakan lomba sekolah sehat
·         Kegiatan lain yang relevan dengan kebutuhan sekolah.
2. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan: Peningkatan Kompetensi SDM
·         Pengembangan keterampilan guru dalam bidang studi dan metode pembelajaran, seperti contextual teaching and learning(CTL) dan pendidikan kecakapan hidup (life skill).
·         Peningkatan kemampuan dan keterampilan guru dalam pengembangan kurikulum;
·         Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dan penulisan karya tulis ilmiah.
·         Peningkatan kemampuan menggunakan multi media interaktif dalam proses pembelajaran;
·         Peningkatan kemampuan menggunakan komputer dan internet (ICT) bagi semua warga sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, karyawan);
·         Kegiatan lain yang relevan dengan kebutuhan sekolah.
3. Penguatan Manajemen Sekolah sesuai dengan Standar Pengelolaan Pendidikan
·         Pengembangan sistem pendataan dan informasi sekolah.
·         Peningkatan transparansi dan akuntabilitas sekolah dalam membuat perencanaan kegiatan dan program, implementasi dan pelaporan kegiatan sekolah
·         Workshoppenyusunan RKS dan RKAS
·         Meningkatkan kesadaran, motivasi dan keterlibatan orang tua seperti kunjungan rumah dan kelas terbuka untuk orang tua
·         Menjalin dan memperkuat hubungan dengan orang tua dan masyarakat dan stakeholderlainnya (Humas)
·         Implementasi MBS (program atau kegiatan yang mencerminkan transparansi, akuntabilitas) baik dalam bentuk administratif maupun kegiatan nyata (misalnya dalam bentuk pelaporan, kerja sama dengan media masa cetak dan elektronik);
·         Pendokumentasian berbagai panduan khusus pengelolaan dalam berbagai aspek pendidikan yang berbasis ICT, seperti manajemen kesiswaan, fasilitas, perpustakaan, penilaian, tenaga, penerapan website.
4. Pengembangan dan Implementasi Sistem Penilaian sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan
·         Kegiatan untuk memperoleh konsep dan panduan standar nasional sistem penilaian (yaitu standar nilai, standar metode penilaian, standar instrumen penilaian sesuai mapelnya, standar analisis nilai, standar kompetensi yang dinilai, dan sebagainya) melalui berbagai upaya sesuai kondisi sekolah;
·         Kegiatan untuk pendokumentasian konsep dan panduan sistem penilaian yang akan diterapkan di sekolah;
·         Kegiatan pembuatan kisi-kisi kompetensi yang akan dinilai sesuai mapelnya;
·         Pembuatan instrumen atau perangkat soal dalam berbagai bentuk/jenis sesuai mapelnya yang sesuai tuntutan kurikulum;
·         Kegiatan penilaian dan analisis nilai oleh semua guru;
·         Pendokumentasian nilai di sekolah;
·         Kegiatan lain yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.
5. Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana Pembelajaran sesuai dengan Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan
·         Menyusun dan mendokumentasikan rencana pengembangan fasilitas jangka pendek dan panjang;
·         Penyediaan dan pemeliharaan fasilitas pokok sekolah, seperti fasilitas (isi) laboratorium IPA (Biologi, dan Fisika), laboratorium multi-media (melengkapi komputer), pemasangan atau penyempurnaan jaringan internet yang terpasang lengkap ke sistem (laboratorium multimedia, perpustakaan, ruang guru, ruang kepala sekolah, TU, ruang multi media), peralatan media pembelajaran di kelas (TV, VCD, Tape, OHP, LCD, laptop);
·         Penyediaan bahan pembelajaran dan biaya pemeliharaannya seperti perangkat laboratorium, tape recorder,OHP, LCD
·         Penyediaan peralatan olah raga dan seni.
6. Standar Proses: Pengembangan Proses Pembelajaran
·         Mengupayakan jumlah siswa per rombongan belajar sesuai dengan ketentuan standar nasional;
·         Mengupayakan masing-masing siswa dapat menggunakan 1 buku pelajaran pada setiap mata pelajaran;
·         Mengembangkan model-model yang paling tepat dalam pengelolaan kelas;
·         Pengembangan atau penerapan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning);
·         Pelaksanaan supervisi pengajaran oleh kepala sekolah dan/ atau pengawas satuan pendidikan;
·         Melaksanakan proses evaluasi proses pembelajaran;
Bantuan Pembinaan SMP Berbasis Pesantren tidak boleh dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan di bawah ini.
1.       Pembangunan gedung/ruang kelas/perpustakaan baru;
2.       Pembelian atau sewa kendaraan;
3.       Disimpan di bank dalam waktu yang lama dengan maksud mendapatkan bunga;
4.       Dipinjamkan kepada siapapun;
5.       Diinvestasikan, misalnya peternakan, pertanian, perikanan, pembelian saham, atau kegiatan sejenisnya
Penguatan kultur kepesantrenan
Pembinaan SMP Berbasis Pesantren yang dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren lebih mengarah kepada penguatan nilai-nilai atau kultur kepesantrenan. Untuk itu, selain bantuan pembangunan asrama/pondok, juga telah dilakukan beberapa kegiatan untuk memperkuat integrasi kultur kepesantrenan di SMP Berbasis Pesantren. Kegiatan ini dimulai dengan identifikasi kultur kepesantrenan yang perlu diintegrasikan, pengembangan model/pendekatan dalam integrasi kepesantrenan, advokasi implementasi integrasi kultur kepesantrenan di sekolah/pondok.
Identifikasi kultur kepesantrenan telah dilakukan pada tahun 2011 dan telah menetapkan 17 macam kultur (Kemenag RI, 2011) yang akan diintegrasikan di SMP Berbasis Pesantren, yaitu:
1.       Pendalaman ilmu agama;
2.       Mondok;
3.       Kepatuhan;
4.       Keteladanan;
5.       Kesalehan;
6.       Kemandirian;
7.       Kedisiplinan;
8.       Kesederhanaan;
9.       Toleransi;
10.   Qanaah;
11.   Rendah hati;
12.   Ketabahan;
13.   Kesetiakawanan/tolong menolong;
14.   Ketulusan;
15.   Konsisten;
16.   Kemasyarakatan; dan
17.   Kebersihan.
Integrasi 17 macam kultur kepesantrenan tersebut dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: (1) integrasi kultur kepesantrenan melalui mata pelajaran; (2) integrasi kultur kepesantrenan melalui kegiatan ekstra kurikuler; dan (3) integrasi kultur kepesantrenan melalui manajemen sekolah. Dalam rangkapiloting dan mencari model yang tepat implementasinya di sekolah/pondok, mulai tahun 2012 telah dilakukan advokasi implementasi integrasi kultur kepesantrenan di sejumlah SMP Berbasis Pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kebutuhan untuk meningkatkan intensitas pendidikan karakter sudah lama dirasakan dan berbagai upaya telah dilakukan. Sejalan dengan upaya tersebut telah diluncurkan program pembinaan SMP Berbasis Pesantren yang diharapkan mampu menjadi model pendidikan karakter di SMP, dengan memadukan keunggulan pendidikan akademis di sekolah dengan keunggulan pendidikan spiritual di pesanren. Agar diperoleh efektivitas yang tinggi, program pembinaan SMP Berbasis Pesantren berusaha memberikan penguatan keduanya.

SUMBER : DIREKTORAT PEMBINAAN SMP
Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA