Tampilkan postingan dengan label ILMUWAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMUWAN ISLAM. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

ABBAS QASIM IBNU FIRNAS MANUSIA PERTAMA YANG BISA TERBANG

0


Jika kita mengajukan pertanyaan pada anak anak kita, siapakah penemu pesawat terbang nak..?? jawaban yang muncul pasti Wright bersaudara, begitu yang tertera dibuku buku pelajaran, bahkan saya sendiripun mengetahuinya "dulu" penemu pertama konsep terbang adalah Wright bersaudara.

Abbas Qasim Ibnu Firnas (di Barat dikenal dengan nama Armen Firman) dilahirkan pada tahun 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Dia dikenal ahli dalam berbagai disiplin ilmu, selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang penggiat teknologi. Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol).
Pada tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.
Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.
 Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.
Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata. Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.
Yang tak kalah menariknya, Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal, yang pada saat itu hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuannya ini, Sepanyol saat itu tidak perlu lagi mengekspor quartz ke Mesir, tapi bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri.
Abbas Ibnu Firnas wafat pada tahun 888, dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.
Walaupun percobaan terbang menggunakan sepasang sayap dari bulu dan rangka kayu tidak berhasil dengan sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa gegap gempitanya industri pesawat terbang modern seperti saat ini, tidak lepas dari perjuangan seorang Ibnu Firnas yang rela babak belur untuk sekadar melayang sebentar layaknya burung terbang.

Sosok Abbas Ibnu Firnas, kini hanya bisa kita temui tercetak di atas sebuah prangko buatan Libia, menjelma pada sosok patung dan nama lapangan terbang di Baghdad, dan abadi di salah satu kawah permukaan Bulan. Pada abad ke-8, seorang Muslim Spanyol, Abbas Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pasca uji coba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.

Sekilas tentang Ibnu firnas Abbas Ibnu Firnas atau Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dilahirkan di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang-barang berteknologi baru saat itu.Pria yang suka bermain musik dan puisi ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang menghebohkan warga Cordoba saat itu. Dia ingin melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan ‘sayap’ atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.
Patung Ibnu Firnas ( 810 – 887 A.D ) di Baghdad
Dia berhasil mendarat walaupun dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal dengan parasut pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.
Keberhasilannya itu tidak lantas membuat Ibnu Firnas berdiam diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori dari gejala-gejala alam yang diperhatikannya. Karya-karya baru pun bermunculan dari buah pemikiran Ibnu Firnas. mulai dari puisi, kimia, sampai astronomi, semuanya dipelajarinya dengan satu tujuan, yaitu mampu memberikan manfaat bagi umat manusia.
Di antara hasil karyanya yang monumental adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ibnu Firnas juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.
 Penemuan
Terbang Pertama
Abbas Abu Firnas
Patrons karya Abbas ibn Firnas. Sebuah puncak Science yang menelusuri angkasa luar yang menandai kegemilangan zaman al-Andalus. Dari dasar-dasar grafitasi ini ibn Firnas sudah menentukan dasar-dasar bagi pembuatan pesawat angkasa, 600 th sebelum Leonardo da Vinci berimaginasi dengan planetariumnya.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita di Cordoba dengan menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya, ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia.

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.

Pada tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.

Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata. Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.


Proses pemotongan batu kristal,

Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal, yang pada saat itu hanya orang-orang Mesir yang mampu melakukannya. Berkat penemuannya ini, Spanyol saat itu tidak perlu lagi mengekspor quartz ke Mesir, tapi bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri.

Salah satu penemuannya yang terbilang amat penting adalah pembuatan kaca silika serta kaca murni tak berwarna. Ibnu Firnas juga dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memproduksi kaca dari pasir dan batu-batuan. Kejernihan kaca atau gelas yang diciptakannya itu mengundang decak kagum penyair Arab, Al-Buhturi (820 M – 897 M).


Atap rumah menyerupai bola langit

Dalam bidang ilmiah, ia memusatkan perhatiannya pada bidang ilmu-ilmu pasti (matematika) dan ilmu alam (fisika). Di antara bukti kecemerlangan otaknya dalam bidang ini adalah keberhasilannya dalam membuat atap rumahnya yang menyerupai bola langit. Hasil karyanya itu juga dilengkapi oleh sebuah perangkat yang mampu memperlihatkan gambaran tentang bintang, awan, kilat, dan halilintar di langit sebagaimana aslinya.


Alat pendeteksi waktu

Ia juga pernah membuat alat pendeteksi waktu, yang ia persembahkan khusus untuk Amir Muhammad bin Abdurrahman. Alat ini diberi nama ‘al-Minqalah’ dan dapat dipakai untuk mengetahui waktu malam dan siang tanpa perlu ada tulisan atau gambar. Ia juga merupakan orang yang pertama kali menemukan cara pembuatan kaca dari batu, dan disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membuat kristal. Selain menemukan berbagai teknologi penting dalam dunia penerbangan, Ibnu Firnas juga sukses dalam menciptakan sebuah jam air yang dikenal dengan sebutan ‘Al-Maqata’. Tidak cuma itu, dia juga berhasil menciptakan gelas berwarna. Dalam bidang astronomi, Ibnu Firnas pun mampu menciptakan semacam rantai cincin untuk menjelaskan pola gerakan planet dan bintang.


Wafat

Abbas Ibnu Firnas wafat pada tahun 888, dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.

Walaupun percobaan terbang menggunakan sepasang sayap dari bulu dan rangka kayu tidak berhasil dengan sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.
Read More »

Sabtu, 18 Juni 2016

TOKOH TOKOH BESAR ILMUWAN ISLAM

0

Di dalam Islam, ada tiga pilar yang harus dikerjakan untuk menjadi manusia yang selalu bertaqwa dan berbudaya dengan baik. Yaitu, percaya kepada Allah, menggali ilmu (ilm), dan mencintai sesama manusia

Islam sering kali diberikan gambaran oleh orang-orang dan golongan yang tidak pernah mengenalnya sebagai agama yang mundur dan memundurkan.
Islam juga dikatakan tidak pernah menggalakkan umatnya untuk menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu pengetahhuan.
Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi justru bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.
Sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang keilmuwan.
Pada masa lalu dan memang sudah ajaran Islam, bahwa jika seseorang menemukan alat atau apapun yang belum ada manusia yang menciptakannya, maka wajiblah baginya untuk menyebarkan hasil temuannya itu. Menyebarkannya kepada umat manusia agar mereka semakin dapat mempermudah pekerjaannya dan menjadikan mereka semakin bersyukur kepada Allah.

Mereka tidak menuntut satu apapun, termasuk “hak paten” atau “upeti” lainnya akibat temuannya tersebut.
Dan dari orang-orang baratlah ilmu-ilmu itu kemudian dicuri, lalu dipatenkan atas nama mereka masing-masing untuk mencari keuntungan. Banyak sekali penemuan-penemuan dari kebudayaan Islam yang tak tercatat sejarah.
Misalkan, diantaranya adalah keilmuwan dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, astronomi dan sebagainya.
Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi mereka juga menguasai keilmuwan tersebut dalam masa yang singkat dan dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.

Pada abad ini, sebagian besar penemuan dalam bidang sains diklaim oleh ilmuwan-ilmuwan Barat (Eropa atau Amerika). Seringkali kita menemukan nama-nama ilmuwan seperti Galileo, Da Vinci, Copernicus, dan Newton di buku-buku teks standar dan atau ensiklopedia. Disadari atau tidak hal ini mengacu kepada kesimpulan bahwa kontribusi negara-negara lain terhadap sains masih kurang. Sangat sedikit buku yang merangkum perkembangan yang telah berhasil dicapai oleh bangsa India kuno, Cina, atau ilmuwan Muslim. Padahal, sebagian besar dasar sains ditemukan oleh bangsa non-Eropa atau Amerika. Contohnya, ilmu pengobatan Barat modern berasal dari ilmu pengobatan Islam.

Di bawah ini contoh beberapa penemuan yang ada di sekitar kita yang diklaim oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Realita merupakan penemuan-penemuan yang diklaim, sedangkan fakta merupakan penemuan asli dari penemuan yang diklaim.

1. Realita : Cermin kaca pertama kali diproduksi di Venesia pada tahun 1291.

Fakta : Cermin kaca digunakan oleh Islam Spanyol pada awal abad ke-11. Orang-orang Venesia mempelajari teknik pembuatannya dari seniman Syria pada abad ke-9 dan 10.

2. Realita : Pada abad ke-17, pendulum dikembangkan oleh Galileo selama masa remaja.

Fakta : Pendulum diketemukan Ibn Yunus al-Masri pada abad ke-10, orang yang pertama kali mempelajari dan mendokumentasikan gerakan osilasi. Kegunaannya pada am diperkenalkan oleh ahli fisika Muslim pada abad ke-15.

3. Realita : Studi Isaac Newton di abad ke-17 tentang lensa, cahaya, dan prisma menjadi dasar dari sains optik modern.

Fakta : Pada abad ke-11, al-Haytham mengemukakan hal yang diungkapkan Newton dan dijuluki oleh para ilmuwan sebagai “Bapak penemu optik”. Karya-karyanya digunakan dan dikuotasi oleh banyak pelajar Eropa pada bad ke-16 dan 17, melebihi kombinasi Newton dan Galileo.

4. Realita : Konsep dari karantina dikembangkan pertama kali di Venesia pada tahun 1403.

Fakta : Konsep dari karantina

5. Realita : Isaac Newton, pada abad ke-17, menemukan bahwa sinar putih terdiri dari campuran pancaran sinar berwarna-warni.

Fakta : Hal ini telah dikemukakan oleh al-Haytham pada abad ke-11 dan Kamal ad-Din pada abad ke-14.


6. Realita : Pada tahun 1614, ohn Napier menemukan logaritma dan tabel logaritmik.

Fakta : Matematikawan Muslim menemukan logaritma dan memproduksi tabel logaritmik beberapa abad sebelumnya, sekitar awal abad ke-13.

7. Realita : Selama abad ke-17, Rene Descartes menghasilkan penemuan bahwa aljabar dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah geometrikal.

Fakta : Matematikawan Islam menyelesaikan hal ini dengan sempurna pada awal abad ke-9. Orang yang pertama kali menemukanna adalah Thabit bin Qurrah.


8. Realita : Kompas ditemukan di Cina sekitar tahun 1000-1100 Masehi. Referensi awal penggunaan kompas untuk navigasi dilakukan oleh Alexander Neckam (1157-1217).

Fakta : Ahli geografi dan navigasi Islam adalah orang-orang yang menggunakan jarum magnet dalam navigasi untuk pertama kali. Mereka menemukan kompas dan menyebarkan ilmunya ke Barat. Neckam kemungkinan mempelajarinya dari pedagang Muslim.


9. Realita : Robert Boyle, pada abad ke-17, menemukan sains dari kimia.

Fakta : Beberapa ahli kimia Muslim, termasuk ar-Razi, al-Jabr, al-Biruni, dan al-Khindi, melakukan ekperimen-eksperimen sains 700 tahun sebelum Boyle. Durant menyatakan bahwa ilmuwan Muslim mengenalkan metode eksperimen dari sains ini. Humboldt menghargai ilmuwan Muslim sebagai penemu kimia.


10. Realita : Nicolas Desmarest mengemukakan formasi lembah secara geologis pada tahun 1756.

Fakta : Ibn Sina dn al-Biruni telah mengemukakan hal tersebut selama abad ke-11.


11. Realita : Paul Ehrlich (abad ke-19) adalah penemu dari obat kemoterapi, yaitu obat spesifik untuk membunuh mikroba.

Fakta : Ahli fisika Muslim telah menggunakan berbagai macam substansi spesifik untuk menghancurkan mikroba. ar-Razi (abad ke-10) menggunakan senyawa Merkuri sebagai antiseptik topikal. Diperkenalkan pertama kali pada abad ke-7 oleh Rasulullah SAW. yang secara biak memperingati untuk tidak memasuki atau meninggalkan daerah yang sedang terjangkit wabah.


12. Realita : William Harvey, selama abad ke-17, menemukan hal bahwa darah bersirkulasi. Dia pertama kali mendeskripsikan fungsi jantung, arteri, dan vena secara benar.

Fakta : Pada abad ke-10, ar-Razi menuliskan haisl penelitian tentang sistem vena, termasuk deskripsi fungsi vena dan katupnya. Ibn an-Nafs dan Ibn al-Quff (abad ke-13) menyediakan dokumentasi lengkap tentang sirkulasi darah dan mendeskripsikan fisiologi jantung dan fungsinya 300 tahun sebelum Harvey. William Harvey merupakan lulusan Universitas Padua di Italia yang pada masa itu kurikulumnya mengacu kepada textbooks yang ditulis oleh Ibn Sina dan ar-Razi.

(Sumber: http://www.missionislam.com/science/record.htm)


Selain beberapa fakta yang telah disebutkan, masih banyak lagi fakta-fakta tentang penemuan ilmuwan Muslim yang diklaim oleh ilmuwan Barat. Mengingat hal tersebut, tentunya kita sebagai Muslim generasi masa kini pun masih dapat berkontribusi. Fakta masa lalu mengatakan bahwa orang Muslim tidak ketinggalan dengan orang Barat, bahkan menjadi acuan. Namun, jangan terlena dengan kejayaan di masa lalu. Yang menjadi topik saat ini adalah “Apa yang bisa diberikan oleh Muslim generasi masa kini?”

Sebenarnya sangat besar potensi yang dimiliki oleh semua orang, masalahnya adalah bagaimana membangunkan potensi tersebut. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menanamkan keyakinan dan kepercayaan diri bahwa kita mampu. Kalau kepercayaan diri saja tidak ada, bagaimana dengan motivasinya? Setelah itu jangan lupa untuk terus memperbaiki diri. Mulailah mengatur diri, waktu, dan etos kerja kita. Mulai dari hal-hal kecil namun sering, hingga nantinya menjadi hal-hal besar.

Kreatifitas, keseimbangan antara otak kanan-kiri, keseimbangan jasmani dan rohani pun turut berperan penting. Selain otak kiri untuk berpikir matematis, otak kanan menjadi penting karena merupakan tempat ide-ide kreatif berkumpul. Yang diperlukan adalah kemauan untuk menarik potensi itu. Keseimbangan jasmani penting, karena jika kita sakit akan menghalangi aktivitas kita untuk berkontribusi. Keseimbangan rohani pun menjadi kunci utama yang dimiliki seorang Muslim, karena segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Tanpa iman, ilmu yang kita gunakan dapat saja menjadi bersifat destruktif. So, bagaimana dengan teman-teman? Sudah siap menjadi “The Next Muslim Scientist”?

Berikut Diantara Tokoh Tokoh Islam Yang berkontribusi besar pada Dunia, namaun nama nama besar mereka seolah dilupakan dunia.

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi / Ar-Razi (Tehran, 864-930)

Meneliti: demam, penyakit cacar, alergi asma, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi.
Atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930.
Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.
Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad.
Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar.
Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit Rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas.
Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.


Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham  / Alhazen (Basra, 965 – Kairo 1039)


Meneliti : sifat cahaya.
Dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat.
Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya dan yang berkaitan dengannya.
Ia telah memberikan ilham kepada ahli sains dari dunia barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Bidang lain: Physics, Optics, Mathematics.







Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi / Al Kindus

Filosofi, Matematika, Logika, Musik, Ilmu Kedokteran, ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno,
Dalam dunia barat dia dikenal dengan nama Al-Kindus. Memang sudah menjadi semacam adat kebiasaan orang barat pada masa lalu dengan melatinkan nama-nama orang terkemuka, sehingga kadang-kadang orang tidak mengetahui apakah orang tersebut muslim atau bukan.
Tetapi para sejarawan kita sendiri maupun barat mengetahui dari buku-buku yang ditinggalkan bahwa mereka adalah orang Islam, karena karya orisinil mereka dapat diketahui dalam bentuk tulisan ilmiah mereka sendiri.
Al Khindi  ahli adalah ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno. Al-Kindi adalah seorang filosof muslim dan ilmuwan sedang bidang disiplin ilmunya adalah: Filosofi, Matematika, Logika, Musik, Ilmu Kedokteran.

Ibnu Ismail Al Jazari 

adalah Ilmuwan Muslim Penemu Konsep Robotika Modern. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill). Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari. Beliau merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri, dengan nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari yang merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh Al-Jazari.
Abu Al-Qasim Az-Zahrawi,

dibarat dikenal dengan nama Abulcasis (Bapak Operasi Bedah Modern). Sang Penemu Gips Era Islam. Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era keKhilafahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini. Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur sebagai seorang Muslim yang taat.






Read More »

Senin, 25 April 2016

MUSA IBRAHIM AL-FARIZI

0
Bani Abbasiyah merupakan rezim berbasis dinasti yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132H (750 M) hingga 656 H (1258 M). Pada masa Bani Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Mulai dari bidang astronomi, kedokteran, kimia, matematika, dan filsafat. Di setiap bidang ilmu pengetahuan tentu saja ada tokoh yang mempeloporinya. Siapa saja tokoh itu? Berikut 5 ilmuwan pada masa Bani Abbasiyah yang paling berpengaruh:

1.      Musa Ibrahim Al-Fazari (796-806 M)
Definisi Astronomi
Dari Segi Bahasa dan Istilah :Astronomi dari segi bahasa etimologi membawa maksud peraturan bintang yang merupakan cabang sains yang melibatkan pembelajaran jasad cakerawala seperti bintang, planet, komet-komet, nebula, gugusan bintang dan galaksi yang menghasilkan fenomena-fenomena yang berasal dari luar atmosfera bumi. Astronomi adalah istilah yang berasal dari bahasa Inggeris astronomy merupakan perkataan Yunani, iaitu astro(star atau bintang) dan -nomy daripada nomos (law/culture/peraturan) membawa maksud peraturan bintang - "law of the stars". Selain itu, astronomi juga sering dikaitkan dengan astrofizik. 

Menurut Islam : Ilmu astronomi juga dikenali sebagai ilmu falak menurut Islam. Falak’ berasal daripada perkataan Arab, bermaksud bulatan langit, lengkung langit, cakerawala. ‘Ilmu’ pula juga berasal daripada perkataan Arab, bermaksud pengetahuan, kepandaian, kepakaran, keahlian, kemahiran, kebijaksanaan, kepintaran, pelajaran, pendidikan, seni, sains. Al-Quran menggunakan perkataan ‘falak’ yang ditafsirkan sebagai garis peredaran, atau sebutan kini ‘orbit’. 

 Beberapa tokoh dan sarjana Islam memberikan definisi kepada ilmu ini. Salah seorang daripadanya ialah As Shafa yang mendefinisikan ilmu astronomi ini sebagai ilmu untuk mempelajari suria, bintang, buruj, jarak, saiz dan gerakan jasad-jasad. Di samping itu, tokoh sarjana Islam yang turut mendefinisikan ilmu astronomi atau ilmu falak ini adalah Ibnu Khaldun. Beliau mendefinisikan ilmu astronomi adalah ilmu yang berkaitan dengan gerakan dan peredaran bintang-bintang yang tetap. Dari gerakan dan peredaran bintang ini dapat diketahui bentuk dan kedudukannya melalui hitungan gerakannya yang dapat dilihat dengan cara metrik. 

Astronomi di dalam Al-Quran
Al-Quran telah menjelaskan bahawa seluruh kandungan alam semesta penuh dengan tanda-tanda kekuasaan Allah, dan hanya manusia yang berilmu sahaja yang dapat mengamati dan memahaminya. Astronomi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah-masalah ibadah seharian dalam Islam. Perkara ini diterangkan dengan terperinci di dalam ilmu falak syarie. Ilmu ini menjelaskan tentang kemajmukan langit dan bumi dan juga merupakan salah satu ilmu yang tertua daripada semua ilmu pengetahuan alam. 

Al-Quran memberikan perhatian khusus terhadap ilmu Astronomi. Banyak ayat-ayat al-Quran menceritakan perihal Astronomi. Ia memberi ruang kepada manusia untuk menghayati kebesaran Allah yang jelas terbukti dari wujudnya bintang-bintang, planet-planet, matahari dan bulan dengan segala bentuk dan sifatnya. 

Terdapat beberapa potongan ayat Al-Quran yang menceritakan berkaitan keindahan ilmu astronomi :
• Al-Quran menuntut manusia supaya memerhati langit, firman Allah Subhanahu wa ta’ala . dalam surah Qaaf; ayat ke 6 :

 Maka tidakkah mereka memandang ke langit yang ada di sebelah atas mereka, bagaimana kami membinanya (dengan rapi) serta Kami menghiaskannya (dengan bintang-bintang) dan dengan keadaan tidak ada padanya retak renggan sedikit pun?. 

Penciptaan Langit Sebagai Satu Entiti :
Keserasian dan kesempurnaan ciptaan Allah menurut al-Quran adalah sebagai lambang bagi tanda-tanda kekuasaan Allah, sesuai dengan firmannya dalam beberapa surah mengenai ciptaan 7 lapisan langit. Angka 7 tersebut merupakan suatu angka yang simbolik. 
Maksud firman berikut menerangkan parihal penciptaan langit:

• Surah al-Mulk; ayat 3-4:
 “Dialah yang telah mengaturkan kejadian tujuh petala langit yang berlapis-lapis, engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah yang maha Pemurah itu sebarang keadaan yang tidak seimbang dan tidak munasabah: (jika engkau ragu-ragu) maka ulangilah pandangan (mu).. dapatkah engkau melihat sebarang kecacatan?”
• Surah al-Baqarah; ayat ke 29:
 “Dialah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi, kemudian Ia menuju dengan kehendakNya ke arah (bahan-bahan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit dengan sempurna, dan Ia maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. ”

BIODATA Ibrahim al-Fazari al-Munajjam

Ibrahim al-Fazari al-Munajjam merupakan tokoh yang hebat dalam bidang astronomi dan matematik yang paling awal di dalam dunia Islam. Nama sebenar beliau ialah Abu Abdallah Muhammad ibn Ibrahim ibn Habib al-Fazari. Ayahnya bernama Ibrahim Al-Fazari yang juga merupakan seorang tokoh astronomi dan matematik yang terkenal. Al-Farazi menetap serta berkarya di Baghdad, Irak, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah. 

Muhammad bin Ibrahim al-Fazari bersama ayahnya, Ibrahim al fazari, merupakan seorang ahli matematik dan astronomi di istana khalifah Abbasiyah, di era khalifah Harun al-Rasyid. Ia menyusun berbagai jenis penulisan astronomi. 

SUMBANGAN Ibrahim al-Fazari al-Munajjam
Sepanjang kebersamaannya dengan Ya’qub ibn Thariq dan ayahnya, beliau membantu menterjemahkan teks astronomi India oleh Brahma gupta (abad 7 M), Brahma Sphuta Siddhanta, ke dalam bahasa Arab sebagai Kitab al-Zij `Ala Sini al-`Arab (Tabel Astronomi Berdasarkan Penanggalan Bangsa Arab) atau kitab Sindhind. Buku Zīj al-sindhind adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kiraan kalender astronomi dan 116 tabel dengan kalender, astronomi dan data astrologi sebaik data yang diakui sekarang. 

Kitab ini dipersembahkan oleh Mauka seorang ahli ilmu bintang yang didatangkan dari India. Buku ini menjadi panduan utama kepada orang-orang Arab dalam pengkajian ilmu falak hingga ke zaman al-Makmun. Buku terjemahan al-Fazari itu telah disalin sebahagiannya ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis. Buku terjemahan itu telah dipergunakan oleh Universiti Eropah untuk mengajar ilmu bintang. Dari sinilah orang-orang Barat mula mengetahui benda-benda di cakerawala. 

Menurut Ehsan Masood, penterjemahan Sindhind sangat berharga. Bukan hanya kerana wawasan astronominya tapi juga sistem penomboran India, Kalpa Aharganas dengan pengiraan tahun Hijrah Arab. Al Fazari menunaikan tugas dengan baik. Ungkap Ehsan Masood dalam bukunya "Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern", saat itu telah menguasai astronomi sehingga di bawah arahan khalifah langsung beliau mampu menerjemahkan dan menyadur teks astronomi India kuno yang sangat teknis tersebut. Selain itu, karya al Farazi telah mencantumkan daftar negara-negara di dunia dan dimensinya berdasarkan perhitungan tabel. Hasil kerja Al Farazi melalui penterjemahan mengenalkan sistem penomboran tersebut ke dunia Arab. 

Sehubungan itu, al-Fazari juga telah menghasilkan buku-buku panduan yang lain dalam membantu ahli falak dalam usaha mempertingkatkan kajian bidang astronomi. Antara buku ilmiah dalam bidang astronomi hasil beliau selain Kitab al-Zij `Ala Sini al-`Arab adalah Kitab al-Qasidah Fi ‘Ilm al-Nujum dan Kitab al-Miqyas lil Ziwal. Seterusnya, beliau turut menghasilkan jadual-jadual yang sayngat berguna dalam bidang ilmu falak. 

Di samping itu, Al-Fazari menerjemahkan beberapa literatur asing ke dalam bahasa Arab dan Persia. Bersama dengan beberapa cendekiawan lain seperti Naubakht, dan Umar ibnu al-Farrukhan al-Tabari, beliau telah meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan di dunia Islam. Antara ciptaan beliau yang paling terkenal di zaman teknologi Islam ialah Astrolab. 

ASTROLAB
Astrolab planisferis merupakan mesin menghitung analog pertama, difungsikan sebagai alat membantu astronomi untuk menghitung waktu terbit dan tenggelam serta titik kedudukan matahari dan bintang serta benda langit lainnya pada waktu tertentu. Astrolab menjadi instrument paling penting yang pernah dibuat. Astrolab menjadi instrument dalam penentu posisi pada pertengahan abad. 

Astrolab merupakan model alam semesta yang boleh digenggam sekaligus jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang. Chaucer dalam “Treatise in the Astrolabe” menyatakan bahawa Astrolab kemudian menjadi alat navigasi utama, hanya dalam beberapa bulan setelah ditemukan Astrolab oleh Al Farazi, kemajuan astronomi meningkat cepat. 
Selain daripada itu, astrolab memainkan peranan penting dalam pencapaian bidang astronomi oleh umat Muslim. Seorang astronomer bernama al Sufi berhasil memanfaatkannya dengan baik. Al Sufi mampu menghasilkan astrolab yang berfungsi dalam pelbagai bidang yang berbeza seperti astronomi dan astrologi. Ianya dapat digunakan termasuk meramalkan kedudukan matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang. Dalam dunia Islam, astrolab digunakan untuk menentukan waktu matahari terbit dan naik dari bintang-bintang, dalam membantu menentukan arah kiblat dan mengenal pasti jadual solat. 

Pada abad ke-13, karya ini ditemukan kembali oleh penjelajah dan ahli geografi Muslim bernama Yaqut al-Hamawi dan al-Safadi. Keghairahan dan kemahuan para sarjana Muslim belajar daripada tradisi ilmu lain serta sokongan penuh dari pemerintahan menjadi kunci keberhasilan dalam memajukan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Antara astrolab bertarikh terawal yang masih bertahan bertarikh 315H (927/8 M). 

CADANGAN DAN KESIMPULAN
Rumusan daripada keseluruhan tajuk Abu Abdallah Muhammad ibn Ibrahim ibn Habib al-Fazari, terdapat beberapa pengajaran yang boleh diperolehi melalui kisah - kisah beliau. Antaranya, kita dapat memahami konsep perjuangan Islam yang sebenar. Jika ada yang menganggap perjuangan Islam adalah peperangan semata-mata, maka menjadi tugas kita untuk memperbetulkan salah faham itu bahawa pada hakikatnya peperangan hanyalah bentuk jihad yang diwajibkan untuk mempertahankan diri dan maruah dalam keadaan dizalimi, dimusuhi atau dihalangi daripada berdakwah. Oleh itu, perjuangan Islam umat Islam juga perlu memahami konsep jihad dalam pengertian yang luas dan tepat. 

Jika kita menghayati betul-betul kisah atau sirah dari tokoh Islam yang hebat ini ilmu juga termasuk dalam katogeri jihad. Hal ini kerana, ilmu sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Dengan mementingkan, seseorang itu dapat menyelamatkan diri dari bahaya dan khianat manusia selain dapat menyenangkan urusan kehidupan seharian. Contoh tokoh yang boleh kita jadikan idol selain Rasulullah ialah Ibrahim al-Fazari al-Munajjam. 

Beliau adalah tokoh Islam yang sangat mementingkan ilmu. Dengan berkat ilmu beliau, beliau berjaya mencipta alat yang memudahkan urusan kehidupan seharian. Antaranya, astrolab. Kegunaan astrolab adalah untuk menghitung waktu terbit dan tenggelam matahari serta titik kedudukan matahari dan bintang serta benda langit lainnya pada waktu tertentu. Di samping itu, kegunaan lain astrolab dalam dunia Islam ialah untuk menentukan waktu matahari terbit dan naik dari bintang-bintang, dalam membantu membuat jadual solat. 

Seterusnya, beliau juga berjaya menjalankan tugas dengan baik apabila beliau dapat menterjemah kitab Sindhind ke dalam bahasa Arab Az-Zij ‛ala Sini al-‛Arab(Tables of the disks of the astrolabe) yang dipersembahkan oleh Mauka seorang ahli ilmu bintang yang didatangkan dari India. Buku ini menjadi panduan utama kepada orang-orang Arab dalam pengkajian ilmu falak hingga ke zaman al-Makmun. Selain daripada kitab Sindhind, beliau turut menghasilkan beberapa buku panduan berkaitan ilmu astronomi bagi rujukan para umat manusia iaitu Kitab al-Qasidah Fi ‘Ilm al-Nujum dan Kitab al-Miqyas lil Ziwal. 

Jika kita amati betul-betul kisah mengenai tokoh ini, astronomi memberi ruang kepada para penyelidik dan ilmuan yang mendalaminya bagi meningkatkan darjah keimanan. Para tokoh dan sarjana Islam terdahulu, menggunakan kelebihan ilmu yang mereka ada dengan mencipta sesuatu benda bagi memudahkan umat manusia. Akan tetapi, saintis atau paling tepat sekali orang-orang yang bijaksana pada zaman sekarang kebanyakan menggunakan kelebihan yang mereka ada untuk mencipta sesuatu benda hanyalah semata-mata demi mendapat pujian daripada makhluk Allah atau ada di antara mereka yang mencipta benda-benda canggih kerana ingin menjatuhkan sesuatu umat manusia yang lain. Hal ini menunjukkan bahawa umat manusia zaman sekarang kurang sifat kasih sayang sesama umat dan mempunyai sifat tamak yang menguasai diri. 

Akhir sekali, orang Islam seharusnya berganding bahu memulihkan imej mereka di mata dunia dan mampu pula menjadikan mereka umat yang terbaik. Dengan segala kekayaan yang ada pada bumi Islam, orang Islam mampu untuk berusaha dan bekerjasama untuk menghasilkan teknologi yang diperlukan. Oleh itu, orang Islam perlu kembali sepenuhnya kepada ajaran Islam yang murni tersebut. Islam sangat menekankan supaya kebesaran Allah itu dapat dihayati dengan memerhati dan mengkaji alam ini. Akhir sekali, marilah kita bersama-sama berjihad ke jalan Allah untuk menegakkan agama Islam dan untuk memelihara kesucian agama Islam. 

BIBLIOGRAFI

1. Masood, E. (2015). Science and Islam. London: Bloomsbury Academic
2. Al-Quran, Y. P. Al-Quran dan Terjemahan Rasm Uthmani. Jakarta. 
3. Rahman, S. A. (2011). 25 Cendekiawan Islam oleh Shafie Abdul Rahman. Kuala Lumpur: Must Read Sdn Bhd. 


Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
013-400-6206, 011-1070-4212

Nah, terbukti bahwa ternyata Islam juga kaya dengan ilmuwan-ilmuwan muslim yang tidak hanya berpengaruh di dunia Timur tapi juga di dunia Barat. Bahkan penemuan-penemuan para ilmuwan muslim tersebut masih menjadi sumber rujukan ilmu pengetahuan di masing-masing bidang sampai sekarang. Ayo, para pemuda-pemudi muslim jangan mau kalah dengan ilmuwan zaman dahulu yang sangat hebat dan masyhur itu, loh.
Read More »

Jumat, 22 April 2016

IBNU SINA ( Bapak Kedokteran Modern )

0
Siapa yang tidak mengenal sosok Ibnu Sina. Seorang ulama dengan kegemilangan prestasi dan sejumlah karya. Dia dikenal dengan sebutan Avicenna di dunia Barat. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya. Ingin tahu sosok Ibnu Sina seperti apa? Ada 5 Fakta Menarik dari diri beliau, Simak 5 fakta menarik mengenai Ibnu Sina berikut:
 
1. Usia belia yang cemerlang
Ibnu Sina sudah menjadi penghafal Alquran sebelum usia 10 tahun. Ia juga tertarik dengan hakikat dan memahami metafisika serta semua filsafat Aristoteles di usia belia, 8 tahun. Di usia yang sama pula atas inisiatif sendiri ia membeli buku tafsir metafisika Aristoteles karya Al-Farabi seharga 3 dirham. Buku tersebut kemudian sangat memengaruhi kehidupannya. Kecerdasannya sangat terlihat sejak ia masih usia belia. Dan memang tanda-tanda sifat kecintaannya pada ilmu telah terlihat sejak usia muda.

2. Pakar berbagai bidang ilmu
Ibnu Sina juga dikenal dengan kepakarannya dalam berbagai bidang ilmu. Di bidang kedokteran, Ibnu Sina telah membahas kanker, tumor, diabetes dan efek palcebo pada materpiece-nya “Al-Qanun fi al-Tibb” (The Canon of Medicine). Di bidang psikologi, Ibnu Sina adalah pelopor psikofisiologi, psiokomatik dan neuropsikiatri. Ketertarikan ini membuatnya menulis banyak jurnal tentang psikologi dan psikiatri, jauh sebelum Carl Jung dan Sigmund Freud.

Beberapa penyakit psikologi telah ia bahas seperti halusinasi, insomnia, demenia, vertigo dan lainnya. Di bidang fisika, Ibnu Sina adalah penemu termometer dan ia selalu menggunakan alat itu di setiap penelitiannya untuk mengukur suhu udara sekitar. Di bidang kimia, Ibnu Sina menemukan teknik destilasi uap untuk mengekstrak minyak Atsiri dari herbal dan rempah-rempah. Di bidang mekanika, ia telah menjelaskan teori momentum dan inersia. Dan masih banyak bidang kelilmuan yang dipakarinya.

3. Sifat  workaholic
Ibnu Sina disebut-sebut sangat workaholic (berkerja tak kenal waktu). Ia menghabiskan sepanjang siangnya melakukan penelitian di laboratorium, mengajar atau menangani pasien. Di malam hari ia akan belajar dan menulis buku atau jurnal. Sekretarisnya, Al Jauzakani, bahkan menyatakan Avicenna meninggal akibat kelelahan. ak jarang kebiasaan ini membuat teman-temannya mengkhawatirkan kesehatannya dan berusaha mengingatkan melalui teguran. Tanggapannya? “Lebih baik aku berusia pendek namun penuh makna dan karya daripada diberi umur panjang yang hampa,” begitu jawabnya. Karena sifat workaholic dan mindset-nya yang mendahulukan ilmu atas segalanya, Ibnu Sina tidak pernah menikah seumur hidupnya.

4. Pecinta ilmu
Di usia yang masih terbilang remaja, yaitu 18 tahun, Ibnu Sina telah memiliki reputasi sebagai ilmuwan fisika. Pencapaian dan kredibilitas tersebut tentunya hanya mungkin diraih dengan kecintaan pada ilmu. Tidak diragukan lagi, Avicenna memang sangat mencintai ilmu. Saat disodori pilihan antara uang dan ilmu, ia tidak menemui kesulitan untuk menentukan pilihan. Hal itu tercermin ketika sebelum menetap di Gorgan, Ibnu Sina menyembuhkan Pangeran Mansur dan diberi pilihan sebagai imbalan. Sebelumnya dokter di daerah tersebut menyerah hingga akhirnya sang pangeran sembuh di tangannya. Pangeran yang berlimpah harta kekayaan itu pun menawarinya uang, tanah hingga istana. Tapi Ibnu Sina ternyata memilih diberi waktu untuk tinggal di perpustakaan milik sang pangeran selama beberapa hari untuk melahap ilmu dari koleksi buku-bukunya.

5. Di penjara tetap berkarya
Banyak karya besar terlahir dari balik jeruji penjara. Ternyata hal ini juga dialami oleh Ibnu Sina. Ibnu Sina pernah dipenjara 4 bulan karena fitnah lawan-lawan politiknya. Sebelumnya, ia memang pernah menjabat sebentar di pemerintahan dan karena kinerjanya sangat bagus, banyak yang tidak menyukainya. Namun meski hidup di balik terali besi, Ibnu Sina tidak kehilangan energinya. Sebaliknya ia menjadi sangat produktif. Siang-malam dihabiskannya untuk menulis.

Salah satu karyanya di masa itu adalah sebuah buku yang kemudian menjadi masterpiece sepanjang masa. Asy-Syifa, buku yang dimaksud membahas banyak cabang ilmu. Mulai dari metafisika, geometri, musik, medis, sampai fisika. Ketika akhirnya dibebaskan ia memutuskan bahwa politik bukan tempatnya. Demi sebuah pencerahan, Ibnu Sina pun mengembara hanya berbekal pakaian yang melekat di badan, sedikit uang, dan setumpuk buku.



Biografi Ibnu Sina

Biografi Ibnu Sina

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā. Ibnu Sina lahir pada 980 M di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia). Ia berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Orang tuanya adalah seorang pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Ia dibesarkan di Bukharaja serta belajar falsafah dan ilmu-ilmu agama Islam.

Saat berusia 10 tahun dia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur'an. Ia dibimbing oleh Abu Abdellah Natili, dalam mempelajari ilmu logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Prophyry, Eucliddan Al-Magest Ptolemus. Setelah itu dia juga mendalami ilmu agama dan Metaphysics Plato dan Arsitoteles.

Suatu ketika dia mengalami masalah saat belajar ilmu Metaphysics dari Arisstoteles. Empat Puluh kali dia membacanya sampai hafal setiap kata yang tertulis dalam buku tersebut, namun dia tidak dapat mengerti artinya. Sampai suatu hari setelah dia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870 - 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala ilmu Metaphysics.

Setelah berhasil mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina merasa tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran. Ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya. Meskipun secara teori dia belum matang, tetapi ia banyak melakukan keberhasilan dalam mengobati orang-orang sakit. Setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, maka didalam tidurnya Allah memberikan pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya.

Suatu ketika saat Amir Nuh Bin Nasr sedang menderita sakit keras. Mendengar tentang kehebatan yang dimiliki oleh Ibnu Sina, akhirnya dia diminta datang ke Istana untuk mengobati Amir Nuh Bin Nasr sehingga kesehatannya pulih kembali. Sejak itu, Ibnu Sina menjadi akrab dengan Amir Nuh Bin Nasr yang mempunyai sebuah perpustakaan yang mempunyai koleksi buku yang sangan lengkap di daerah itu. Sehingga membuat Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istana yang terlengkap yaitu Kutub Khana. 

Berkat perpustakaan tersebut, Ibnu Sina mendapatkan banyak ilmu pengetahuan untuk bahan-bahan penemuannya. Pada suatu hari perpustakaan tersebut terbakar dan orang-orang setempat menuduh Ibnu Sina bahwa dirinya sengaja membakar perpustakaan tersebut, dengan alasan agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.

Ibnu Sina lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. 

Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Pada zaman Dinasti Samayid dibagian timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Saat berusia 22 tahun, ayah Ibnu Sina meninggal dunia. Pemerintahan Samanid menuju keruntuhan. Masalah yang terjadi dalam pemerintahan tersebut akhirnya membuatnya harus meninggalkan Bukhara. Pertama ia pindah ke Gurganj, ia tinggal selama 10 tahun di Gurganj. Kemudia ia pindah dari Gurganj ke Nasa, kemudian pindah lagi ke Baward, dan terus berpindah-pindah tempat untuk mempelajari ilmu baru dan mengamalkannya.

Shams al-Ma’äli Qäbtis, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibnu Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ia sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, ia bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri di mana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini, dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.



Biografi Ibnu Sina

Kemampuan Dalam Bidang Kedokteran dan Filsafat

Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit Thibb, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis. Kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam.

Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang masih belum terjawab sebelumnya. Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. 

Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filsafat besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.


Karya-karya dari Ibnu Sina
Karya yang ditulis oleh Ibnu Sina diperkiranan antara 100 sampai 250 buah judul. Karya-karya Ibnu Sina yang terkenal dalam Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat, dan Al-Isyarat. Karyanya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun. Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar biasa. Selain itu, ia banyak menulis karangan-karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Beberapa Karyanya diantara lain :

  1. Al-Qanun fi Thib (aturan pengobatan)
  2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  3. Al-Inshaf (buku tentang keadilan sejati)
  4. An-Najah (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
  5. Al-Musiqa (Buku tentang musik)
  6. dan sebagainya.

Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :
  1. Hayy ibn Yaqzhan
  2. Risalah Ath-Thair
  3. Risalah fi Sirr Al-Qadar
  4. Risalah fi Al- 'Isyq
  5. Tahshil As-Sa'adah

Beberapa karya puisinya yaitu :
  1. Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
  2. Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
  3. Al-Qasidah Al- 'Ainiyyah

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina memperoleh penghargaan yang tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filsafat besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. Kehidupan Ibnu Sina dihabiskan untuk urusan negara dan menulis. Pada usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.
Read More »

Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan ( Bapak Kimia Modern )

0
Dengan mengenal biography Ilmuwan ilmuwan Islam semoga menjadi semangat, buat Pelajar-Pelajar dan santriwan-wati semuanya khususnya santriwan-wati Ponpes Hidayatus Saalikin Pembuang Hulu-Hanau-Seruyan, untuk lebih semangat buat belajar, dan memaknai pentingnya "Iman Dan Ilmu" yang akan mengangkat keutamaan atau derajat seseorang, dan tentunya membawa nama harum Dienul Islam

Ilmu kimia yang dewasa ini berkembang sangat pesat dan dikenal banyak orang tidak banyak diketahui siapa sejatinya orang pertama yang menemukan teori-teori pengembangan ilmu eksakta tersebut. Adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia.

Jabir Ibnu hayyan ahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (sekarang di Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai ‘syuhada’ demi penyebaran ajaran Islam. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Saddiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak hanya mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. “Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia,” tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.

Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masa-masa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.
Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “.
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Teori Jabir
Pada perkembangan berikutnya, Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua ‘technique’ kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Jabir Ibnu Hayyan-lah ilmuwan pertama yang mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, pelarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sampai awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat dan bahkan metode eksprimentalnya diklaim oleh Francis Bacon yang hidup 900 tahun sesudahnya.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadlu’ dan berkepribadian mengagumkan. “Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar,” tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.
Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai ‘Bapak Ilmu Kimia Modern’ oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibnu Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan) .

Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfecdonis.
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: “Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.”

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:
1.Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
2.Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
3.Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.
Sampai abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia –termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al Sab’een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Sementara buku kedua Kitab Al Sab’een, diterjemahkan oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). “Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia,” tulis George Sarton. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas ‘berterima kasih’ kepada Jabir Ibnu Hayyan.

 https://en.wikipedia.org/wiki/Jabir_ibn_Hayyan
Dari Berbagai sumber
Read More »

PENERIMAAN SISWA BARU

Yayasan Pendidikan Dan Sosial Pondok Pesantren Menerima Pendaftaran Siswa Baru Mulai Pertengahan Mei 2016, Untuk Tahun Ajaran 2016-2017 Jenjang Pendidikan : SMP Berbasis Pesantren Hidayatus Saalikin, Madrasah Aliyah Juga Umum ( SMK-SMA) Dengan ketentuan mentaati dan patuh pada tata tertib Pondok Pesantren...... BACA SELENGKAPNYA