Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2016

GURU MASUK PENJARA KARENA MEMUKUL SISWA MEMAKAI SAJADAH

0
Metronews.click --- Jombang: SU, guru mata pelajaran Agama Islam di salah satu SMP di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dilaporkan orang tua siswa ke polisi karena diduga menganiaya MBP, 16, anak mereka.
Sebelum dianiaya, MBP, warga Desa Perak, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, akan mengikuti istigosah jelang ujian nasional di sekolahnya. Karena sedang asyik bercanda dengan temannya saat akan mengambil air wudu, korban tidak menyadari panggilan gurunya.
Gambar Ilustrasi Orang Di Penjara
"Saat itu saya langsung dipukul pakai sajadah. Saya kaget dan spontan mengumpat karena saya anggap teman saya. Lalu saya dipukul lagi," ujar MPB, Kamis (5/5/2016).
Pemukulan kembali dilakukan, kali ini disertai tendangan yang mengakibatkan luka memar di tangan kanan, punggung, dan kepala.
Suparti, 40, orang tua korban tidak terima atas perbuatan itu. Dia lantas melaporkan penganiayaan itu ke polisi. "Mungkin anak saya melanggar, tapi sanksinya harus mendidik. Bukan dengan memukul dan menendang," ujarnya.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang, Iptu Dwi Retno Suharti, membenarkan kejadian tersebut. Kasus itu sudah berada di Polsek Perak. "Masih ditangani Polsek Perak dan belum masuk ke Polres Mojokerto," kata dia.
Semoga bermanfa'at dan jadi pelajaran buat semua
Read More »

Jumat, 15 Januari 2016

PERAN GURU YANG KOMPETEN DALAM PENDIDIKAN

0
PERAN GURU YANG KOMPETEN DALAM PENDIDIKAN
Peran guru/pendidik merupakan pilar penting guna melahirkan generasi generasi handal, baik secara kepribadian peserta didik serta bidang keilmuannya, Anak ( Peserta didik ) seperti sebuah kertas putih bersih yang ketika dia dic oret hitam akan berbekas hitam, di coret merah akan nampak merah.

Banyak kalangan sepakat bahwa masa depan dan kualitas pendidikan adalah berada ditangan para guru. Dari merekalah akan lahir generasi terbaik atau generasi emas yang diidamkan bangsa. Kehidupan ini bersifat estafet sehingga generasi sekarang akan digantikan oleh genarasi yang akan datang. Masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh generasi yang akan datang sedangkan sebuah generasi pasti ditentukan oleh kualitas para gurunya.

Guru tidak hanya memberi contoh namun yang terbaik adalah sang Guru tersebut bisa menjadi contoh, figure, bahkan panutan murid muridnya. Apakah cukup UKG ( Uji Kompetensi Guru ) dijadikan barometer bagi seorang guru..?? hakekatnya ada nilai lain yang bisa lebih dijadikan Uji Kompetensi, uji kelayakan seorang guru Tanggung jawab, Kejujuran, Disiplin, Amanah dan pesan pesan moral lainnya merupakan hal hal yang tidak bisa diukur dengan nilai di atas kertas sebagai tolak ukur atau barometer kompetensi seorang guru. Apalagi jika acuan yang menjadi motivasi seorang guru adalah agama, dimana buah yang akan dihasilkan oleh guru yang ikhlas untuk mau berbagi adalah jaminan dari Allah Ta’ala dimana yang menjadi bekal di esok hari bagi seorang Muslim/muslimah salah satunya adalah “Ilmu yang manfaat”.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa kompetensi guru yang diharapkan untuk terus ditingkatkan ada empat, yaitu: kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kompetensi pedagogis adalah seperangkat kemampuan tentang cara mengajar dan juga kemampuan menguasai apa yang diajarkan. Seorang guru dituntut untuk mempu secara substansi (materi) dan juga secara metode. Guru yang hanya menguasai materi namun tidak menguasai metode maka yang bersangkutan bisa merusak generasi. Sebaliknya guru yang hanya menguasai metode namun tidak menguasai materi, maka dia sama saja dengan penipu.

Adapun kompetensi kepribadian adalah menyangkut masalah perilaku guru. Seorang guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik. Dia harus bisa di gugu lan di tiru. Guru harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan terutama sekali bagi para muridnya. Seorang filsuf mengkategorikan guru itu ada tiga, yaitu: pertama, guru baik adalah yang hanya menjelaskan pelajaran. Kedua, guru terbaik yaitu guru yang bisa memberi contoh, dan guru luar biasa yaitu guru yang bisa menjadi contoh. Guru yang bisa menjadi model atau menjadi uswatun hasanah inilah yang akan banyak menginspirasi para murid. Mereka akan bersedia terus belajar walaupun tanpa kehadiran sang guru.

Keberhasilan Islam bisa berkembang hingga demikian besar bermula dari seorang Guru yang luar biasa, yaitu Baginda Rasulullah SAW, dimana Beliau SAW, mengajarkan, berda'wah, menyebarkan agama ini dengan ahlaknya, dengan cara memberikan suri tauladan yang dimulai dengan diri Beliau SAW pribadi.

Kompetensi berikutnya adalah kompetensi sosial yaitu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam bergaul dengan masyarakat sekolah maupun masyarakat luas. Guru dituntut memiliki pola komunikasi yang baik dengan lingkungannya sehingga yang bersangkutan bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

Sedangkan kompetensi yang terakhir adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional ditandai dengan kemampuan guru untuk memiliki bukti-bukti formalitas atas apa yang akan dan sudah dilakukannya dalam pembelajaran. Guru profesional menulis apa yang akan dilakukan dan melakukan apa yang ditulis. Sebagai guru profesional, seseorang harus merencanakan, mengorganisasika,melaksanakan, dan meng evaluasi pembelajaran yang dilakukan melalui bukti formal. Karena itu guru profesional biasanya memiliki presensi siswa, dafar nilai, RPP, silabus, dan bahkan PTK.

Keempat kompetensi tersebut jika dikembangkan maka sungguh luar biasa dampaknya baik bagi guru itu sendiri, siswa, masyarakat luas lebih khusus bagi dunia pendidikan. Sedemikian besar peran guru yaitu sebagai ujung tombak berhasil atau tidaknya pembangunan manusia, sehingga mengembangkan kompetensi mereka adalah keniscayaan yang tidak lagi bisa ditawar lagi.

Namun ironisnya, urgensi ini tidak semua guru menyadarinya. Yang terjadi dilapangan adalah paradoks dengan harapan ideal tersebut. Banyak sekali para guru yang "sudah merasa cukup" dengan apa yang dimilikinya. Semisal tidak dipaksa dengan adanya kebijakan sertifikasi atau aneka kebijakan yang menuntut dan memaksa peningkatan profesionalitas guru, maka kehendak untuk meningkatkan kompetensi adalah hanya seperti menarik bambu dari ujung.

Masih banyak kalangan guru yang hanya mengikuti pendidikan secara formalitas. Ketika diminta portofolio kegiatan ilmiah, masih banyak yang nembel sana-sini dengan tujuan menggugurkan kewajiban semata. Tragisnya beberapa diantara mereka masih ada saja yang meimiliki ijazah palsu atau sertifikat bodong. Padahal untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah sudah cukup banyak memberikan banyak bantuan mulai dari bantuan siswa miskin (BSM), Bantuan operasional sekolah (BOS) baik dari pusat maupun daerah, Tunjangan fungional guru (TFG), bantuan sarana prasana seperti untuk ruang kelas baru (RKB) dan lain-lain.

Dengan kenyataan ini, maka rasanya wajar jika pemerintah menuntut kompetensi guru maupun lulusan sekolah untuk ditingkatkan. Terlepas dari adanya tuntutan pemerintah kepada guru untuk meningkatkan kompetensinya baik melalui UKG (ujian kompetensi guru), PKB (penilaian kinerja berkelanjutan), atau melalui aneka workshop, peningkatan mutu guru sangat besar manfaatnya bukan saja bagi para siswa, lembaga pendidikan dan masyarakat, tapi juga bagi guru itu sendiri.

Rasanya tidak adil jika penerapan K13 dalam pembelajaran hanya berfocus pada satu titik pengembangan kepribadian, yaitu siswa saja, tanpa tuntutan yang sama pula terhadap pendidik, dengan harapan peningkatan tanggung jawab moril pendidik akan amanah yang diembannya, kejujuran, dan sebagainya. Mau menerapkan kejujuran bagaimana pada siswa jika pendidik masih tidak jujur..??? mau menerapkan patuh dan menjalankan perintah agamanya bagaimana siswa, jika pendidiknya sendiri lalai dalam menjalankan perintah agamanya..??

Dengan mengembangkan kompetensinya, guru bisa memperluas kemanfaatan ilmu ataupun ketrampilan yang dimilikinya. Dan secara otomatis kesejahteraannya pun akan juga semakin meningkat. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa guru yang berkompeten dapat meningkatkan gairah belajar para murid, murid akan semakin mengerti manfaat dari apa yang mereka pelajari.

Dengan demikian guru yang semakin meningkatkan kompetensinya, para muridnya pun akan Tercerahkan. Para guru yang berkompetensi tinggi juga akan semakin meningkatkan akuntabilitas pendidikan. Kepercayaan masyarakat pada lembaga pendidikan akan semakin besar.

 Sebaliknya, guru yang tidak mau meningkatkan kompetensinya, guru yang ogah-ogahan untuk belajar, maka dia ibarat obor yang tidak menyala. Obor yang tidak menyala menjadi hampir mustahil menyalakan obor-obor yang lain. .

  Seorang Profesor Dari Lindenwood University in St. Charles, Missouri, Dr Maria Orlando,edD mengatakan " that a great teacher was someone who provided classroom entertainment and gave very little homework", kemudian dia mennyimpulkan karakter karakter guru yang baik kedalam beberapa kriteria ;

1. A great teacher respects students. In a great teacher’s classroom, each person’s ideas and opinions are valued. Students feel safe to express their feelings and learn to respect and listen to others. This teacher creates a welcoming learning environment for all students.

2. A great teacher creates a sense of community and belonging in the classroom. The mutual respect in this teacher’s classroom provides a supportive, collaborative environment. In this small community, there are rules to follow and jobs to be done and each student is aware that he or she is an important, integral part of the group. A great teacher lets students know that they can depend not only on her, but also on the entire class.

3. A great teacher is warm, accessible, enthusiastic and caring. This person is approachable, not only to students, but to everyone on campus. This is the teacher to whom students know they can go with any problems or concerns or even to share a funny story. Great teachers possess good listening skills and take time out of their way-too-busy schedules for anyone who needs them. If this teacher is having a bad day, no one ever knows—the teacher leaves personal baggage outside the school doors.

4. A great teacher sets high expectations for all students. This teacher realizes that the expectations she has for her students greatly affect their achievement; she knows that students generally give to teachers as much or as little as is expected of them.

5. A great teacher has his own love of learning and inspires students with his passion for education and for the course material. He constantly renews himself as a professional on his quest to provide students with the highest quality of education possible. This teacher has no fear of learning new teaching strategies or incorporating new technologies into lessons, and always seems to be the one who is willing to share what he’s learned with colleagues.

6. A great teacher is a skilled leader. Different from administrative leaders, effective teachers focus on shared decision-making and teamwork, as well as on community building. This great teacher conveys this sense of leadership to students by providing opportunities for each of them to assume leadership roles.

7. A great teacher can “shift-gears” and is flexible when a lesson isn’t working. This teacher assesses his teaching throughout the lessons and finds new ways to present material to make sure that every student understands the key concepts.

8. A great teacher collaborates with colleagues on an ongoing basis. Rather than thinking of herself as weak because she asks for suggestions or help, this teacher views collaboration as a way to learn from a fellow professional. A great teacher uses constructive criticism and advice as an opportunity to grow as an educator.

9. A great teacher maintains professionalism in all areas—from personal appearance to organizational skills and preparedness for each day. Her communication skills are exemplary, whether she is speaking with an administrator, one of her students or a colleague. The respect that the great teacher receives because of her professional manner is obvious to those around her.

Pertanyaan ; Bagaimana jika ada seorang guru yang kompeten, namun di atas kertas beliau tidak tersertifikasi,,??
"Allah Ta'ala lah yang akan membalasnya.., selama Ikhlas, amanah, tidak mengacu pada profit oriented  Insya Allah akan jadi ladang untuk dipetik di kemudian hari..amin..Yaa Rabbal 'Alamin.."

Read More »

Jumat, 01 Januari 2016

GURU ADALAH MANAGER KELAS

0

Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi pembelajaran yang kondusif dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran tersebut. Kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang kondusif bagi terjadinya proses pembelajaran ini misalnya menghentikan tingkah laku siswa yang membuat perhatian kelas teralihkan, memberikan ganjaran kepada peserta didik yang telah melakukan tugasnya dengan baik, atau menetapkan norma kelompok yang harus ditaati bersamaPengelolaan kelas merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif dengan cara menciptakan situasi yang kondusif. Suatu kondisi belajar yang kondusif dapat tercapai jika guru mengatur peserta didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran, serta hubungan interpersonal yang baik antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didikBeberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah sebagai berikut.

pengelolaan kelas

Keterampilan Mengelola Kelas, Penting untuk Guru
1. Tantangan
Tantangan dapat diberikan dengan cara menggunakan kata-kata, tindakan, atau bahan-bahan yang akan meningkatkan gairah belajar peserta didik. Sehingga, memunculkan tingkah laku yang positif dan mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.

2. Kehangatan dan keantusiasan
Kehangatan dan keantusiasan dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan dan merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar mengajar yang optimal.

3. Bervariasi Penggunaan media pembelajaran, gaya, interaksi belajar mengajar, dan metode yang bervariasi akan meningkatkan efektifitas pengelolaan kelas serta menghindari kejenuhan.

 4. Keluwesan Keluwesan guru dalam mengubah strategi mengajar dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan serta menciptakan iklim pembelajaran yang efektif.

5. Penekanan pada hal-hal yang positif Penekanan pada hal-hal yang positif dalam proses pembelajaran akan meningkatkan fokus peserta didik dan menghindari kemungkinan adanya pemusatan pada hal-hal yang negatif.

6. Penanaman disiplin diri Penanaman disiplin diri oleh peserta didik merupakan hal penting dari pengelolaan kelas. Oleh karena itu guru hendaknya selalu mendorong peserta didik berdisiplin dalam proses pembelajaran. Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen-komponen, sebagai berikut.

 1. Menciptakan dan memelihara iklim pembelajaran yang optimal Menciptakan dan memelihara iklim pembelajaran yang optimal berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencapainya.

 a) Menunjukkan sikap tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan, dan ketidakterlibatan peserta didik terhadap tugas-tugas di kelas. Hal ini untuk memberikan suatu pandangan bahwa guru hadir dalam kelas dan tahu apa yang mereka perbuat.

Tanggapan yang dilakukan guru dapat berupa:
• Gerak mendekati Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat, dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam, atau memberi kritikan dan hu kuman.
• Memandang secara saksama
Memandang secara saksama dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandang serta interaksi antarpribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama, dan menunjukkan rasa persahabatan.
 • Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan siswa Bila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan dalam kelas, guru dapat memberikan teguran. Te guran yang dilakukan guru merupakan merupakan tanda bahwa guru hadir. Teguran ha-ruslah diberikan pada saat dan sasaran yang tepat sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
• Memberikan pernyataan Tanggapan dan ko mentar sebagai pernyataan guru terhadap apa yang dikemukakan peserta didik sangat penting guna lebih meyakinkan peserta didik akan pendapatnya tersebut. Akan tetapi, pernyataan guru haruslah dibatasi untuk menghindari adanya kesan dominasi guru.

b) Memusatkan perhatian kelompok terhadap tugas-tugas yang dilakukan agar kegiatan peserta didik dalam belajar dapat dipertahankan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara berikut.
• Menuntut tanggung jawab siswa. Hal ini berhubungan dengan cara guru memegang teguh kewajiban dan tanggung jawab yang dilaku kan oleh peserta didik serta keterlibatan peserta didik dalam tugas-tugas. Misalnya dengan meminta kepada peserta didik untuk memeragakan, melaporkan ha sil, dan memberikan respons.
• Menyiagakan siswa. Maksudnya ialah memusatkan perhatian sis-wa kepada suatu hal sebelum guru menyampaikan materi pokok dengan tujuan untuk menghindari penyimpangan perhatian siswa.

 c) Memberi perhatian kepada beberapa kegiatan yang langsung dalam waktu yang sama akan menciptakan pengelolaan kelas yang efektif. Memberi perhatian dapat dilakukan dengan dua cara berikut.
• Visual yaitu dengan mengalihkan pandangan dari satu kegiatan kepada kegiatan lain dengan melakukan kontak pandang, baik secara kelompok maupun indivisual.
• Verbal yaitu dengan memberikan komentar, penjelasan, per-tanyaan, dan sebagainya terhadap aktivitas seorang peserta.

 d) Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas dan singkat sehingga tidak terjadi kebingungan pada peserta didik

. f) Memberi penguatan-penguatan, baik terhadap peserta didik yang mengganggu maupun yang bersikap wajar.

 e) Memberikan teguran kepada peserta didik bila ia melakukan sesuatu yang mengganggu kelas. Teguran ini dapat dilakukan dengan cara verbal dengan memenuhi syarat-syarat berikut.
 • Tegas dan jelas serta tertuju kepada peserta didik yang meng ganggu.
 • Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
 • Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.

2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal Kondisi belajar yang optimal harus tetap dipertahankan. Untuk itu guru harus dapat mencegah hal-hal yang mengganggu jalannya proses pembelajaran.

Selain itu guru harus memiliki kemampuan mengembalikan kondisi-kondisi yang mengganggu pembelajaran kepada kondisi yang seharusnya. Apabila guru harus mengadakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang secara terus menerus menimbulkan gangguan terhadap proses pembelajaran, guru dapat melakukannya dengan cara-cara berikut:

a) Modifikasi perilaku Guru sebaiknya mengadakan analisis tingkah la ku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan sebelum me modifikasi tingkah laku tersebut. Modifikasi tingkah laku dapat dilakukan dengan cara:

 • meningkatkan perilaku yang baik dengan pemberian penguatan secara sistematis;
 • mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan;
 • mengurangi perilaku buruk dengan pemberian hukuman.

 b) Guru dapat mengadakan pengelolaan kelompok dengan cara:
• mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas;
• memelihara kegiatan-kegiatan kelompok dengan menangani konflik yang timbul.

c) Menemukan dan mengatasi tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku salah yang muncul dan mengetahui sebab-sebabnya serta berusaha untuk menemukan pemecahannya, yaitu dengan:
 • menghilangkan ketegangan dengan humor mengabaikan yang direncanakan;
 • mengadakan campur tangan dengan isyarat;
 • mengakui perasaan negatif peserta didik;
 • mengekang secara praktik;
 • menjauhkan benda-benda yang dapat mengganggu konsentrasi;
 • mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaanya;
• menyusun kembali program belajar.

Agar dapat mengelola kelas dengan efektif, perlu dihindari hal-hal yang akan menimbulkan gangguan proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut. Campur tangan guru yang berlebihan

1. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung hendaknya guru tidak melakukan kegiatan atau mengatakan sesuatu yang akan mengganggu peserta didik. Apabila guru melakukan hal ini, akan memberi kesan bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak dalam belajar. Kesenyapan

2. Kesenyapan yang terjadi dalam ben tuk diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran akan mengakibatkan pikiran peserta didik mengawang-awang, melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran. Penyimpangan

3. Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahan tertentu me-mungkinkan terjadinya penyimpangan. Penyimpangan tersebut dapat meng ganggu kelancaran kegiatan belajar siswa. Adanya ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan

4. Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya/menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa. Bertele-tele

5. Pembicaraan guru bersifat mengulang-ulang hal- hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah te guran yang sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang panjang akan membuat peserta didik tidak fokus pada permasalahan yang dibicarakan guru.
Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA