Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKN BERKARAKTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKN BERKARAKTER. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

PENDIDIKAN BERKARAKTER DI MADRASAH

0


Strategi pelaksanaan pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah/madrasah dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu :
  1. Pembelajaran (teaching);
  2. Keteladanan (modeling);
  3. Penguatan (reinforcing);
  4. Pembiasaan (habituating).
Efektivitas pendidikan karakter sangat ditentukan oleh adanya pembelajaran (teaching), keteladanan (modeling), penguatan (reinforcing), dan pembiasaan (habituating) yang dilakukan secara serentak dan berkelanjutan.

Adapun pendekatan yang strategis terhadap pelaksanaan ini melibakan tiga komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :
  1. Sekolah/Madrasah/kampus;
  2. Keluarga, dan
  3. Masyarakat.
  • Ketika komponen sekolah/madrasah (kampus) sepenuhnya akan menerapkan dan melaksanakan nilai-nilai (karakter) tertentu (prioritas), maka setiap nilai yang akan ditanamkan atau dipraktikkan tersebut harus senantiasa disampaikan oleh para guru melalui pembelajaran langsung (sebagai mata pelajaan) atau mengintegraskannya ke dalam setiap mata pelajaran.
  • Nilai-nilai prioritas tersebut selanjutnya harus juga dimodelkan (diteladankan) secara teratur dan berkesinambungan oleh semua warga sekolah (kampus), sejak dari petugas parkir, petugas kebersihan, petugas keamanan, karyawan administrasi, guru, dan pimpinan sekolah.
  • Selanjutnya, nilai-nilai itu harus diperkuat oleh penataan lingkungan dan kegiataan-kegiatan di lingkungan sekolah (kampus). Penataan lingkungan di sini antara lain dengan menempatkan banner (spanduk-spanduk) yang mengarah dan memberikan dukungan bagi terbentuknya suasana kehidupan sekolah (kampus) yang berkarakter terpuji. Penguatan dapat pula dilakukan dengan melibatkan komponen keluarga dan masyarakat. Komponen keluarga meliputi pengembangan dan pembentukan karakter di rumah. Pihak sekolah (kampus) dapat melibatkan para orang tua untuk lebih peduli terhadap perilaku para anak-anak mereka. Sedangkan komponen masyarakat atau komunitas secara umum adalah sebagai wahana praktik atau sebagai alat kontrol bagi perilaku siswa dalam mengembangkan dan membentuk karakter mereka. Pihak sekolah (kampus) dapat melakukan komunikasi dan interaksi dengan keluarga dan masyarakat ini dari waktu ke waktu secara periodik.
  • Pembiasaan (habituation) dapat dilakukan di sekolah dengan berbagai cara dan menyangkut banyak hal seperti disiplin waktu, etika berpakaian, etika pergaulan, perlakuan siswa terhadap karyawan, guru, dan pimpinan, dan sebaliknya. Pembiasaan yang dilakukan oleh pimpinan, guru, siswa, dan karyawan, dalam disiplin suatu lembaga pendidikan merupakan langkah yang sangat strategis dalam mebentuk karakter secara bersama.
Read More »

Minggu, 08 Mei 2016

PONDOK PESANTREN SEBAGAI WAHANA REVOLUSI MENTAL

1


Masih ingatkah anda pada  kampanye pilpres tahun 2015 yang lalu yang di usung oleh Presiden kita sekarang “Jokowi”  tema atau  gagasan ‘revolusi mental’ gagasan tersebut lah yang mengantarkan beliau naik ke RI 1, sebetulnya Gagasan ini bukanlah sebuah gagasan yang baru, karena presiden RI pertama kita IR Soekarno juga pernah menyampaikan gagasan ini pada pidato HUT RI ke-11 tahun 1956. Perlukan kita mengadakan revolusi mental..?? satu revolusi terjadi jika telah terjadi kejenuhan yang akut akibat sistem yang tidak berjalan dengan baik sehingga orang menghendaki satu perubahan secara testruktural.

Mari kita tengok sama sama keadaan generasi muda sa’at ini, jika anda yang terbiasa menggunakan internet dengan memasukan beberapa kata pencari di search engine akan bermunculan banyak sekali, baik itu gambar, video, dan lain sebagainya yang “nyeleneh” bahkan sangat tidak senonoh mengenai anak anak SMP, atau SMA yang berani berpose, atau mengupload video yang vulgar dan asusila. adakah "takut dan malu di mental mereka..?? takut oleh Allah SWT terutama, dan bagaimana perasaan mereka jika orang tua mereka mengetahui kelakuan mereka ini, dengan menebar aib di media online...?

Sedemikian bobroknyakah mentalitas generasi muda bangsa kita..?? yang sudah kerasukan budaya-budaya Barat yang seakan tidak terbendung, terkena pengaruh Yahudi yang memang akan selalu berusaha untuk merusak Islam..?? Dikota kota besar terutama, free sex, narkoba, minuman keras, photo dan video tidak senonoh di HP HP siswa bukan satu rahasia lagi, sehingga fikiran dan imaginasi mereka tercampuri hal hal kotor.

Lalu apa itu Revolusi mental..?

Pertama, kita harus mengetahui apa definisi mental yang sebenarnya. Hasan Langgulung, mendefinisikan mental adalah “paduan secara menyeluruh antara berbagai fungsi-fungsi psikologis dengan kemampuan menghadapi krisis-krisis psikologis yang dapat berpengaruh terhadap emosi”. Menurut Dr. Karlina Supelli juga memaknai ‘mental’ sebagai nama bagi segala sesuatu yang menyangkut cara hidup, cara berfikir, cara memandang masalah, cara merasa, cara mempercayai atau meyakini, cara berprilaku dan bertindak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mental merupakan cara hidup dan cara berfikir seseorang dalam memandang masalah yang ada dalam kehidupan sekitarnya, dalam hal ini mental dapat disimpulkan juga sebagai karakter yang ada dalam diri manusia. Dalam sebuah Negara mental juga dapat diartikan sebagai karakter atau budaya yang melekat pada bangsa tersebut.


Kedua, melihat akan kondisi bangsa ini, masih banyak tradisi dan budaya yang terbawa dari rezim orde baru dan dilaksanakan sampai sekarang seperti korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, sifat kerakusan, sifat ingin menang sendiri, menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan sifat oportuni yang masih melekat pada karakter rakyat-rakyat Indonesia. Ditambah lagi, dengan datangnya globalisasi yang membawa berbagai dampak buruk bagi karakter bangsa kita, seperti budaya malu, yang dahulunya tinggal dalam darah rakyat Indonesia kini memudar seiring perubahan zaman. Hal tersebut sering dianggap sepele kebanyakan orang, namun dampaknya akan terlihat jelas dari moral rakyat Indonesia.

Namun saat ini masalahnya, dari manakah revolusi mental ini dimulai?

Masalah mentalitas bangsa merupakan bagian dari masalah kultural. Oleh karena itu salah satu cara menyelesaikanya juga harus melaluicara kultural juga. Prof. Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitas Dan Pembangunan Mentalitas tahun 1987merekomendasikan bahwa untuk mengubah mentalitas manusia Indonesia, tidak ada pilihan lain kecuali kepada seluruh anak-anak Indonesia yang dapat dijadikan sasaran dengan sosialisasi nilai-nilai budaya yang positif.

Kata kuncinya adalah sosialisasi, yang mengkulturasikan nilai-nilai budaya yang positif sebagai cara hidup. Salahsatu aspek yang dapat menunjang anak-anak Indonesia untuk bersosialisasi dengan baik adalah pendidikan. Mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa dapat diwujudkan melalui ranah pendidikan.

Lalu Pendidikan yang bagaimana yang dapat dijadikan sarana untuk revolusi mental?     

Kita telah mengetahui bahwa untuk melakukan revolusi mental, kita harus memulai dari muda-mudi bangsa kita, karena di masa yang akan datang datang merekalah yang akan memimpin bangsa ini. Namun sarana apa yang cocok untuk menempa jiwa para muda-mudi Indonesia saat ini.

Dalam konteks ini pendidikan karakter lah yang sangat cocok untuk melakukan revolusi mental, mengapa demikian? Karena dalam kasus ini mental lah yang menjadi krisis utama bangsa kita, oleh karena itu hanya melalui pendidikan karakterlah revolusi mental dapat di mulai. Pada Pondok - pondok pesantren pendidikan karakter ini sudah berlangsung sejak adanya Pesantren di Indonesia ini, dimana Adab dan Ahlak merupakan salah satu pondasi dasar yang dipelajari di Pondok, sementara Pemerintah baru mendengung dengungkannya baru baru ini setelah melakukan berbagai analisa. Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik.

Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang anyak dipengaruhi oleh budaya lingkungan sekitarnya. Oleh karna itu, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat

Dalam menjalankan pendidikan karakter dibutuhkan waktu yang cukup lama dan perhatian yang cukup supaya kita bisa mengetahui perkembangan karakter para siswa. Dalam pendidikan formal, siswa hanya mendapat pantauan sesaat dari para pengurus sekolah selebihnya meraka tidak tahu apa yang dilakukan para siswa setelah sepulang sekolah. Oleh karena itu, pondok pesantren merupakan satu-satunya sarana yang dapat menunjang pendidikan karakter.

 Pada dasarnya ada enam pilar utama pembentukan karakter yaitu: Kepercayaan, toleransi, tanggung jawab, keadilan, kepedulian dan kejujuran. Melalui Pondok pesantren lah keeneam pilar itu dapat dilestarikan. Dalam sebuah pondok pesantren Seluruh santri selalu mengutamakan keistiqomahan yang selalu di tekankan, hal ini merupakan kerakter dasar yang harus ada dalam diri manusia.

Selain dari lingkungan yang sangat baik untuk mengadakan pendidikan karakter karena para santri memiliki teladan yang bai yang dapat mereka tiru. Sistem dalam pesantren pun sangatlah mumpuni dalam mendidik karakter kita. Sistem Disiplin, penjadwalan kegiatan dan sanksi (ta’jir) merupakan budaya dalam seubuah pondok pesantren, budaya ini pun yang senantiasa membangun karakter para santri, melalui sistem disiplin santri akan dapat menjadi orang yang menghargai waktu, melalui sistem penjadwalan, santri dapat melatih keistiqomahan mereka dalam melaksanakan sesuatu dan melalui sistem sanksi, santri dapat bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat. Selain karena sejak awal para santri telah di gembleng dalam hal ketauhidanya, sistem dalam pesantren ini pun dapat menjadi asupan yang sangat baik dalam pendidikan karakter.

Di Pondok Pondok Pesantren tidak akan seperti di sekolah sekolah umum dimana siswa siswi bisa bergaul bebas, bahkan sudah mulai pacaran, pulang sekolah boncengan di motor, dengan perempuannya memeluk erat dibelakang, untuk era sekarang lebih ngeri lagi walau pake rok perempuannya duduk mengangkang..na’udzubillah tsumma na’udzubillah..hal seperti itu Insya Allah tidak akan terjadi di Pondok Pondok Pesantren, Santri Pondok ketemu perempuan pasti malu, jengah, kepala nunduk..apalagi melihat perempuan ngumpul “merah muka mereka jalanpun setengah lari..kabur..”

Dipondok mana yang pernah terdengar ada tawuran santri..sampai bawa bawa parang atau senjata tajam..?? atau pernahkah terdengar santri pondok A nyerang santri Pondok Pesantren B..terus tawuran di jalan..?? Insya Allah gak ada, kenapa..?? Karena di Pondok pesantren kebersamaan dan arti persahabatan serta saling menghargai antar sesama selalu dipupuk, seperti saling berbagi makanan, makan bareng dsb.

Pernahkah anda membaca atau mendengar pemberitaan di media seorang anak tega menganiaya Orang tuanya..?? ini contohnya https://m.tempo.co/read/news/2015/12/18/064728784/kesal-tak-diberi-uang-jajan-siswa-smp-ini-aniaya-ayah-kandung dan masih banyak sekali contoh lainnya, namun di Pondok Insya Allah Hal tersebut tidak akan pernah ada, belum ada pemberitaan seorang santri tega membunuh ayahnya sendiri , menghormati orang tua adalah budaya santri yang berakar kuat di jiwa mereka, dengan pisahnya ( mondok ) santri dengan orang tua “kebersamaan” merupakan satu nilai yang tiada taranya, dan tentunya juga bimbingan ahlak dan adab yang harus diterapkan  pada orang tua.

Kreatifitas, Disiplin akan waktu, solidaritas, danmasih banyak nilai nilai positif lainnya yang menjadi bahan pembelajaran untuk para santri yang nantinya akan mereka bawa dalam kehidupan bermasyarakat dengan lingkungan sosial mereka..

Sebagai penutup Dorothy LawNolte pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Lengkapnya adalah jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki, jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi, jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri, jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyeasali diri, jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri, jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai, jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan, jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan, jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Akhirul Kata...”Semoga Allah selalu mencurahkan Rahmat-Nya pada Pondok Pondok Pesantren, demi langgeng dan kuatnya Syiar dan Da’wah serta menjadi satu kekuatan bagi bangsa ini”..amiinnn


Pembuang Hulu, - Kalteng

08 Mei Menjelang  UN SMP 2016

A. Herman Fattah


Read More »

Minggu, 27 Maret 2016

BERADAB BERILMU DAN CERDAS

0
"Pinter pinter kok begitu ya..", "Woalah sekolahnya tinggi tapi kok ke yang lain begitu.." sering kita mendengar kata kata tersebut terlontar dari mulut seseorang ketika dia beragumen pada seorang lainnya dari sudut pandang tertentu.

Harapan dari Pendidikan adalah memberikan warna pada peserta didik untuk memiliki karakter yang baik dan berwawasan luas, iti juga yang diprogramkan Pemerintah dengan menerapkan pendidikan berkarakter. Dengan pendidikan berkarakter ini sangat diharapkan kualitas generasi yang muncul dari hasil pendidikan adalah insan insan yang, Beradab, Berahlak dan Cerdas, sehingga mereka merupakan generasi generasi unggulan dan amanah dalam menjalankan estafet pembangunan, mau tepo seliro tidak angkuh dan sombong, menghargai sesama, mencubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain, karena cubitan itu sakit diapun gak kaan mau mencubit orang lain, dsb dsb...
  Dunia pendidikan yang memberikan warna pada seorang anak, setelah sebelumnya dia punya warna tersendiri dari lingkungan sosialnya akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter peserta didik. Tata cara yang didapatkan dalam kependidikan akan memberikan warna lainnya tentunya pada si anak.
Peran Pendidik ( Guru ) Sangat Dominan dimana ada istilah Guru itu di gugu dan ditiru. Produk pendidikan dari era sebelumnya yang masih belum maximal untuk menghasilkan generasi generasi yang beradab dan berahlak luhur, dimana indikatornya hanya pada sebatas "Ilmu pengetahuan" membuat mereka ketika mendapatkan power akhirnya lupa diri..tidak sedikit yang bertitle tinngi, dan punya jabatan pada ujungnya kita lihat di media dia terlibat banyak kasus yang banyak merugikan kepentingan hajat orang banyak. Mereka yang sudah jadi Menteri, Gubernur, Dewan, Walikota dan lain-lainnya karena tidak diiringi oleh Adab dan ahlak akhirnya mereka ..lepas kontrol..Lupa bahwa ada Yang Maha Tahu dan Maha Melihat, Padahal gelar mereka berjejer baik di depan namanya atau dibelakang namanya..yang Ir, Dr, MM dan sebagainya..

Untuk Aliyah dalam wacana terakhir mewajibkan K13 sebagai kurikulum dengan acuan  pembentukan karakter tersebut yang menjadi tolak ukur..K13 sebenarnya sangat menarik dengan tidak hanya Pengetahuan sebagai tolak ukur keberhasilan transfer pendidikan, namun ada sisi utama lain sebagai indikator adab dan ahlak. Adab pada Allah Ta'ala, Pada Orang Tua, Guru dan Lingkungan Sosial menjadi pembelajaran juga indikator penilaian...


Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak
Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Imam Malik pernah memberikan nasehat, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu."

Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah mapan ilmunya, sekolahnya tinggi, disekolahnya berprestasi atau mereka faham betul akan tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah lakunya terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan oleh para salaf.

Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.

Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.

Namun barangkali kita lupa?

Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat bisa kuasai ilmu yang lebih tinggi?

Atau niatan dalam belajar yang sudah berbeda, hanya untuk mendebat orang lain?
Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.
Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan

Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi’i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).
Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.

Kalteng-In The End Of March By: A. Herman Fatah.

Referensi:

Ta’zhimul ‘Ilmi, Syaikh Sholeh bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, Muqorrorot Barnamij Muhimmatil ‘Ilmi.

Siyar A’laamin Nubala’, Imam Adz Dzahabi, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-11, tahun 1422 H, jilid ke-10.

Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.
Al Madkhol, Mawqi’ Al Islam, Maktabah Asy Syamilah
Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA