Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2016

SOSOK PENDIDIK MENURUT Dr ABDULLAH NASHIH ULWAN

0

Dalam kitab TARBIYATUL AULAD, Karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan, ada dibahas tentang 5 ( Lima ) Karakter dasar yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. 

Sebuah kitab yang sangat menarik yang membahas berbagai masalah pendidikan serta kajian kajiannya berdasarkan Ilmu Agama Islam.

Masalah pendidikan menjadi suatu hal penting yang diperhatikan pada saat ini. Salah satu sarana untuk memperolehnya adalah dengan bersekolah dan menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu, selain bisa bermanfaat untuk kehidupan duniawi juga menjadi ladang pahala.

Sosok yang penting dalam proses menuntut ilmu adalah seorang pendidik atau biasa disebut dengan guru. Sosok inilah yang memberikan ilmu dan teladan kepada generasi muda yang dididiknya. Akan tetapi, tidak semua pendidik bisa melaksanakan tugas tersebut dengan baik.

Berikut ke Lima karakter dasar tersebut ;

1. Ikhlas
Karakter pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru atau pendidik adalah ikhlas. Ia harus memasang niat di dalam hatinya bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut baik perintah, larangan, nasihat, pengawasan ataupun hukuman semata-mata untuk Allah SWT.

Seorang pendidik harus ikhlas melupakan pandangan manusia dan selalu memandang semua perbuatan karena Allah SWT. Dalam konteks ikhlas ini Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang dikerjakan secara tulus (ikhlas), semata-mata untuk-Nya, dan mengharapkan keridhaan-Nya.” (HR. Abu Dawud).

2. Takwa
Selain ikhlas, seorang tenaga pendidik juga harus bertakwa kepada Allah SWT yakni menjaga agar senantiasa mengerjakan amalan kebaikan dimanapun berada. Perintah untuk bertakwa ini berlaku untuk semua kaum muslim. Allah SWT berfirman:

“Dirikannya shalat serta bertakwa kepadaNya.” [QS: al an’am: 72]

Dalam bahasan takwa ini, Umar bin Khaththab pernah berdialog dengan Ubay bi Ka’ab. Sayyidina Umar bertanya, “Apa yang dimaksud takwa itu?” Ubay pun menjawab, “Apakah kamu pernah berjalan pada jalan yang berduri?”

Umar menjawab, “Ya, pernah”. Ubay pun bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan?” “Aku singkirkan duri itu,” jawab Umar. Ubay pun berkata, “Itulah takwa”.

Oleh karena itu kriteria manusia yang paling mulia dalam Islam bukanlah mereka yang memegang kekuasaan atau pun menguasai harta kekayaan, tetapi siapa yang paling takwa. Rasulullah bersabda, “Ditanyakan, wahai Rasululah: siapakah manusia yang paling mulia?” Rasulullah bersabda, “Yang paling takwa di antara mereka”.

Lebih spesifik Rasulullah juga berpesan takwa kepada para guru. “Takwalah kepada Allah, berlaku adillah kepada anak-anakmu, sebagaimana kamu menginginkan mereka semuanya berbakti kepadamu.” (HR. Thabrani).

Oleh sebab itu, penting bagi seorang pendidik untuk memiliki karakterisktik takwa ia di dalam diri mereka. Dengan demikian, maka anak didiknya agar terhindar dari perbuatan menyimpang, kesesatan serta kebodohan.

3. Ilmu
Seorang pendidik tentu saja harus memiliki karakter berilmu. Ia sudah seharusnya gemar dalam menuntut ilmu, selain karena sebuah kewajiban juga akan menjadi landasan saat disampaikan kepada anak-anak didiknya.

Keutamaan lainnya dari menuntut ilmu adalah pahala yang tidak akan terputus, selama ilmu tersebut masih terus diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya akan terputus, kecuali tiga hal: Shadaqah Jariyyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Sabar
Karakter selanjutnya yang harus dimiliki orang seorang pendidik adalah sabar. Sabar menjadi sebuah sifat mendapat yang dapat menolong keberhasilan seorang guru dalam mendidik muridnya. Sifat sabar ini bisa menjadi daya tarik untuk membuat murid menyukainya.

Ketika seorang pendidik memiliki karakter sabar, maka hari-harinya juga akan dihiasi dengan akhlak terpuji dan jauh dari perangai tercela. Tentu saja perbuatan seperti ini bisa menjadi teladan bagi anak-anak didiknya.

Bahkan Allah SWT berulang kali memberikan peringat kepada manusia agar tetap bersabar dalam upaya apapun terlebih lagi dalam mendidik generasi masa depan. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang terjadi, teruslah bersabar agar mendapat balasan dari Allah. Allah SWT berfirman:

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. 11 : 11).

5. Bertanggung Jawab
Karakter terakhir yang harus dilimiliki oleh seorang pendidik menurut Nashih Ulwan adalah bertanggung jawab. Hal ini meliputi aspek keimanan, tingkah laku keseharian, kesehatan jasmani-ruhani, maupun aspek sosialnya. Tidak hanya guru yang harus bertanggung jawab, namun semua aspek di dalam lingkungan pendidikan tersebut harus melakukan hal yang sama.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinannya, apakah dipelihara atau disia-siakan-nya, sehingga bertanya kepada laki-laki tentang keluarganya.” (HR: Ibn Hibban).

Demikianlah informasi mengenai lima karakter dasar yang harus dimiliki seorang tenaga pendidik. Ketika mereka memiliki lima karakter di atas, maka hal tersebut akan menghindarkan murid-muridnya dari kerusakan dan kelemahan iman. 
semoga bermanfaat..
Read More »

Senin, 13 Juni 2016

PERAN SERTA SMP BERBASIS PESANTREN

0



Sebagai Upaya Menanamkan Pendidikan Karakter kepada Generasi Bangsa
Di tengah arus globalisasi dan modernitas seperti sekarang ini, karakter dan moralitas bangsa menjadi satu dari sekian banyak persoalan utama yang dialami oleh negara-negara berkembang, termasuk Indone-sia. Bagi negara-negara kapitalis, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk memasarkan berbagai produk budayanya. Selain memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, sebagian masyarakat Indonesia mempunyai sifat konsumtif dan latah sehingga sangat berpotensi dijadikan pangsa pasar yang menguntungkan bagi produk-produk dari bangsa lain. 

Meskipun tidak semua produk budaya asing menimbulkan dampak negatif, namun hendaknya kita perlu berhati-hati dengan menyaring produk-produk asing yang bernilai positif dan mana yang kurang bermanfaat bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan bangsa. Apabila tidak ada upaya untuk memilah dan memilih, maka akan menimbulkan persoal- an di kemudian hari, salah satu yang paling riskan adalah karak ter generasi muda Indonesia yang terancam luntur, bahkan akan hilang. Adalah suatu kerugian besar apabila anak-anak negeri ini tidak lagi memiliki karakter luhur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Upaya untuk menyaring, memilah, dan memilih bukan berarti menolak semua produk budaya asing yang masuk ke negeri ini. Apabila ada produk-produk budaya asing yang bernilai manfaat, seperti disiplin yang tinggi, kerja keras, dan lain-lain tidak menjadi masalah jika kita menerimanya. Sebaliknya, apabila produk-produk budaya asing itu dicuri- gai dapat menimbulkan efek yang kurang baik, dalam hal apapun, maka sebaiknya kita lebih bijak dalam menyikapi-nya.

Indonesia bukanlah bangsa yang menutup diri dari per- gaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Justru Indonesia harus segera berbenah dan berupaya sekuat tenaga agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di berbagai sektor kehidupan, tanpa harus meninggalkan karakter dan ciri khas lokal yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan zaman yang terus berjalan menuju masa depan yang semakin kompleks dibutuhkan suatu strategi yang mampu mengintegrasikan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional para genera- si bangsa. Salah satu sektor yang paling berperan dalam hal ini adalah pendidikan baik itu pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Pendidikan yang baik adalah salah satu syarat utama yang harus dipenuhi untuk menjamin eksistensi suatu bangsa agar mampu bersaing dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Tidak hanya itu, pendidikan juga sangat berperan untuk mem- bentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi dan seimbang antara unsur intelektual, moral, dan spiritual. Dengan pendidikan yang bermutu dan tersistem dengan baik, maka karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang unggul akan terbentuk dan terpupuk dengan baik pula. 

Bagaimana- pun pendidikan merupakan investasi peradaban manusia. Proses pendidikan sejak dini, baik secara formal, informal, maupun nonformal, menjadi tumpuan untuk melahirkan manusia baru Indonesia dengan karakter yang kuat. Adapun karakter kuat ini dicirikan oleh kapasitas moral seseorang, seperti kejujuran, kekhasan kualitas seseorang yang membe- dakan dirinya dari orang lain, serta ketegaran untuk meng- hadapi kesulitan, ketidak enakan, dan kegawatan (Hidayat, Komaruddin & Putut Widjanarko, 2008, h. 184). Karakter bangsa yang kuat bisa diperoleh dari sistem pen- didikan yang baik dan tidak hanya mementingkan faktor kecerdasan intelektual semata, melainkan juga pendidikan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan serta meng- hasilkan output yang tidak sekadar mampu bersaing di dunia kerja, namun juga mampu menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Untuk mewujudkan hal itu, maka diperlukan pendidikan yang mencakup dua unsur utama, yaitu keunggulan akademik dan keunggulan spiritual.

Pendidikan formal di sekolah meru- pakan salah satu upaya untuk pem- bentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan mulai jenjang sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Ada dua model penyelenggaraan pendidi- kan yang selama ini telah berkembang di Idnonesia yaitu pendidikan formal di sekolah dan pendidikan non formal diantaranya dilak- sanakan di pondok pesantren. Di samping itu, pondok pesantren juga menjadi salah satu pilihan pendidikan karena lembaga ini mengutamakan upaya pencerdasan spiritual atau keagamaan. Dalam perkembangan- nya, sekarang ini banyak pondok pesantren di Indonesia yang juga menyelenggarakan pendidikan formal persekolahan. Pilihan memadukan sistem pendidikan formal formal di sekolah dan pondok pesantren ini, karena secara umum sekolah dan pondok pesantren merupakan dua lembaga pendidikan yang masing – masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain. Apabila keunggulan dari kedua lembaga pendidikan itu dipadukan, maka akan tercipta se- buah kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul, handal, dan berkarakter. Pesantren di Indonesia yang telah menyelenggarakan pen- didikan formal persekolahan ini jumlahnya cukup banyak dengan kualitas yang sangat bervariasi. Untuk itu Direktorat Pembinaan SMP, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Ke- menterian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ke- menterian Agama melakukan pembinaan agar upaya-upaya pembentukan karakter di atas menjadi lebih optimal. Perspektif Teoritis Pengertian pendidikan secara harfiah adalah proses, cara, atau perbuatan mendidik. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikir- an (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008, h. 352). Secara lebih rinci, pendidikan dapat dimaknai sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepriba- dian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia. Secara psikologi, tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Istilah karakter mempunyai beberapa pengertian. Kamus Besar Ba- hasa Indonesia (KBBI) mengartikan karakter sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain (Pusat Bahasa, 2005, h. 1270). Watak sendiri dapat dimaknai sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti, serta tabiat dasar. Menurut Musfiroh (2008, h. 27), karakter mengacu pada serangkaian sikap perilaku (behavior), motivasi (motiva- tion), dan keterampilan (skill) yang meliputi keinginan untuk melakukan hal yang terbaik. Sedangkan menurut Semiawan (dalam Soedarsono, 1999, h. 17) karakter adalah keseluruhan kehidupan psikis seseorang yang merupakan hasil interaksi antara faktor endogin dan faktor eksogin atau pengalaman dari seluruh pengaruh lingkungan. Untuk menjadi manusia yang berkarakter, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai moral tanpa disertai adanya karakter bermoral. Adapun yang termasuk dalam karakter bermoral, menurut Lickona (1992) adalah tiga komponen karakter (components of good character), yakni pengetahuan tentang moral (moral know- ing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan perbuatan bermoral (moral actions). Ketiga hal ini diperlukan agar se- seorang mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berpikir positif, simpati, empati, jujur, religius, peduli, rendah hati, dan lain-lain.

Usia sekolah menengah pertama (kurang lebih usia 12 - 15 tahun) menjadi masa pengembangan karakter yang paling penting dalam fase kehidupan manusia. Fase ini disebut dengan nama Period of Formal Operation. Pada usia ini, seseorang sedang mengalami fase pencarian jatidiri yang ditandai dengan kemampuan berpikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang kongkret, bahkan objek visual sekalipun. Selain itu, pada tahap Period of Formal Operation juga sedang berkembang 7 (tujuh) kecerdasan yang disebut Multiple Intelligences. Adapun ketujuh jenis kecerdasan itu mencakup linguistic intelligence, logical-mathe matical intel- ligence, spatial intelligence, bodily-kinesthetic intelligence, mu- sical intelligence, interpersonal-intelligence, dan intrapersonal intelligence (Rosada, 2009, h. 108). Dengan demikian, pendidikan, terutama usia siswa SMP tidak bisa mengabaikan pentingnya pembentukan karakter, atau yang kemudian dikenal sebagai pendidikan karak- ter. Lantas apakah pendidikan karakter itu? Secara umum pendidikan karakter adalah suatu istilah untuk menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkem- bangan personal. Sebagaimana telah ditulis di atas, Lickona (1992) menjelas- kan bahwa pendidikan karakter adalah upaya penanaman dan pembentuk an karakter yang menekankan pada pent- ingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feel- ing atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral.

Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan proses yang ter- integrasi dengan pendidikan secara luas dan bertahap, dari pendidikan di dalam keluarga, lembaga pendidikan (misal- nya sekolah, baik formal, informal, atau nonformal), hingga di kehidupan bermasyarakat. Pendidikan karakter juga menjangkau proses penanaman nilai-nilai agama, budaya, adat-istiadat, dan estetika. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah upaya agar peserta didik mengenal, peduli, dan menginteranalisasi nilai-nilai sehingga mereka dapat berperilaku sebagai insan kamil (Syafaruddin, 2012, h. 192). Dalam konteks ini, lembaga pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai agama atau spiritual, seperti pondok pesantren, mutlak diperlukan. Jika sekolah formal (SD, SMP, SMA, SMK, dan sejenisnya) memfokuskan sistem pendidikan- nya pada sektor kecerdasan intelektual atau akademik, maka pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mengutamakan pengajarannya pada sektor kecerdasan spiri- tual dan pendalaman ajaran agama Islam. Pandangan tentang pondok pesantren sendiri cukup bera- gam. Pondok pesantren dapat dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, atau lembaga pendidikan Islam. Sejak didirikan pertama kali, pesan tren memang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan peng ajaran dalam bidang agama Islam (Widiyanta & Miftahuddin, 2009, h. 180-181). Istilah pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang mendapatkan imbuhan berupa awalan pe- dan akhiran -an. Oleh karena itu, pesantren dapat dapat diartikan sebagai tempat tinggal para santri. Arti kata santri sendiri adalah orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beriba- dah dengan sungguh-sungguh, atau orang yang saleh (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008, h. 1266). Pesantren kemudian lebih dikenal dengan sebutan yang lebih lengkap, yaitu pondok pesantren. Pesantren disebut dengan pondok karena sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendi- dikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau berasal dari bahasa Arab yang berarti hotel atau asrama (Dhofier, 1994, h. 18). Sama seperti sekolah formal, pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar-mengajar. Unsur-unsur yang terdapat di lembaga pondok pesantren pun serupa dengan yang terdapat di seko- lah formal. Ada kiai sebagai guru, santri sebagai murid, kitab sebagai buku, pondok sebagai kelas dan asrama, pen dalaman ajaran agama (termasuk pengajaran kitab) sebagai mata pelajaran, dan seterusnya. Oleh karena itu, dalam perkembangannya pada konteks pen- didikan, makna pondok pesantren pun menjadi meluas dan tidak sempit lagi. Kuntowijoyo (1991, h. 251), menggambar- kan tempat-tempat seperti madrasah, tempat keterampilan (kursus), universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum pun terkadang menjadi unsur-unsur seperti sebuah pondok pesantren.

Pendidikan di pondok pesantren seringkali dikategorikan ke dalam sistem pendidikan tradisional karena lembaga ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia (Mastuhu, 1994, h. 55). Namun demikian, seiring perkembangan zaman, di Indonesia seka- rang ini banyak pesantren yang memperbaharui konsepnya menjadi lebih modern, seperti Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam di Jawa Tengah, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur, Pondok Pesantren La Tansa di Jawa Barat, dan lain sebagainya. Upaya memadukan pendidikan sekolah formal, khususnya SMP, dengan pondok pesantren akan menghasilkan sistem pendidikan yang lebih kuat dan lengkap. Pengembangan model pendidikan SMP berbasis pesantren sebenarnya merupakan upaya dalam memadukan keunggulan pelaksa- naan sistem pendidikan di sekolah dan keunggulan pelaksa- naan sistem pendidikan di pondok pesantren. Mengapa Harus Dimulai di SMP? Pemerintah melalui kementerian terkait sesungguhnya sudah berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan formal me- lalui berbagai cara dan langkah yang terus disempurnakan. Upaya tersebut misalnya dengan menyusun kurikulum yang dinamis dan fleksibel dengan penyediaan bahan ajar yang disusun secara sisrematis sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Strategi dan model pembelajaran pun telah dirumuskan dengan bentuk yang variatif dan berorientasi pada efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Selain itu, peningkatan kualitas juga ditujukan untuk para pendidik yang harus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai dan bisa dipertang gung jawabkan. Pemerin- tah juga mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana sebagai penunjang proses pendidikan, serta sistem penge- lolaan sekolah yang lebih profesional. Salah satu sasaran utama sekolah formal yang akan dipadukan dengan sistem pendidikan di pesantren adalah sekolah menengah pertama atau SMP. Mengapa demikian? karena siswa sekolah usia SMP, yaitu antara 13-15 tahun, merupakan tingkat usia yang rentan. Tingkat usia ini merupakan usia peralihan dari masa anak-anak ke usia remaja. Usia anak SMP termasuk ke dalam fase genital di mana pada masa ini, proses psikoseksual seseorang mencapai “titik akhir”. Fase ini juga sering disebut dengan nama masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan dalam tubuh yang mengiringi rangkaian pendewasaan, baik fisik maupun psikis. Para psikolog menyebut masa pubertas sebagai masa yang sarat akan badai dan tekanan (storm and stress). Pada usia ini, seseorang sudah tidak lagi dipan dang dan diperlakukan sebagai anak-anak, namun juga belum sepenuhnya meng adopsi, apalagi mempratikkan, pola perilaku usia dewasa (Amriel, 2008, h. 19).

Ketika mengalami masa pubertas, seseorang akan dihadapkan pada berbagai kebutuhan akal. Zahran (dalam. Az-Zaba- lawi, 2007, h. 516) menggolongkan berbagai kebutuhan akal pada fase pubertas menjadi beberapa jenis kebutuhan, antara lain kebutuhan berpikir dan memperluas dasar pemikir- an serta perilaku, kebutuhan ingin mengetahui berbagai hakikat, kebutuhan ingin mendapatkan penjelasan tentang berbagai hakikat, dan kebutuhan akan kedisplinan. Selain itu, kebutuhan akan berbagai pengalaman baru, kebu- tuhan untuk memenuhi kebutuhan diri dengan cara bekerja, dan kebutuhan untuk meraih kesuksesan studi, kebutuhan untuk mengungkapkan jatidiri, kebutuhan akan kesesuaian, kebutuhan ingin melakukan hal-hal yang menarik perha- tian dan menantang, kebutuhan akan berbagai maklumat dan perkembangan kemampuan, kebutuhan mendapatkan pengarahan yang bersifat memperbaiki dan mendidik, dan lain sebagainya (Az-Zabalawi, 2007, h. 516). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia remaja atau usia siswa SMP adalah usia pencarian identitas dan sangat rentan terjerumus dalam lingkungan pergaulan yang cenderung negatif. Oleh karena itu, di samping dikawal melalui pendidikan formal di sekolah, remaja pada usia ini juga perlu diberi asupan mengenai pemahaman yang bersifat spiritual, dalam hal ini adalah sistem pendidikan pondok pesantren. Seperti halnya di sekolah formal, sebagaimana telah dising- gung sebelumnya bahwa sistem pendidikan di pesantren juga memiliki beberapa keunggulan yang tentunya memi- liki kekhasan tersendiri. Keunggulan yang dimiliki pondok pesantren antara lain, misi pendidikannya banyak ditekan- kan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian, kultur kemandirian dan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar secara langsung dan berlangsung 24 jam sehari. 

Selanjutnya, penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika, kharisma kyai sebagai manajer dan pengasuh lembaga pesantren menjadi- kan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari, serta hubungan kyai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi (Kemdiknas, 2011, h. 3). 

Perpaduan sistem pendidikan sekolah menengah pertama dan pondok pesantren menuntut adanya harmonisasi antara 2 (dua) keunggulan model pendi dikan dalam satu ling- kungan yang dikelola secara terpadu, saling mengisi, dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi sumber daya manusia Indo nesia yang handal. Tujuan tersebut tentu saja baru bisa dicapai apabila ada tin dakan-tindakan kong- kret yang dipelopori oleh pemerintah melalui kementerian terkait bersama-sama dengan lembaga pendidikan dan masyarakat. Oleh karena itu sejak tahun 2008 Direktorat Pembinaan SMP, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kemeterian Agama dibantu oleh CERDEU UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan pembinaan terhadap SMP yang ada di pesantren pada berbagai provinsi di Indonesia. Sampai dengan tahun 2014, telah ada 230 SMP Berbasis Pesantren yang melakukan program – program kerjasama dari dua kementerian tersebut. Di antara program yang dilaksanakan Direktorat Pembinaan SMP, Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas penyeleng- garaan pendidikan adalah seperti pembinaan pada SMP-SMP reguler lainnya, diantaranya 1) pemenuhan kebutuhan sarana prasarana sekolah seperti ruang kelas baru (RKB), uang be- lajar lain (RBL), rehabilitasi gedung sekolah, penyediaan alat pendidikan, 2) bimbingan teknis kepada kepala sekolah dalam penyusunan RKS dan RKAS serta pengembangan KTSP kepada para guru, 3) pemenuhan standar pembiayaan, seperti bantuan operasional sekolah (BOS), bantuan siswa miskin (BSM), dan beasiswa bakat dan prestasi. Di samping itu, Direktorat Pembinaan SMP juga memberi- kaan subsidi yang dikirim dan dikelola langsung oleh seko- lah dalam rangka pengembangan SMP Berbasis Pesantren untuk memenuhi Standar-standar Nasional Pendidikan (SNP). Besaran subsidi yang diberikan bervariasi tergantung pada jumlah siswa yang ada di masing-masing SMP Berbasis Pesantren. 

Dalam rangka memperkuat dan mempertajam pelaksanaan pendidikan karakter di SMP, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag memotori penyusunan panduan integrasi kultur pesantren ke dalam proses pem- belajaran, ekstra kurikuler dan manajemen sekolah. Upaya ini juga diperkuat dengan program Direktorat Pembinaan SMP, Kemendikbud menyelenggarakan workshop-workshop secara bertahap yang diikuti oleh para wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru mata pelajaran IPA (Fisika dan Bi- ologi), Matematika, IPS, bahasa (Indonesia dan Inggris) dari 182 SMP Berbasis Pesantren untuk menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bernuansa kultur pesantren yang pada intinya juga berisi nilai-nilai pendidik- an karakter. Adapun kultur kepesantrenan yang ditekankan tersebut adalah: Pendalaman Ilmu-ilmu Agama, Mondok, Kepatuh-an, Keteladanan, Kesalehan, Kemandirian, Kedisiplinan, Kesederhanaan, Toleransi, Qana’ah, Rendah Hati, Ketabahan, Kesetiakawanan/Tolong Menolong, Ketulusan, Istiqamah, Kemasyarakatan, Kebersihan. Oleh karena itu, jika SMP berbasis pondok pesantren dikelola dengan baik, maka hasil yang akan diperoleh pun juga berkualitas baik. Lulusan SMP Berbasis Pesantren diharapkan bisa menjadi manusia Indonesia yang handal, memiliki integritas intelektual, spiritual, dan emosional, serta berwatak plural dan multikultural, menghargai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang madani, berkarakter, serta mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sumber :  http://ditpsmp.kemdikbud.go.id/
Read More »

Jumat, 10 Juni 2016

KALENDER PENDIDIKAN TAHUN AJARAN 2016-2017

0
Kalender  pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik  selama satu tahun pelajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Setiap permulaan awal tahun pelajaran, sekolah / taman kanak – kanak menyusun kalender  pendidikan untuk mengatur waktu kegiatan pembelajaran selama satu tahun ajaran,  mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
Pengaturan waku belajar di taman kanak – kanak mengacu kepada standar isi dan  disesuaikan dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah / taman kanak – kanak,  kebutuhan peserta didik dan masyarakat, serta ketentuan dari pemerintah atau pemerintah  daerah.
Kalender Pendidikan (Kaldik) Tahun Pelajaran 2016/2017
Dalam kalender akademik terdapat beberapa komponen, diantaranya :
1. Tahun Ajaran 
Tahun ajaran merupakan awal dari dimulainya kegiatan pembelajaran di sekolah. Tahun ajaran baru ditetapkan oleh Dinas yaitu pada Bulan Juli setiap tahun dan berakhir di Bulan Juni tahun berikutnya.

2. Minggu Efektif 
Minggu efektif adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Minggu efektif untuk PAUD adalah 34 Minggu dalam satu tahun. Tapi setiap sekolah bisa menyesuaikannya sesuai kondisi dan kebutuhan sekolah.

3. Hari Libur 
Hari libur adalah waktu yang ditetapkan untuk  tidak diadakannya kegiatan belajar mengajar terjadwal. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan dan libur nasional.
Setiap Kota/Kabupaten juga lembaga dapat menetapkan hari libur khusus diluar hari libur yang ditetapkan. Hal tersebut disesuaikan dengan rencana yang dibuat oleh lembaga tersebut.

Hali libur tersebut mencakup :
- Libur Semester
- Libur hari-hari besar keagamaan
- Libur nasional
- Cuti bersama
- dan Libur khusus yang ditetapkan lembaga.
Fungsi kalender pendidikan :
- Mendorong efektivitas dan efesiensi proses pembelajaran di sekolah
- Menyerasikan ketentuan mengenai hari efektif dan hari libur sekolah
- Pedoman dalam menyusun program kegiatan pembelajaran sekolah
- Pedoman bagi guru untuk menyusun program tahunan, program semester serta membuat silabus dan satuan acara pembelajaran 
Kalender Pendidikan (Kaldik) tahun pelajaran 2016/2017 ini digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembelajaran efektif baik di tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK. Berdasarkan Kaldik tahun pelajaran 2016/2017 ini hari belajar efektifnya berjumlah 212 hari per semester. Sedangkan Jumlah Minggu Efektifnya sebanyak 35 minggu dalam 2 semester. Untuk tahun pelajaran 2016/2017 akan dimulai pada hari Senin, 18 Juli 2016 dan akan berakhir pada hari Sabtu, 17 Juni 2017. 
Read More »

Kamis, 02 Juni 2016

WORKSHOP SBP ANGKATAN KE 2 tahun 2016 DI YOGYAKARTA

0
Alhamdulilah pada Tahun 2016 ini tepatnya tanggal 30 Mei s/d 2 Juni 2016, SMP.S. Hidayatus Saalikin masih bisa mengikuti program Pembinaan SBP ( Sekolah Berbasis Pesantren ) yang diselenggaran di Hotel Grand Quality Jl Adisucipto 48 Yogyakarta. Ada beberapa perubahan dalam program SBP tahun 2016 ini, dimana dulunya program yang merupakan bantuan sosial berubah menjadi program bantuan Pemerintah yang langsung di bawah Kemdikbud dan Kemenag,  program inipun menjadi program unggulannya KEMDIKBUD.

Pada angkatan I workshop yang diiukti lebih dari 100 sekolah SMP Berbasis Pesantren dan pada angkatan yang ke 2 di ikuti oleh lebih 50 an sekolah SMP berbasis Pesantren se Indonesia. Ada beberapa perubahan dengan berbagai konsekwensi dari program SBP sekarang, baik itu secara keadministrasian dan lain sebagainya, yang mana tentunya output akhir dari program ini adalah kwalitas siswa/siswi di Sekolah Sekolah Berbasis Pesantren itu sendiri.

Semoga dengan program SBP ( Sekolah Berbasis Pesantren ) yang diawasi langsung oleh Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan juga instasi lainnya yang terkait ( BPK ), Program ini akan jauh lebih baik lagi dan tepat sasaran sehingga mutu pendidikan di Pondok Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan Umum akan bisa lebih kompeten dan jauh lebih berprestasi.
Maju terus SBP..Terima kasih Pak Chamdun, Pak Nasir dan semuanya...semangat terus berjuang untuk kemashlahatan Ummat.."lebih baik SBP..SBP lebih Baik"..

Read More »

Sabtu, 21 Mei 2016

ANAK ANIS BASWEDAN TIDAK MASUK DALAM (SNMPTN) 2016

0
Jakarta - Mendikbud Anies Baswedan bercerita tentang anaknya yang tidak lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016. Anies menyebut anaknya tidak lulus karena perbedaan kurikulum yang anaknya alami karena sempat melakukan pertukaran pelajar.

"Iya anak saya daftar SNMPTN enggak masuk. Bapakmya enggak ikut-ikut, saya (hanya) ikut nemenin daftar. Anak saya itu karena ganti kurikulum. Jadi dia kelas 1 dan 2 pakai kurikulum lama KTSP, lalu dia pergi pertukaran pelajar 1 tahun di Denmark. Ketika pulang, sekolahnya pakai kurikulum 2013, konversinya lain," ujar Anies di Hotel Grand Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2016).

Anies mengaku tidak mengupayakan sesuatu ketika anaknya tidak lulus SNMPTN. Ia memberi pesan pada anaknya untuk tetap menjadikan pelajaran hidup akibat kejadian ini.

"Tapi saya enggak usahain satu sama lain, biarkan saja dan biarkan itu jadi bagian dari pelajaran hidup. Hidup itu penuh naik dan turun. Saya katakan kepada dia belajar lagi sekarang, belajar all out ikuti ujian. Masih ada dua kesempatan," kata Anies.

Dia lalu menambahkan cerita tentang dirinya yang juga tidak lolos tes serupa, ketika itu namanya adalah PMDK. Tetapi Anies tak patah arang begitu saja dan mengikuti tes UMPTN (sekarang SBMPTN, -red), sehingga ia diterima di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM tahun 1989.

"Insya Allah, jika kerja keras bisa lulus ujian seleksi nanti," tutur Anies.

Ia juga mengimbau kepada anak-anak dan orang tua untuk tidak putus asa akibat tidak mendapatkan kampus yang diidamkan. Ia menyebut masih ada kesempatan lainnya seperti SBMPTN dan ujian mandiri.

"Masih banyak kesempatan dan katanya kalau mereka berprestasi insya Allah daftar seleksi SBMPTN itu lulus," ujar Anies.

Sementara itu, tak satupun dari 380 siswa IPA reguler SMAN 3 Semarang lolos SNMPTN. Sebaliknya siswa IPS dan IPA Akselerasi lolos. Mendikbud Anies Baswedan menyebut masalahnya bukan di SKS, tetapi ada faktor lain.

"Di SMA yang sama sekolah yang jurusan IPS enggak masalah. Berarti masalahnya enggak di SKS. Berarti ada faktor lain. Saya ingin membantu meluruskan saja cara kita mencari kesimpulan. Kalau karena sistem itu buktinya ada sekolah lain yang bisa," ujar Anies.

Anies menyebut ada 50 sekolah yang pakai sistem SKS, dari 50 ada 7 sekolah yang pakai sistem SKS di Jateng. Dalam pelaksanaan SNMPTN ini sekolah diharuskan memiliki database siswa hingga riwayat nilai rapornya dan mengunggahnya ke sistem yang dinamakan Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) online.

Tidak lulusnya siswa SMA 3 Semarang jurusan IPA disebut akibat ada nilai yang tidak terisi di sistem PDSS. Anies sangat menyayangkan hal tersebut. Anies berharap sistem itu bisa mengatur data yang belum lengkap.

"Menurut saya sistemnya itu kasihan anak-anak kalau memang harus diisi lengkap. Harusnya kalau belum lengkap ya enggak bisa submit dong. Kan kasihan mereka belum lengkap enggak bisa disubmit. Yang terjadi sekarang kan panitia mengatakan data enggak bisa disubmit. Anak-anak kasihan," ungkap Anies.

Sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah SMAN 3 Semarang bidang Kurikulum, Emmy Irianingsih menjelaskan Sistem Kredit Semester (SKS) dengan pola discontinue yang artinya mata pelajaran disetting on atau off pada semester tertentu. Sistem ini dilaksanakan sejak 2012.

Pola SKS tersebut yaitu dibuat empat seri yang dikembangkan untuk 5 atau 6 semester, sehingga mata pelajarannya dibagi. Jika dalam satu semester tidak ada mata pelajaran misalnya Kimia, maka statusnya off.

"Bukan nilainya yang kurang, memang mata pelajarannya tidak muncul karena off, jadi munculnya misal di semester 1, 3, 4, dan 6," terang Emmy.

Menurut Emmy, nilai yang kosong di PPDS online adalah mata pelajaran yang statusnya off. "Yang off itu (yang kosong), karena memang tidak ditempuh misal Kimia di semester 3. Karena off mata pelajaran tidak muncul di setiap semester," pungkas Emmy.


(jor/jor)
Read More »

Minggu, 15 Mei 2016

EMPAT PILAR KEBANGSAAN DI PONDOK PESANTREN

1

Pondok pesantren dengan sendirinya sudah mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan yang selama ini terus disosialisasikan MPR RI. Sebab, nilai-nilai Empat Pilar sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pondok pesantren.

Demikian disampaikan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid saat membuka sosialisasi Empat Pilar di Pondok Pesantren Modern Baitussalam Prambanan, Yogyakarta, Senin (18/4/2016).

4 pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI adalah :

1. pancasila, Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD 1945 atau UUD ‘45, adalah hukum dasar tertulis (basic law), konstitusi pemerintahan negara Republik Indonesia saat ini.

3. Bhinneka Tunggal Ika, Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

4. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), adalah bentuk dari negara Indonesia, dimana negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan, selain itu juga bentuk negaranya adalah republik, kenapa NKRI, karena walaupun negara Indonesia terdiri dari banyak pulau, tetapi tetap merupakan suatu kesatuan dalam sebuah negara dan bangsa yang bernama Indonesia.

"Sosialisasi Empat Pilar di lingkungan pesantren hanya untuk menyegarkan kembali agar kita hidup dan menghidupi Indonesia, karena inilah negara kita," katanya.

Hidayat memberi contoh implementasi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Empat Pilar Kebangsaan. Khususnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

"Pondok pesantren sudah melaksanakan Pancasila sehari-hari," ujarnya.

Contohnya, tidak ada aksi tawuran antar pesantren atau tawuran antar santri. Menurut Hidayat, komunitas pesantren adalah manusia yang adil dan beradab.

"Sila Persatuan Indonesia, pondok pesantren sangat meng-Indonesia, sangat mementingkan persatuan. Sila keempat, segala sesuatunya dimusyawarahkan di pesantren. Dan, sila kelima Pancasila, kehidupan di pesantren sangat sederhana dan tidak bermewah-mewah," papar Hidayat.

Dengan sosialisasi Empat Pilar di kalangan pesantren, MPR ingin menyegarkan kembali ke-Indonesiaan.
"Kita ingin menjaga, memajukan, dan menyelamatkan Indonesia agar tidak tercabik-cabik. Umat Islam bukanlah musuh negara. Terorisme bukanlah ajaran Islam," katanya.

Sementara, pimpinan Pondok Pesantren Modern Baitussalam KH. Abdul Hakim berharap dengan sosialisasi Empat Pilar akan mengkokohkan nilai pilar kebangsaan di kalangan santri.
"Pondok pesantren bukanlah teroris. Insya Allah, dengan sosialisasi ini para santri bisa menjadi nasionalis sejati," ujarnya.

"Sosialisasi ini untuk memahami kembali esensi dari pilar-pilar kebangsaan. Semoga para santri bisa bertambah wawasan terhadap kesatuan bangsa," harapnya.



Read More »

Minggu, 08 Mei 2016

MENJAGA MENTALITAS SEMANGAT BELAJAR DENGAN ASRAMA YANG TERTATA DI PONDOK PESANTREN

1
"Everything Is Not For every single person"..sudah Sunatullahnya begitu, ada siang ada malam, ada laki laki ada perempuan ada yang rajin ada yang malas, ada dokter ada pasien ada polisi ada penjahat, dsb. Namun bukan berarti harus stuck disitu terus pasrah pada keadaan "Iya lah saya mah emang kurang tanggap" terlalu skeptis...jika jawabannya hanya sampai disitu..dimana penyerahan hasil akhir yang dikemukakan duluan..Usaha, Ikhtiar, Du'a dan Penyerahan atas Hasil Usaha sepenuhnya pada Dia Yang Maha Kuasa adalah point akhir, bukan tujuan.

 Membangkitkan mentalitas siswa untuk memiliki semangat belajar tinggi tidak mudah, terlebih jika mereka sudah "penuh warna dan coretan", baik itu dari lingkungan sosial mereka, juga sekolah, jawaban jawaban skeptis acap kali terucap dari mereka, di Pondok Pondok Pesantren akan lebih kompleks lagi, dibandingkan dengan sekolah sekolah umum, dimana siswa/wi tinggal dalam asrama, stau kobong dengan siswa/wi lainnya, interaksi sosial terjadi dengan frekwensi yang tinggi dimana mau tidak mau jika filter dari seorang santriwan/ti kurang handal maka sikap sikap sosial negatif seperti malas belajar akan mempengaruhi santri lainnya.

Dan biasanya si siswa/wi atau santriwan/ti yang berprilaku sosial kurang baik tadi akan berusaha memberikan pengaruh negatif pada rekannya baik itu anjuran atau tindakan dengan acuan biar rekannya tidak bisa berprestasi baik dalam pembelajaran umum terutama. Ketika Temannya yang mempunyai motivasi untuk maju sedang belajar ( buka buka buku pelajaran ) maka dia akan dengan sengaja hanya tiduran misalnya, dan menghilangkan motivasi temannya dengan berucap "Alah..ngapaiin belajar nanti juga hasilnya begitu". Tidak pernah dia berucap tulus "Jangan contoh saya, kamu harus lebih baik dari kami, belajar sana yang rajin kamu harus jadi orang jandi santri yang baik dan bisa dibanggakan" dan anjuran anjuran serta motivasi motivasi  membangun lainnya.


Yang dikhawatirkan adalah pengaruh pengaruh buruk tadi yang pada ujungnya mempengaruhi pada mentalitas siswa/wi yang memang meiliki potensi, yang tentunya akan membawa kebaikan pada dirinya pribadi, orang tua, nama Pondok/sekolah dan lingkungannya, dia akan kehilangan semangat belajar "iya, ya..mengapa saya belajar rajin rajin toh hasilnyapun ntar begitu atau lain-lainnya" .

Kembali pada tulisan diatas sebelumnya akan sunatullah ada baik ada buruk dlsb, Output akhir yang diinginkan oleh semua lembaga pendidikan, baik itu Pondok - pondok Pesantren ataupun umum adalah kualitas siswa, baik itu iman dan ahlak mereka serta wawasan mereka. dan tugas Lembaga untuk mementuk karakter karakter, kepribadian - kepribadian ke bentuk yang jauh lebih baik lagi.

Di Pondok Pondok Pesantren terutama Pondok Terpadu dan Modern dalam hal ini karena di Salafiyah tidak ada pembelajaran Umum, sehingga santriwan/ti akan lebih focus pada item diniyah saja, Kobong atau Asrama yang tertata apik merupakan salah satu solusinya dimana maximal santriwan/ti yang tinggal dalam satu ruang tidak terlalu over dengan ratio yang seimbang. Bukan memilah milah atau pilih kasih atau diskriminasi sosial, namun jika Santriwan/wati tinggal dalam satu Kobong perkamar dengan ratio yang baik, mereka akan mendapatkan rekan yang sejiwa dengan mereka yang mempunyai semangat dan visi yang sama, tentunya akan sangat lain jika tinggal dalam satu "barak". Juga Masalah kesehatan, pengapnya kobong, dan lain sebagainya tentunya menjadi pertimbangan lain juga dengan adanya Asrama Pondok ( Kobong ) yang baik dan Tertata.

Pun Halnya dalam hal ini Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin yang ada di Desa Pembuang Hulu I, Kecamatan Hanau Kabupaten/Kota Seruyan, Kalimantan Tengah, Kondisi Asrama Siswa/wi ( Kobong ) sudah tidak memenuhi kriteria lagi,ditinjau dari kelayakannya sebagai sebuah Asrama ( Kobong ), juga Ratio Asrama Kobong dan jumlah Santriwan/ti, dlsb.

Semoga akan ada solusi dan perhatian syare'atnya dari Lembaga-lembaga dan dinas dinas terkait, dan lain-lainnya yang tentu saja hakekat dari Solusi dan Perhatian tersebut datang dari Allah SWT..melalui hati - hati hamba-Nya yang diketuk oleh-Nya.....amiinnn..
Read More »

Sabtu, 07 Mei 2016

PESAN MENDIKBUD PADA HARDIKNAS 02 MEI 2016

0

Setiap Tahun pada tanggal 02 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, Sejarahnya sendiri, makna dan pemikiran pemikiran lainnya banyak sekali ditulis oleh mereka yang memang mau berbagi, baik itu di media offline, maupun online.
 Dan memang jika kita kaji bersama makna dari hari pendidikan tersebut sangatlah luas, pada peringatan HARDIKNAS 02 Mei 2016 tahun ini Mendikbud Anis Bawesdan menyampaikan pidatonya berikut kutipannya;

Menjelang Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kantor Kemendikbud, Senayan Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bapak Anies Baswedan menyampaikan pesan kepada para pelajar. Beliau menuturkan : "Pendidikan di Indonesia mari kita syukuri perkembangannya, kita perbaiki kekurangannya. Saya mengajak sapalah pendidikmu, sapalah gurumu, ucapkan terima kasih,". "Sering kali kita lupa mensyukuri maka mari bersama kita syukuri. Dengan kita berkumpul di sini, ini satu bukti keberhasilan pendidikan kita," demikian lanjut Beliau. Mendikbud mengajak semua pihak untuk tidak memandang sebelah mata kemajuan pendidikan Indonesia, bahwa banyak pelajar hingga pendidik yang terkadang lupa bahwa sistem pendidikan Indonesia terus berkembang.

Walaupun harus diakui bahwasannya masih ada kekurangan dan masih banyak hal yang harus di benahi, mulai dari mutu pendidikan hingga system pengajaran. Dikatakan, "Kita harus akui kita juga ada kekurangan. Pertama akses, kita butuh lebih banyak lagi sekolah menengah atas karena banyak putus sekolah di situ,". Mutu sekolah dan tenaga pendidik di Indonesia juga dinilai perlu untuk ditingkatkan. "Kalau gurunya baik, anaknya juga pasti akan jadi baik” demikian pungkas beliau. (Andik Purwanto/Herman Setiawan/Jaka Sutrisno)
Read More »

Jumat, 22 April 2016

Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan ( Bapak Kimia Modern )

0
Dengan mengenal biography Ilmuwan ilmuwan Islam semoga menjadi semangat, buat Pelajar-Pelajar dan santriwan-wati semuanya khususnya santriwan-wati Ponpes Hidayatus Saalikin Pembuang Hulu-Hanau-Seruyan, untuk lebih semangat buat belajar, dan memaknai pentingnya "Iman Dan Ilmu" yang akan mengangkat keutamaan atau derajat seseorang, dan tentunya membawa nama harum Dienul Islam

Ilmu kimia yang dewasa ini berkembang sangat pesat dan dikenal banyak orang tidak banyak diketahui siapa sejatinya orang pertama yang menemukan teori-teori pengembangan ilmu eksakta tersebut. Adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia.

Jabir Ibnu hayyan ahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (sekarang di Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai ‘syuhada’ demi penyebaran ajaran Islam. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Saddiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak hanya mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. “Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia,” tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.

Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masa-masa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.
Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “.
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Teori Jabir
Pada perkembangan berikutnya, Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua ‘technique’ kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Jabir Ibnu Hayyan-lah ilmuwan pertama yang mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, pelarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sampai awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat dan bahkan metode eksprimentalnya diklaim oleh Francis Bacon yang hidup 900 tahun sesudahnya.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadlu’ dan berkepribadian mengagumkan. “Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar,” tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.
Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai ‘Bapak Ilmu Kimia Modern’ oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibnu Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan) .

Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfecdonis.
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: “Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.”

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:
1.Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
2.Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
3.Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.
Sampai abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia –termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al Sab’een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Sementara buku kedua Kitab Al Sab’een, diterjemahkan oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). “Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia,” tulis George Sarton. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas ‘berterima kasih’ kepada Jabir Ibnu Hayyan.

 https://en.wikipedia.org/wiki/Jabir_ibn_Hayyan
Dari Berbagai sumber
Read More »

Sabtu, 16 April 2016

ANTARA PONDOK PESANTREN DAN BOARDING HOUSE SCHOOL

0
Sangat menarik menyikapi dua makna diatas "Pondok Pesantren" dan "Boarding House School", Boarding House School yang belakangan marak terutama dikota kota besar dengan mengadopsi pola pendidikan Pondok Pesantren dimana si siswa atau peserta didik tinggal di dalam sekolah, seperti halnya di pondok dan dibekali pengetahuan agama.

Munculnya boarding house school - boarding house school mewah di kota kota besar, disatu sisi menjadi keuntungan tersendiri bagi para orang tua yang notabene "sibuk" dan belum bisa memberikan perhatian maximal pada anak-anak mereka, sehingga trend kemunculan "boarding house school", menjadi alternatif mereka.

Konotasi image yang muncul dalam benak kebanyakan masyarakat sebuah "Boarding House School" tentunya berbasis Pesantren, dan ada ilmu - ilmu kepesantrenan yang diajarkan didalamnya

Pondok Pesantren yang diartikan ke dalam Bahasa Inggris ialah "Boarding House School" atau "Ma'had Islamy" Dalam Bahasa Arab, untuk sementara terjemahan yang cocok dalam Bahasa Inggris ya "Boarding House School" Tersebut, Namun Pondok Pesantren adalah sesuatu yang berbeda dari sekedar label "Boarding House School" atau "Ma'had Islamy", Pondok Pesantren dilihat dari konteknya memiliki ke khasan yang unik dari sejak jaman dahulu.

Pondok Pesantren dibangun tidak seperti "Boarding House School" yang instant dan mewah dengan modal besar, dengan segala fasilitasnya, namun umumnya dan hampir semua Pondok Pesantren dibangun dan dirintis dengan perjuangan dari dasar, dimulai dengan pembangunan kobong kobong ( kamar kamar ) yang seadanya, dan umumnya Pondok Pesantren dibangun dan diprakasai oleh Kyai dan keluarganya secara perorangan atau bersama sahabat - sahabat Kyai yang mempunyai idealisme, visi, misi dan tujuan searah, dan umumnya sebuah Pondok Pesantren adalah"Non Profit Oriented" lebih mengarah pada misi Keagamaan Syi'ar Islam khususnya dan sosial. Sedangkan Boarding House School biasanya didirikan oleh Pemerintah, Lembaga Charity, atau Yayasan bahkan Investor dan Pengusaha ( digaris bawahi Investor ), yang notabene investor tentunya ada unsur "profit oriented". Di Negara negara lainpun terutama negara negara maju konsep "Boarding House School" ini sudah lama ada,seperti Inggris, Amerika, Japan, dsb, jadi kemungkinan besar inspirasi "Boarding House School" Timbul juga dari pola pola pendidikan negara negara tersebut, tidak hanya dari Pondok Pesantren namun ditambahkan dengan pola pesantren "yaitu adanya pendidikan keagamaan yang lebih", namun belum tentu ada pendidikan pendidikan berkurikulum khas kepesantrenan.

Kepemimpinan sebuah Pondok Pesantren dipegang seorang "Kyai" yang gelar tersebut diberikan oleh masyarakat, dari kepercayaan masyarakat karena keilmuannya dan pengabdiannya pada masyarakat, sedangkan Pimpinan sebuah "Boarding House School" diangkat oleh Pengusaha atau Investor atau Pemerintah, Lembaga dan sekumpulan kelompok mereka yang mempunyai saham atau power di Boarding House School tersebut.

Pembelajaran di Pondok Pesantren dari jaman "baheula" sampai sekarang sama, ada ke khasan Pondok yaitu kitab kitab kuning yang berbahasa Arab, safinah, Ajurumiyyah, At-Tashrifiyah, Mustholah Alahadist, dan kitab-kitab lainnya sebagai ciri khas sebuah Pondok Pesantren. Kalaupun ada sebuah Pondok Pesantren yang menyatukan dengan pembelajaran umum tetap nuansa pembelajaran "kitab-kitab khas pondok" tidak akan hilang, dan akan dipadukan dengan kurikulum yang dicanangkan oleh Pemerintah, dengan tetap mengacu pada ke khasan sebuah Pondok Pesantren, yaitu mengkaji kitab kitab Pondok ( kitab kuning ) serta kajian kajian khas pondok lainnya, baik di Pondok Tradisional, Salafiyah atau Pondok Pesantren Modern, perbedaan hanya dalam racikan penyajian pembelajarannya saja.

Lain halnya dengan "Boarding House School" kurikulum umum tetap akan lebih dominan, dan belum tentu di sebuah Boarding House School ada pembelajaran kitab-kitab kuning, bahkan tidak sedikit yang berlabel Boarding House School Kurikulum umumlah yang lebih Dominan.

Orientesi dari sebuah Pondok Pesantren adalah melahirkan para ulama sebagai pemegang tongkat estafet Da'wah, bisa terjun dan mengamalkan keilmuan di Masyarakat dengan ilmu-ilmu fiqih nya misalnya, memandikan mayat, mengafani dan menguburkannya, dan lain sebagainya, walau tidak tertutup kemungkinan untuk santri-santri yang punya potensi mereka melanjutkan jenjang ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Kuliah, dan sekarang banyak Pondok - Pondok Pesantren modern yang menghasilkan generasi generasi Islami yang mumpuni. Output dari sebuah "Boarding House School" bukan melahirkan ulama atau ustadz atau mereka yang dapat bersosialisasi seperti contoh diatas, namun Science and Technology adalah orientasinya dengan catatan tetap dibekali ilmu keagamaan.

Sebuah Pondok Pesantren tidak terlalu memaksakan "dan memasang tarif" bagi santri santrinya bahkan banyak yang dibebaskan atau membayar iuran semampunya, hal ini tentu sangat berbeda dengan "Boarding House School" dengan segala fasilitasnya tersebut, yang bisa masuk ke "Boarding House School" umumnya mereka yang mampu membayar.

Dari Iuran yang tidak dipatok, kalaupun dipatok tetap ada banyak sekali kelonggaran dan toleransi, karenanya sebuah Pondok Pesantren lambat dalam pengembangan fasilitas, karena dana umumnya mutlak dari Pondok, Sumbangan Masyrakat setempat atau Yayasan yang menaunginya, kecuali ada bantuan atau sumbangan dari luar barulah fasilitas sebuah Pondok Pesantren pelan pelan bisa dilengkapi, tentunya hal ini menyebabkan pula keterbatasan sarana pendidikan.

Ditinjau dari analisa analisa diatas sebuah "Boarding House School" Belum tentu sebuah Pondok Pesantren" dan sebuah Pondok Pesantren bukan pula sebuah "Boarding House School" persamaannya adalah "tinggalnya siswa di dalam asrama ( Kobong ) jika di Pesantren. Sementara banyak image dari masyarakat secara umum jika ada embel embel "Boarding House School" itu adalah sejenis Pondok Pesantren. Pendidikan Militerpun jika dimasukan dalam katagori asrama ya masuk dalam "Boarding House School".

Secara Umum Sebuah Pondok Pesantren meiliki kekhasan yang tentunya tidak akan dimiliki "Boarding House School".


 Ruhul Ma’had Antara Pesantren dan Boarding School, mari kita bandingkan:

Pesantren di Indonesia sedikitnya mempunyai lima ciri khas yang kemudian disebut dengan  Panca Jiwa Pesantren (Ruhul Ma’had), yaitu keikhlasan (al-ikhlas), kesederhanaan (al-bisathoh), kemandirian (Al-i’timad ‘alan Nafs), ketaatan (at-Tho’ah), dan persaudaraan (ukhuwah). Lima ruhul ma’had (panca jiwa pesantren) inilah yang menghiasi seluruh komunitas dan menjadi Roh dalam dunia pesantren, mulai dari kyai, guru hingga para santrinya.

1. Al-Ikhlas (Keikhlasan)

Seluruh proses pendidikan di lingkungan pesantren harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Karena keikhlasan adalah energi dalam melakukan sebuah amal. Oleh sebab itu, meski dengan fasilitas yang sederhana, namun proses pendidikan di pesantren dilaksanakan dengan penuh semangat, karena dilandasi dengan keikhlasan.

Keikhlasan juga menjadi barometer berkahnya ilmu yang diajarkan kepada para santri. “Berkah” adalah kebaikan yang terus bertambah. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang terus mendatangkan kebaikan kepada penuntutnya. Oleh sebab itu, perubahan sikap yang terjadi pada diri santri saat sebelum menyantren dan setelah menyantren sehingga terus membaik adalah buah dari keikhlasan. Oleh sebab itu pula, mengapa antara santri dan pelajar di luar berbeda outputnya dalam sikap dan akhlak? Mungkin karena jiwa keikhlasan itu menjadi jiwa keseharian.

Hampir seluruh pesantren dan boarding school pasti memiliki jiwa keikhlasan. Hanya saja mungkin kadarnya berbeda-beda. Keikhlasan suatu pesantren atau boarding school dapat diukur dari orientasinya. Apakah orientasi hanya dunia? Atau akhirat?...Ada sebagian pesantren dibangun dari dana investor dengan perjanjian deviden tertentu bagi investornya. Jika hal ini tidak diniatkan untuk investasi akhirat, maka boleh jadi akan mengurangi rasa keikhlasan kecuali dibarengi dengan muhasabah (evaluasi diri) dan riyadhoh al-nafs (olah jiwa).

2. Al-Bisathoh (Kederhanaa)

Kesederhanaan harus menjadi ciri utama pesantren. Kesederhanaan bukan berarti kurangnya fasilitas. Akan tetapi para santri diajarkan hidup sederhana, dan kyai serta para guru memberikan contoh hidup sederhana. Sederhana dalam sikap, dalam berpakaian, dalam kebutuhan. Uang saku tidak boleh melebihi batas kecukupan, karena berlebihan dalam uang saku akan mendidik anak hidup glamor dan hedonis.

Disipilin kesederhanaan ini akan menghilangkan gap antara santri kaya dan santri kurang mampu. Ada santri dalam sebuah pesantren minta berhenti kepada orang tuanya, karena santri itu tahu diri, bahwa ayahnya adalah dari kalangan menengah ke bawah, sedangkan teman-temannya mempunyai orang tua dari kalangan orang kaya. Dia melihat, jika teman-temannya berangkat ke sebuah mini market, begitu banyaknya yang ia beli. Sehingga santri itu berkata kepada ayahnya, “Pak, pesantren ini tidak pantas untuk kita, aku minta pindah saja.”

3. Al-I’timad ‘alan-Nafs (Kemandirian)

Kemandirian jelas sangat terlihat di kehidupan pesantren. Para santri hidup jauh dari orang tuanya. Akan tetapi bukan hanya itu mendidik kemandirian. Para santri juga diberi tugas membersihkan kamar, kelas dan asramanya dengan sendirinya. Membersihkan piring dan meletakkannya pada tempatnya setelah digunakan. Bahkan membersihkan sudut-sudut pesantren. Hal itu dilakukan setiap hari agar menjadi pembiasaan. Sehingga kelak di kemudian hari mereka terbiasa melakukan aktifitas itu.

Pesantren bukanlah hotel atau motel yang kebersihan dan kerapian kamar, kelas, kamar mandi, halaman harus dikerjakan oleh petugas kebersihan ( cleaning service ). Para santrilah yang menjadi cleaning-service. Beberapa pesantren atau boarding school yang dengan spp atau iurannya tinggi menyajikan layanan kebersihan dengan memperkerjakan petugas cleaning service, sehingga santri tidak mendapat pendidikan kemandirian, terutama dalam mengurus kebutuhannya sendiri. Bahkan pada pesantren tradisional, para santri dituntut untuk masak sendiri, mencuci dan menyetrika baju sendiri. bahkan ada sebagian santri yang mengais rezeki sendiri dan mau bekerja.

 Santri yang dibiasakan setiap harinya dengan aktifitas peduli pada lingkungannya, akan terlihat saat mereka liburan di rumahnya. Mereka tidak manja dan selalu membantu orang tuanya dalam membersihkan rumah dan lingkungannya. Kemandirian berekenomi juga perlu diajarkan kepada santri, baik dengan magang di koperasi atau berjualan di lingkungan pesantren tanpa harus menganggu pelajaran.

4. At-Tho’ah (ketaatan), 

Sikap patuh santri pada guru dan kyai harus menjadi ciri utama sebuah pesantren. Kepatuhan akan hadir jika kyai dan guru memberikan keteladanan kepada para santri. Sebab ketataatan itu akan timbul jika adanya tsiqoh (trust) kepada yang orang yang ditaati. Dan tsiqoh (trust) akan lahir jika kita memberikan keteladanan (uswah). Sebagai contoh, jika santrinya diwajibkan shalat berjamaah, maka kyai dan semua gurunya melaksanakan shalat berjamaah.

Sedangkan pelajaran atau kitab tentang akhlak murid kepada gurunya hanyalah penguat saja timbulnya ketaatan murid kepada gurunya. Faktor utamanya adalah keteladanan. Selain itu, para santri pun perlu diajarkan tentang pentingnya ilmu dan kedudukan orang yang berilmu. Sehingga mereka tidak menyikapi para guru seperti orang gajian yang digaji oleh orang tua mereka. Akibatnya sikap hormat mereka kepada guru menjadi kurang. Di samping itu, guru pun jangan bersikap pilih kasih terhadap anak didiknya, apalagi hanya memperhatikan anak orang kaya saja. Hal ini akan menimbulkan sikap kurang penghormatan, baik dari si anak tersebut maupun anak-anak lainnya.

5. Ukhuwah (persaudaraan)

Suasana persaudaraan nampak dalam kehidupan santri. Mereka tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, membersihkan tempat bersama. Bahkan mereka menganggap kyai dan guru seperti orang tua mereka sendiri. Tahapan ukhuwah sudah terbentuk dengan sendirinya, mulai dari taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), taawun (saling tolong menolong) dan takaful (saling sepenanggungan) serta talahum (seperti sedarah sedaging).

 Dan pasti ada kenikmatan tersendiri "setelah (Ngaliweut. bhs Sunda), nanak nasi, makan bareng di daun pisang yang digelar dengan santri lainnya, walau lauknya hanya ikan asin bakar, tempe, tahu, lalapan dan sambal namun Yaa Rabbi...kenikmatannya sulit dibandingkan dengan makan di restaurant hotel bintang lima", kebersamaan, dan kemandirian terjalin begitu indah...

Sikap ini diharapkan akan menjadi karakter mereka selamanya. Bukan hanya pada saat di pesantren saja, namun juga ketika mereka sudah terjun di masyarakat.
Santri di Pondok Pesantren Tradisional


Kesimpulan:

Pondok Pesantren dan Boarding House School adalah berbeda, yang masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan. dimana bisa dijadikan sarana intropeksi bagi sebuah Pondok Pesantren yang notabene banyak orang masih memandang sebelah mata dengan kesan "Kumuh", terutama pada Pondok pondok Pesantren Tradisional, keterbukaan Pemerintah dan instasi terutama dinas terkait, juga mereka yang memiliki power untuk mau melirik pada Pondok Pondok Pesantren yang mana mereka berjuang dari bawah membangun pondok, dengan sarana seadanya, tentunya sangat diharapkan sekali tanpa adanya unsur "Profit Oriented" kalaupun mau berinvestasi adalah "Investasi akherat" dengan ikhlas. Karena dari Pondok pondok Pesantren inilah terlahirnya generasi penerus yang membawa pelita Islam.
Selain itu Dana Bantuan dari Pemerintah/Instansi terkait tersebut jangan sampai "Tidak Tepat " Sasaran, yang seharusnya memang layak untuk dibantu jadi dilarikan ke yang telah berlebihan :D

Ada Pengalaman menarik yang penulis pernah alami sendiri ketika berkunjung ke sebuah pesantren tradisional di pelosok Kota Garut ( Jawa Barat ) daerah Cibiuk dekat Gunung Haruman, sekitar Maqam Syaikh Jafar Shadiq, Beliau Ajengan ( Kyai ) Pengurus Pondok bercerita panjang lebar, beliau tidak mau menerima bantuan pemerintah setempat, apalagi dengan adanya embel embel..pun halnya Abuya Dimyati alm ( Banten ), dan banyak cerita cerita kyai lainnya, yang menolak bantuan yang mengandung "Unsur" dengan dasar ke wa'ra an mereka.

Pondok Pondok Pesantren diharapkan untuk bisa lebih berbenah lagi guna menghasilkan santriwan/ti, siswa/winya yang lebih kompeten lagi agar mereka bisa bersaing dengan yang diluar sana dengan dasar iman, ahlak dan adab yang memang sudah tertata apik di Pondok Pesantren. Memacu dan memberi motivasi pada santriwan-ti, siswa-winya untuk memaknai keutamaan dan hakekat "Iman Dan Ilmu".
Tidak Sedikit di sebuah Pondok Pesantren santriwan/ti nya yang memang mereka berpotensi, namun tidak terelus, tidak terpoles dengan baik ( dengan berbagai kendala dan keterbatasan tentunya, atau faktor lainnya),  sehingga potensi si santri  tersebut tidak teroptimalkan dengan baik.

Mondok atau Nyantren bukan hanya jadi Ajengan ( Kyai ) atau Ustadz saja sebagai orientasi akhir, karena tidak semua santri jadi ajengan ( Kyai ) ustadz dan Da'i, sudah ada bagian masing masing, namun output akhir yang diharapkan dengan belajar di Pondok Pesantren adalah Iman Dan Adab serta Ilmu yang menjadi bekal ketika bermasyarakat, sehingga segala tindakannya akan didasari oleh benteng "Iman Dan Adab ( Adab Pada Hukum Allah, Dan As Sunnah), segala ucapan, fikiran, pendengaran dan tindakannya akan selalu didasari azas azas hukum "boleh atau tidak boleh, Iya dan Tidak" menurut Qur'an dan Hadist serta Ijma dan Qiyas, tidak maen hantam seperti banyak kasus yang terjadi di negara kita sekarang, akibat rendahnya Iman Dan Adab para pelaku tersebut setelah mereka mempunyai power, dan tentunya terlahirnya generasi generasi "Beriman Teguh, Beradab Mulia, Serta Cerdas"  dari Pondok Pondok Pesantren, yang akan memegang tongkat estafet pembangunan Bangsa ini.

Mau tidak mau suka tidak suka, tuntutan zaman akan berpengaruh atas kualifikasi santri, kenapa tidak jika dia jadi seorang tekhnokrat jadilah teknokrat yang Islami yang memegang teguh ajaran ajaran dan tuntunan Die'nul Islam, Jika dia jadi seorang Ilmuwan jadilah seorang Ilmuwan yang Islami, jadi Seorang Doktor, doktor yang Islami, jadi Pejabat Pejabat yang dibentengi oleh Iman Dan Adab serta hukum Islam, karena Islam tidak menutup ke arah itu, malah mewajibkan ummat Islam untuk "belajar terus belajar dan mau bekerja keras", dan Da'wah serta Syiar tidak akan berjalan mulus jika tanpa dukungan "Power".

Kita mengenal nama nama besar seperti Ibnu Sina,  Al-Farabi, Al-Battani,  Ibnu Batutah,  MUHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI, Umar Khayam, dan nama nama besar lainnya yang bisa menghasilkan karya karya gemililang dibidang Ilmu Pengetahuan yang hingga sekarang karya karya besar mereka digunakan dalam dunia ke ilmuan, Islam rindu orang-orang seperti ini, yang bisa berkontribusi pada agama dan mengangkat kebesaran Die'nul Islam. Selama ini terlalu lama ummat jadi penonton bukan kontributor...

Semoga makin banyak lahir Gontor - Gontor Baru, Langitan-langitan baru, Tebu Ireng - Tebu Ireng baru di Indonesia umumnya, dan Pembuang Hulu, Hanau,  Kalimantan Tengah ini khususnya, yang bisa mencetak generasi-generasi Islami yang "Beriman, Beradab, Dan Cerdas" aminn...

Perjuangan dengan cara berbeda namun hakikatnya tetap sama memajukan "syiar Islam"...

Kalteng 17-April-2016
Setelah Peringatan di Israkan dan Di Mi'rajkannya Rasululloh SAW...
A.Herman.F

Daftar Pustaka :

http://www.dictionary30.com/
http://oxforddictionaries.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Boarding_school.









Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA